Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Kemiripan


__ADS_3

Malam haripun tiba, dimana sosok gadis yang menggunakan gaun berwarna pink dan juga gaun biru navi memasuki tempat acara perkenalan malam ini dengan peserta lainya.


Sosok kedua gadis itu adalah Bulan dan Vita. Dengan Bulan menggunakan gaun berwarna pink rambutanya dia sanggul serta jepitan rambut warna pink yang menghiasi rambutnya malam ini.


Gaun berwarna pink yang dikenakan oleh Bulan melewati lututnya, sementara Vita menggunakan dres berwarna biru navi dengan rambutanya dia sanggul tanpa hiasan rambut seperti Bulan.


Acara malam ini berlangsung di sebuah hotel mewah di Jakarta, banyak pejabat yang malam ini juga datang yang tentunya yang mensponsori acara perlombaan lukisan.


"Ramai banget yah," kata Vita yang sudah duduk di kursi bersama dengan Bulan.


Bulan hanya mengangguk mengiyakan ucapan Vita, karna apa yang dikatakan gadis itu memang benar, karna acara malam ini sangatlah ramai, apa lagi banyak pejabat tinggi yang ikut meramaikan malam ini.


"Lo udah biasa ikut lomba melukis seramai ini?" Tanya Vita kepada Bulan. Katakan jika ini pertama kalinya Vita mengikuti lomba melukis seramai ini.


"Iya, aku udah biasa."


Vita hanya mengangguk mengiyakan ucapan Bulan, karna terbukti gadis itu tidak kakuh lagi menghadiri acara seperti ini tidak seperti dirinya.


Kepala sekolah SMA Bina Marta ikut bergabung bersama dengan Vita dan juga Bulan, yang mewakili sekolah dalam lomba melukis yang dilaksanakan setiap bulannya.


"Kalian berdua cantik," puji kepala sekolah kepada Bulan dan Vita.


" Makasih, Bu," jawab Bulan dan Vita bersamaan dan dibalas anggukan kepala oleh kepala sekolah yang malam ini menggunakan kacamata dan dress berwarna coklat sampai lututnya.


Mereka semua fokus ke panggung saat melihat pria yang menggunakan jas formal naik ke atas panggung dipersilahkan oleh pembawa acara malam ini.


"Tes-Tes." Pembawa acara malam ini sepertinya sudah ingin memulai acara.


"Selamat malam nyonya dan tuan, serta anak muda yang memiliki kreatifitas, yang malam ini sudah datang dengan penampilan, yang sangat luar biasa dan memukau!"

__ADS_1


Pembawa acara malam ini sudah ingin memulai acaranya, sehingga seluruh tatapan mata fokus kedepan melihat ke arah pembawa acara.


"Dan adapun acara penyambutan yang mensponsori acara ini begitu besar. Dan kita sambut dia...."


Semua orang penasaran, pasalnya yang dipanggil namanya yang pertama merupakan orang yang mensponsori acara ini begitu tinggi, atau lebih jelasnya dia yang mengeluarkan uang yang banyak untuk acara perlombaan melukis yang akan dilaksanakan dua hari dua malam.


"Dan kita sambut, pak Frans Tanujaya!" Pembawa acara malam ini mempersilahkan nama Frans Tanujaya yang pastinya sudah tidak asing lagi bagi kalangan pejabat lainnya maupun orang biasa.


Sosok Frans Tanujaya sudah terkenal dikalangan orang-orang pebisnis, sosok Frans yang sangat ambius didunia kerja dan merupakan orang yang sangat berpengaruh di Jakarta.


Frans Tanujaya naik ke atas panggung dengan setelan jas formalnya serta wajahnya yang masih tampan meski umurnya sudah tidak mudah lagi, dan jangan lupa sikapnya yang tegas dan tubuhnya masih tegap gagah.


Tepukan tangan meriah menyambut sosok Frans Tanujaya, banyak yang memuja sosok Frans salah satu pebisnis yang sukses di usia mudanya.


Pembawa acara memberikan mikrofon kepada Frans Tanujaya.


