Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Rasa yang berbeda


__ADS_3

Seseorang yang menggunakan motor sport berwarna merah melepaskan helm fullfacenya. Dan nampaklah wajah tampan milik Agas.


Yah, cowok yang membunyikan klakson motor hingga membuat Mentari terkejut adalah sosok Agas.


Manik mata Agas dan Alvaro saling bertatapan membuat Agas tersenyum simpul kearah cowok berwatak dingin tersebut.


"Ternyata lo mau dengerin apa yang gue bilang." Saat Alvaro mengantar Mentari pulang, dibelakang mereka ada Agas yang mengikutinya.


Alvaro menatap Agas dengan tatapan tajamnya. "Gue lakuiin itu semua bukan karna perintah lo." Alvaro berkata dengan dingin seraya menatap Agas yang masih belum turun dari motornya. "Gue Alvaro nggak bakalan mendengarkan kata-kata siapapun, termasuk lo!" Alvaro langsung memasang helm fullfacenya lalu menjalankan motornya meninggalkan pekarangan rumah minimalis Mentari.


Mentari langsung meneguk salivanya susah payah, ini pertama kalinya dia melihat sosok Alvaro berbicara sedikit panjang dari biasanya.


"Gas," panggil Mentari membuat Agas turun dari motornya.


"Lo ngikutin kita?" tanya Mentari dan dibalas anggukan kepala oleh Agas sembari menyimpan helmnya diatas motor.


"Kenapa?"


"Apanya yang kenapa?" tanya balik Agas.


"Kenapa cepet kerumah. Acaranya masih entar malam 'kan," kata Mentari dan dibalas senyuman simpul oleh Agas.


"Gue mau bantuin lo di kedai. Biar kerjanya cepat kelar," terang Agas kepada Mentari yang masih mengenakan baju sekolah sama seperti dirinya.


"Tap_"


"Lo mau sebentar malam nggak pergi karna pekerjaan lo belum kelar? Apa lagi entar malam, malam Minggu. Udah waktunya rame," belum sempat Mentari menyelesaikan perkataannya, Agas lebih dulu memotongnya.


"Nggak enak gue sama lo, ngerepotin mulu," keluh Mentari kepada Agas.


"Gue nggak pernah merasa direpotin dengan orang yang gue sayang. Bahkan gue lebih senang kalau lo repotin gue," kata Agas dengan senyuman simpul membuat Mentari menggelengkan kepalanya. Kenapa pula Agas suka direpotkan?


"Gas."


"Yaudah sana, lo ganti baju baru kita ke kedai," kata Agas sebelum gadis itu membantah perkataannya lagi.


"Nggak ada bantahan, Tar," lanjut Agas lagi membuat Mentari terpaksa masuk kedalam rumah untuk segera mengganti pakaiannya untuk segera ke kedai.


Sementara Agas? Dia menggunakan baju kaos berwarna hitam tinggal baju sekolahnya saja dia lepas sementara dia mengenakan celana SMA. Wangi cowok itu sangatlah kentara, meskipun dia sudah berada disekolah berjam-jam lamanya, namun dia tetap wangi.

__ADS_1


Mentari menutup pintu rumahnya, lalu berjalan kearah Agas.


"Yuk!" ajak Mentari kepada Agas.


Agas memperhatikan style gadis itu menggunakan celana panjang serta baju kaos. Sederhana, namun mampu membuat Agas nyaman jika melihat gadis itu.


Agas terlebih dahulu memasangkan Mentari Helm, sudah Mentari Katakan bukan, jika dia diperlakukan bak ratu oleh Agas, jika kita bersama dengan orang yang tepat!


Mentari memegang pundak Agas sebelum naik keatas motor cowok itu yang tinggi, Mentari tidak perlu meminta persetujuan cowok itu karna Agas bukanlah Alvaro.


Tanpa sungkan-sungkan Mentari langsung memeluk pinggang Agas setelah cowok itu menyalakan mesin motornya.


"Udah siap!" tanya Agas kepada Mentari dibelakangnya.


"Udah!"


Agas langsung meninggalkan pekarangan rumah Mentari untuk segera ke kedai milik orang tua Mentari.


Kedai milik orang tua Mentari tidaklah jauh dari rumahnya. Hanya saja, Orang tua Mentari bernama Runi memilih tempat tersebut karna selalu ramai disinggahi anak muda.


Jadi saat itu, Runi berinisiatif membuat kedai sederhana.


