
“Laura cantik, tapi lebih cantikan Mentari. Mending lu pulang sama gue, daripada berharap sama mereka, yang nggak mau anterin lo pulang.''
Steven dan Agas langsung melirik kearah Renal, cowok itu menawarkan dirinya untuk mengantar Laura.
Laura menatap tajam Renal, membuat Renal bergedik ngeri dengan tatapan gadis itu. Sepertinya Laura bukan tipenya Renal.
Sungguh, Renal tidak menginginkan cewek sangar seperti Laura, tatapan matanya saja sudah membuat Renal menjadi kicep.
‘’Yaudah kalau nggak mau, gue juga nggak bakalan makasain lo. Gue cuman nyelamatin harga diri lo aja, sama kedua cowok tampan ini,'' jelas Renal, seraya menyugar rambutnya kebelakang.
Niat hati ingin membantu Laura, agar gadis itu tidak malu, namun tatapan yang Laura berikan membuat Renal bergedik ngeri sendiri.
''Mending lo sama dia!'' ujar Agas.
Steven kali ini mengangguk setuju, dengan ucapan Agas.
‘’Mending lu pulang sama orang yang mau anterin lo, Lau,'' timpal Steven lagi.
''Biar Mentari sama gue.'' Steven dan Agas kembali mengucapkan kata-kata hampir bersamaan, membuat Renal teetawa.
''Waduh, kalian udah telat. Gimana tuh, Mentari udah pulang sama Alvaro,'' ucap Renal dengan bangga.
Steven dan Agas langsung mengarahkan pandangnya, benar saja Mentari sudah tidak ada di sini.
''Sial!''
Steven menatap Renal dengan tatapan tajam. ''Awas aja lo!'' sungut Steven berjalan melewati Renal dengan tatapan bengis.
''Ini semua gara-gara lo!'' desis Agas kepada Laura.
''Anterin gue pulang.'' Laura kembali mencekal tangan Agas, agar cowok itu tidak meninggalkan dirinya di sini.
Kedua kalinya, Agas menghempaskan tangan Laura dengan kasar, lalu menaiki menyalakan motornya, lalu berlalu pergi meninggalkan Laura, yang memanggilnya.
''Gas!''
Agas mengabaikan panggilan Laura, dia langsung pergi meninggalkan parkiran. Renal juga mulai menyalakan mesin motornya, dia bisa melihat gadis bernama Laura itu sedang menahan amarah.
‘’Sekali lagi gue tawarin, lo mau nebeng sama gue atau nggak,'' ucap Renal.
Laura hanya menatapnya dengan tatapan sangar, lalu gadis itu melenggang pergi membuat Renal menggeleng kecil.
‘’Perempuan adalah makhluk yang paling sulit untuk di mengerti,'' gumam cowok itu, lalu mulai menjalankan motornya.
Ada rasa yang sulit untuk Mentari jelaskan, berdekatan dengan Alvaro seakan-akan membuat jantungnya ingin berhenti berdetak.
Ini yang kedua kalinya Mentari berboncengan dengan Alvaro. Di sepanjang perjalanan, tidak yang mengeluarkan suara.
Alvaro fokus menyetir motor, sementara Mentari sibuk dengan pikiranya. Jika dia bersama Agas naik motor, jantungnya tidak pernah berdetak sekencang ini.
Mentari jadi curiga, jika Alvaro bisa mendengar detak jantungnya.
__ADS_1
''Al.'' Mentari memanggil cowok itu.
Alvaro tidak menyahut, dia malas. Dia hanya menunggu gadis itu melanjutkan mulutnya untuk bicara.
''Lo bisa singgah di penjual siomay dekat tugu sana?'' tanya Mentari.
Biasanya, Mentari singgah membeli siomay bersama dengan Agas.
''Ya!'' jawab cowok itu, membuat Mentari tersenyum samar.
Alvaro menepikan motornya di pinggir jalan lebih dulu, sebelum menyeberang. Karna penjual siomay gerobak itu berada di sebelah kiri.
‘’Nggak usah nyebraang. Gue turun aja, biar gue yang ke sebelah,'' kata Mentari, seraya turun dari motor sport hitam milik Alvaro.
''Gue nggak lama,'' lanjutnya kepada cowok itu.
Mentari melihat kiri-kanan, sebelum menyeberang. Setelah berhasil menyeberang, gadis itu langsung menghampiri penjual siomay gerobak, yang merupakan langganannya, semenjak dia memasuki sekolah SMA.
''Mbak, somaynya 20 ribu,'' ucap Mentari, seraya tersenyum.
''Ok, siap.''