"Terimakasih atas sambutan yang diberikan kepada saya." Frans mulai berbicara dengan matanya fokus mengamati tamu malam ini yang sangat ramai.


Suara riuh tepuk tangan menghiasi perkataan Frans Tanujaya malam ini.


Seseorang yang berada meja yang tidak bisa menjadi pusat perhatian hanya memasang wajah dinginya, melihat sosok Frans menyampaikan wejangannya malam ini.


Sosok cowok berwajah dingin itu meneguk minuman anggur yang disediakan diatas meja. Dia dengan seksama mendengarkan apa yang dikatakan oleh sosok Frans Tanujaya, di atas panggung dengan penuh kesungguhan.


"Sekian dari saya, semogah anak muda selalu memberikan lukisan yang sangat hebat. Dan selamat malam untuk semua." Frans mengakhiri perkataannya lalu memberikan mice kepada pembawa acara.


Frans turun dari panggung sembari matanya menerawang seperti mencari seseorang, memang kenyataannya seperti itu.


Frans melewati tamu malam ini, dia menelfon seseorang dan berjalan keluar dengan sedikit cepat. Sepertinya dia ada pertemuan yang sangat mendadak malam ini.

__ADS_1


"Sepertinya pak Frans ada urusan mendadak," kata salah satu pria yang seumuran dengan Frans yang melihat Frans keluar dengan buru-buru.


"Sepertinya begitu," timpal salah satu temannya.


"Apa kamu percaya jika pak Frans tidak mempunyai seorang anak dari nyonya Sovia?" Tanya pria itu kepada temannya yang meneguk segelas anggur.


Sebut saja jika mereka berdua sesama teman kerja, salah satu pebisnis yang bersaing dengan sosok Frans, dunia bisnis.


Temannya itu menggelengkan kepalanya, tanda tidak setuju dengan perkataan lawan bicaranya.


"Saya tidak percaya, jika pak Frans dan nyonya Sovia tidak mempunyai anak," ucapnya dengan tidak percaya," mereka itu lama bersama, tidak mungkin 'kan jika mereka berdua tidak mempunyai anak," sambungnya dan dibalas anggukan kepala oleh lawan bicaranya.


"Tapi kenapa dia tidak pernah memperkenalkan anaknya, saat acara kantor dan juga pertemuan lain?" Tanyanya lagi kepada lawan bicaranya yang sama-sama menggunakan pakaian formal malam ini.


"Dia juga tidak memperkenalkan anaknya dikalangan publik," sambungnya.


"Mungkin saja dia mempunyai alasan tersendiri. Jika dia benar-benar punya anak bersama Sovia. Saya yakin anaknya itu mewarisi kepintaran Frans dan bakat Sovia yang sangat pandai melukis," kata temannya dan dibalas anggukan kepala setuju.


Sementara kepala sekolah sedang berbincang bincang dengan seseorang, sepertinya dia berbicara serius karna terdengar helaan nafas panjang keluar dari kepala sekolah itu.


"Vit," panggil Bulan kepada Vita yang sedang mencicipi makanan di meja yang pastinya sangat menggugah selera.


"Hmm." Vita hanya membalasnya dengan deheman karna dia sibuk makan, seperti gadis yang tidak pernah melihat makanan enak.


"Kamu kenal sama pak Frans?" Tanya Bulan dan dibalas anggukan kepala oleh Vita karna memang dia kenal sama Frans yang merupakan bos dari tempat papahnya bekerja.


Yah, papah Vita menjadi tangan kanan Frans di kantor, papah Vita sudah menjadi tangan kanan Frans kurang lebih tujuh tahun lamanya. Bahkan papa Vita sudah menjadi orang kepercayaan Frans.


"Siapa sih yang nggak kenal pak Frans," kata Vita mengunyah makanannya," dia itu orang paling berpengaruh dikota ini. Dia juga sosok orang kaya yang sudah terkenal di manapun. Dia juga biasa masuk tv," kata Vita kepada Bulan.

__ADS_1


Bulan hanya mengangguk mengiyakan ucapan Vita.


"Kalau dilihat-lihat pak, Frans mirip sama seseorang.''


__ADS_2