Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Apa Alvaro?


__ADS_3

Setelah di skorsing selama satu minggu kini Alfaro telah kembali ke sekolah. Laki laki itu tidak merubah penampilannya, bajunya yang masih keluar serta tidak mempunyai atribut yang lengkap lebih tepatnya dia tidak mengenakan atribut nya.


Alvaro memasuki kelas dia sudah melihat sosok gadis dengan rambut Sebahu sedang menulis di atas papan tulis.


Mentari yang melihat Alvaro Berhenti menulis di papan tulis. Dia melirik Alvaro lalu menyimpan spidol yang dia pakai di atas meja guru.


Alvaro masih berdiam diri di ambang pintu dengan mengamati mentari. Alvaro masih mengingat kejadian waktu malam minggu di tempat dangsa di mana dia Melakukan tindakan yang membuat mentari menangis.


Alvaro berfikir jika mentari belum mengetahui jika dirinyalah yang semalam.


“Ngapain di situ?” Tanya mentari kepada Alvaro karena cowo itu belum juga masuk ke dalam kelas. Untung saja guru belum masuk mengajar sehingga mentari yang menulis di atas papan tulis.


Mentari memperhatikan wajah Alvaro, sudut bibir cowok itu terluka. Seperti luka baru yang dia dapatkan. Mentari berpikir, apakah cowok itu sudah berkelahi lagi? Tapi sama siapa?


Alvaro tidak menjawab pertanyaan mentari dia langsung masuk ke dalam kelas setelah bertatapan dengan mentari sejenak.


Alvaro melewati mentari membuat mentari meneguk salivanya susah susah payah. Wangi Alvaro membuatnya teringat dengan kejadian di tempat dangsa.


Wangi Mint Alvaro sangat familiar.


Mentari menatap punggung Alvaro yang sudah duduk di bangkunya, tiba-tiba saja di teringat dengan laki-laki yang mengenakan topeng saat dia berdangsa dan berhasil mengambil ciuman pertamanya.


Mentari menggelengkan kepalnya guna menghilangkan pikirannya yang memikirkan Alvaro adalah cowok yang mengenakan topeng yang mencium dirinya.


“Tar,” tiba-tiba Agas memanggil Mentari membuat gadis itu tersentak kaget.


“Agas,” geram Mentari sembari mengusap dadanya akibat terkejut karna tiba-tiba saja Agas memanggilnya.


Agas terkekeh. “Ngapain lo di ambang pintu? Emangnya guru yang ngajar belum masuk?” Tanya Mentari kepada Agas.


“Lagian, lo ngapain menghayal,” lanjutnya.


“Kayaknya guru yang ngajar hari ini lambat, gue cuman mikirin hidup heheh,” jawab Agas membuat Mentari tersenyum.


“Yaudah kamu masuk, nggak baik di depan pintu kelas,” peringat Mentari dan dibalas anggukan kepala oleh Agas.


“Semangat belajarnya,” kata Agas mengepalkan tanganya keatas memberikan semangat kepada Menatari.

__ADS_1


Mentari tersenyum kearah Agas. “Lo juga semangat belajarnya, jangan cuman main game doang,” kata Mentari membuat Agas menganguk mengerti.


Mentari telah usai menulis materi diatas papan tulis karna kemungkinan besar guru yang mengajarnya hari ini tidak masuk.


Mentari melirik Alvaro yang sedang menidurkan kepalnya diatas meja, tanpa berniat menulis materi yang di tulis Mentari.


Mentari sibuk memperhatikan Alvaro yang memejamkan matanya dengan kepalanya diatas meja.


Tiba-tiba saja mata Alvaro terbuka sehingga matanya yang tajam serta bulu matanya yang lentik menatap kearah Mentari karna gadis itu sedang memperhatikan dirinya.


Deg


Jantung Mentari berdetak saat matanya bertemu dengan mata tajam milik Alvaro yang indah.


Dia seperti seorang pencuri yang ketahuan di tatap Alvaro. Dia tercyduk karna terang-terangan menatap Alvaro dari kursinya.