Sekitar sepuluh menit mengendarai motor, Agas dan Mentari telah sampai didepan kedai milik Runi. Kedai sederhana namun menarik jika kita sudah masuk kedalam.


"Tar, kamu kenapa kesini lagi? Kamu 'kan sebentar malam mau pergi sama, Agas," kata Runi sembari mengaduk Coffe untuk para pengunjungnya.


"Apa kabar, Tan?" tanya Agas kepada Runi.


Runi tersenyum hangat kearah Agas. Dia sudah tidak asing lagi dengan cowok tampan ini. "Tante baik-baik aja. Mentari bilang kamu dipindahkan ke kelas IPS? Apa benar, Gas?" tanya Runi.


"Iya, Tan," jawab Agas.


Runi sudah tidak bertanya lagi, mengapa Agas dipindahkan ke kelas IPS. Karna setiap seseorang mempunyai privasi tersendiri.


"Biar Mentari yang bawa, Mah," kata Mentari saat Runi sudah menaikkan Coffe dan juga roti bakar tersebut keatas nampan.


"Yaudah, kamu bawa kemeja nomor tiga, yah," kata Runi dan dibalas anggukan kepala oleh Mentari.


Kedai sederhana milik Runi nampak ramai meskipun masih sore. Apa lagi Agas sudah mempromosikan kedai sederhana milik Runi di teman Instagramnya.

__ADS_1


"Tan, Agas ngerjain apa? Agas juga mau bantu Tante Runi," kata Agas berharap jika ada sesuatu yang dia kerjakan. Sementara Runi sedang menyiapkan pesanan seseorang.


"Kalau kamu mau, kamu bagian kasir aja, yah Gas," kata Runi dan dibalas anggukan semangat oleh Agas.


Agas langsung duduk dimeja kasir.


Mentari masih tidak percaya jika dimeja nomor tiga ada Alvaro. Sejak kapan cowok itu berada disini. Apakah saat dia kerumah Mentari dia langsung singgah kesini?


Meja nomor tiga, terletak paling pojok. Sehingga tidak terlalu nampak jika pengunjung kedai masuk.


Meski kedai sederhana milik Runi dinamakan kedai sederhana, namun didalamnya sangat menarik seperti cafe saja.


"Selamat menikmati," kata Mentari mengundurkan diri setelah dia meletakkan pesanan Alvaro.


"Yang buat Coffe macchiato siapa?" tanya Alvaro meminum Coffe macchiato yang menjadi Coffe favoritnya.


"Mamah, Runi," jawab Mentari.


"Emangnya kenapa?" tanya Mentari.


Alvaro menatap Mentari yang ditanganya ada nampan. "Kalau gue kesini, yang gue mau, lo yang buat pesanan gue," kata Alvaro membuat Mentari menggangguk mengiyakan ucapan Alvaro.


Mentari langsung pergi meninggalkan Alvaro.


"Agas mana, Mah?" tanya Mentari meletakkan nampan tersebut.


"Tuh, dimeja kasir," tunjuk Runi dengan matanya melihat Agas nampak sibuk.


Mentari tersenyum melihat Agas membuat Runi juga ikutan tersenyum. "Kamu yakin nggak ada perasaan buat Agas yang baik banget sama kamu?" tanya Runi kepada putrinya itu.


Mentari melirik Runi yang tengah tersenyum kearahnya.


Huft


Terdengar helaan nafas berat keluar dari mulut Mentari. "Tari juga nggak tau, Mah. Sekarang perasaan Mentari ke Agas itu rasa sayang seperti sahabat. Tapi nggak ada yang tau kedepan-nya kayak gimana. Bisa jadi seiring berjalannya waktu Tari sudah cinta sama Agas," kata Mentari dan dibalas anggukan kepala oleh Runi.


Mata Mentari dan Agas saling bertatapan. Agas tersenyum manis kearah Mentari membuatnya semakin tampan. Jika karna ketampanan Mentari sudah mencintai Agas, sudah lebih dulu dia mencintai Agas jika semua ternilai dari itu.


Tapi itu semua dari perasaan!

__ADS_1


Agas menaikkan tangannya berbentuk kepalan tanda semangat kearah Mentari.


Mentari tertawa kecil melihat Agas lalu mengangguk kecil beserta senyuman manisnya. Hal itu semua tidak luput dari penglihatan Alvaro yang bisa melihat semuanya sembari meminum Coffe yang beda Rasanya seperti yang waktu malam itu dia minum.


__ADS_2