‘’Tumben nggak sama cowok yang pake motor merah,'' ucap penjual siomay itu, seraya memasukkan siomay pesanan Mentari kedalam kantongan khusus somay.
Mentari tersenyum kikuk. ''Buru-buru, tadi,'' jawab gadis itu.
Mbak penjual siomay itu tersenyum, ''Udah mbak tambahin lima siomay, sebagai bonus karna kamu langganan setia mbak,'' ucapnya seraya menyerahkan siomay milik Mentari.
Alvaro tidak bisa menyembunyikan senyumannya, melihat Mentari dari sini. Dia bisa melihat, gadis itu sedang mengobrol kecil dengan penjual siomay itu.
''Sama-sama,‘' balas Mbaknya. ''Oiya, neng Tari. Itu cowoknya sedari tadi merhatiin kamu loh,'' ucap mbak membuat Mentari langsung melihat kearah Alvaro.
Mata mereka kembali beradu, membuat Alvaro dengan cepat memutuskan kontak matanya dengan Mentari.
''Heheh. Sepertinya dia merhatiin Mentari, karna kelamaan,'' ucap gadis itu. ''Yaudah, Mbak. Tari pamit dulu.''
Setelah berpamitan dengan mbak siomay,Mentari kembali menyeberang jalan untuk menghampiri Alvaro.
‘’Sorry, Al. Gue lama,'' ucap Mentari.
‘’Nggak apa-apa.''
Deg
Padahal, Mentari tidak mengharapkan balasan dari Alvaro. Karna dia tau, jika cowok itu tidak akan membalas ucapanya.
‘’Kenapa malah diam?'' tanya Alvaro dingin, membuat Mentari langsung tersadar.
‘’Nggak apa-apa,'' balas Mentari.
''Yaudha, naik,'' pintah Alvaro, lalu dia menyalakan mesin motornya.
__ADS_1
‘’Sini.'' Alvaro menjulurkan tanganya kepada Mentari.
Alvaro menarik nafasnya panjang, apakah dia harus berbicara panjang kali kabar, baru orang tau apa maksudnya?
‘’Apanya?'' tanya Mentari.
''Makanan lo itu,'' tunjuk Alvaro kearah somay Mentari.
Karna gadis itu lalod menurut Alvaro, dia langsung mengambil siomay Mentari lalu dia gantung di depan motornya.
''Gue bisa megang sendiri, Al. Nggak usah repot-repot,'' ucap Mentari.
Alvaro melirik Mentari. ''Gue lakuin itu, buka karna gue perhatian. Gue cuman nggak mau, sampai saus siomay lu itu, kena baju putih gue,'' kelas Alvaro.
Jleb....
Mentari tersenyum tipis, betul juga apa yang di katakan oleh Alvaro barusan. Jika dia nekad maka saus siomay itu bisa saja mengenai baju sekolah Alvaro.
''Nunggu apa lagi, buruan naik!'' pintah Alvaro, karna Mentari masih saja tinggal diam.
''Iya-iya, Al. Sejak kapan lo bisa ngomong panjang kayak tadi?'' pernyataan yang di berikan Mentari, membuat Alvaro terdiam.
Dia kelepasan saja bicara, hingga dia lupa, jika dia sosok cowok yang malas untuk ngomong.
Mentari langsung naik keatas motor Alvaro, setelah dia meminta izin kepada cowok itu, memegang bahunya sebelum naik keatas motor Alvaro.
''Ngapain masih bengong?'' tanya Mentari, karna Alvaro belum juga menjalankan motornya.
Alvaro langsung sajak menjalankan motornya, setelah Mentari berhasil membuyarkan lamunanya.
‘'Singgah di cafe milik mamah gue ya, Al,'' pintah Mentari.
Dia langsung singgah saja di cafe milik mamahnya, tanpa mengganti pakaian. Siapa tau saja, Runi sudah menyiapkannya pakaian ganti di sana.
''Udah ganti?'' tanya Alvaro.
Untung saja Mentari paham apa yang Alvaro maksud.
''Iya, kedai mamah gue udah jadi cafe sederhana,'' jawab Mentari.
Tidak butuh waktu lama, motor Alvaro langsung parkir di cafe milik mamah Runi. Mentari langsung turun dari motornya, seraya meminta siomay nya pada Alvaro.
Alvaro membuka helmnya, membuat Mentari langsung melayangkan pertanyaan. ''Kamu mau singgah ngopi?'' tanya Mentari.
Alvaro hanya mengangguk kecil.
''Ok, gue yang buatin lo coffe.''
''Coff—''
Belum sempat Alvaro menyelesaikan ucapanya, gadis itu langsung memotongnya. ‘’Iya, gue tahu. Coffe macchiato.''
__ADS_1