Mentari langsung mengalihkan pandanganya dari Alvaro, dia sangat malu di tatap begitu dalam oleh Alvaro.


Alvaro kembali memejamkan matanya, karna dia sangat mengantuk pagi ini, dia sangat letih. Bukan hanya fisiknya yang sakit melainkan mental dan batinya juga.


Mentari, Dia masih memikirkan sosok cowok yang menciumnya saat di pesta dansa.


Bagaiamana tidak, jika sesuatu yang dia jaga selama ini dengan gampangnya di hembat oleh sosok cowok asing yang tidak ketahui bagaiamana bentuk rupa cowok itu.


Huft


Mentari menghembuskan nafasnya berat, hari ini dia tidak konsentrasi menerima pelajaran di hadapannya.


“Tar,” panggil salah satu teman sekelas Mentari yang melihat Mentari sedang memikirkan sesuatu.


Mentari mendongakkan kepalanya. Rupanya yang memanggilnya adalah teman yang baru saja akrab denganya.


“Kenapa?” Tanya Mentari kepada Tamara.


Tamara menggeser kursi dekat Mentari lalu duduk di dekat gadis itu. “Lo mikirin apa? Sepertinya lo punya banyak beban pikiran,” kata Tamara kepada Mentari.


“Kita kan udah temenan, boleh lah lo share masalah lo. Siapa lo legah saat udah cerita, dan siapa tau aja gue bisa bantu,” kata Tamara lagi membuat Mentari tersenyum tipis.

__ADS_1


Mentari bingung, dia mau cerita apa tidak kepada Tamara mengenai ini. Mungkin bagi orang lain hal yang dia alami hanya masalah kecil saja namun tidak dengan sosok Mentari.


Apa lagi dia tau jika gadis tomboy di hadapnya menyukai cowok yang mengenakan topeng yang telah mencium dirinya.


“Gue cuman sakit kepala, karna acara waktu malam minggu,” bohong Mentari dan dibalas anggukan kepala oleh Tamara. Meski Tamara tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang di katakan oleh Mentari.


Cowok yang mengenakan kacamata menghampiri mereka.


“Ngobrol nggak ngajak-ngajak!“ kesal Dado kepada Mentari dan juga Tamara.


Tamara memutar bola matanya malas. “Lo nggak termasuk!” terang Tamara membuat Dado semakin kesal.


“Kalian udah nulis materi yang di atas?” Peringat Mentari kepada kedua teman yang baru akrab denganya.


“Udah!” jawab mereka berdua secara bersamaan.


“Kalau lo?” Tanya Tamara sembari melihat buku Mentari hanya menulis beberapa baris saja.


“Gue nggak mood buat nulis hari ini. Kalau boleh gue pinjam buku lo buat entar malam gue catat,” kata Mentari sembari melihat Tamara.


“Ok,” balas Tamara.


Jam istirahat berbunyi. Murid-murid kelas MIPA telah keluar kelas untuk ke kantin mengisi perutnya yang kosong.


“Lo nggak ke kantin?” Tanya Tamara kepada Mentari.


Mentari menggelengkan kepalanya.


“Kenapa?” Tanya Dado karna Mentari tidak ingin ke kantin.


“Gue nggak lapar, kalau kalian mau ke kantin duluan aja,” kata Mentari.


“Oh Yaudah. Kita berdua duluan,” pamit Tamara lalu melenggang pergi dari kelas bersama dengan Dado.


Mentari menyandarkan kepalanya di kursi.


Mentari kembali melirik kearah bangku Alvaro, cowok itu masih seperti di posisi tadi menyimpan kepalanya diatas meja sembari memejamkan matanya.

__ADS_1


Mentari mengarahkan pandanganya di penjuru kelas. Rupanya hanya dia saja dan Alvaro di dalam kelas sementara teman kelasnya yang lain sudah meninggalkan kelas.


“Ke kantin yuk,” tiba-tiba saja Agas berada di dekat Mentari.


__ADS_2