
Sementara Mentari masih mematung ditempatnya. Dia masih tidak percaya jika selama ini Agas dan Laura mempunyai hubungan sangat dekat hingga asing seperti ini.
Apa banyak yang tidak tau jika mereka pernah berpacaran?
Mentari saja sampai tidak percaya jika mereka pernah menjalin hubungan.
"Jangan samakan gue yang dulu sama yang sekarang. Karna tentunya itu jauh berbeda!" tegas Agas kepada Laura membuat gadis itu mengusap air matanya kasar.
"Gue mau kita kayak dulu, Gas," pinta Laura membuat Agas menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecil.
"Dasar gadis gila!" kata Agas kepada Laura.
"Gue gila karna lo, Gas. Gue irih karna lo perlakuin Mentari layaknya dia seorang ratu," kata Laura menggebu-gebu.
"Perlakuan lo yang kayak gitu ke gue kenapa lo kasi ke Mentari, Gas?" tuntut Laura sehingga Agas kembali menatapnya dengan tajam, setajam siluet.
"Karna Mentari udah ambil segala hati gue. Apapun Mentari bakalan gue turutin. Lo harus ingat kalau Mentari itu ratu dalam hidup gue," kata Agas dengan penuh penekanan kepada Laura.
Laura tertawa kecil. "Lo harus sadar, Gas. Mentari nggak suka sama lo. Andai dia suka sama lo dia nggak bakalan gantung lo kayak gini," terang Laura membuat Agas terdiam sejenak.
39 detik kemudian Agas kembali membalas perkataan, Laura. "Gue yakin, suatu saat Mentari bakalan buka hatinya buat gue. Dan gue bakalan bahagiain dia," lepas mengucapakan kata seperti itu, Agas langsung pergi meninggalkan Laura sehingga Mentari kembali bersembunyi dibalik mobil agar Agas tidak melihat jika dirinya telah menguping seluruh pembicaraan Agas.
Melihat aura yang lain dari diri Agas malam ini membuatnya takut kepada cowok itu. Yang selama ini dia lihat dari Agas hanya senyuman menawan.
Bahkan, Mentari belum pernah melihat Agas kecewa kepadanya, marah dan lainya.
Mentari juga langsung pergi untuk segera masuk kedalam hotel, karna dia yakin acara sudah dimulai.
Benar saja, saat Mentari masuk seluruh peserta sudah berada diatas panggung termasuk cowok yang menggunakan topeng berwana keemasan yang tidak ingin menyebutkan namanya sendiri.
Mata Mentari dan cowok yang menggunakan topeng tersebut saling bertatapan membuat Mentari tidak asing dengan tatapan mata tajam tersebut.
"Dari mana aja, Tar?" Mentari langsung tersentak kaget saat Agas bertanya kepadanya.
__ADS_1
"A-gas," kata Mentari gugup. Dia berusaha melupakan wajah menyeramkan milik Agas tadi yang masih menjelajahi pikirannya.
Agas mengerutkan keningnya dalam-dalam melihat wajah Mentari seperti sedang melihat hantu saja.
"Tar, lo kenapa?" tanya Agas seperti biasa jika mengajak Mentari berbicara. Tidak ada aura menyeramkan sama sekali seperti saat dia berbicara dengan Laura.
"Gue nggak kenapa-kenapa," jawab Mentari beserta senyuman tipisnya. Agas hanya mengangguk kecil dengan jawaban yang diberikan oleh Mentar, meski dia tidak percaya. Namum Agas berpikir jika hal tersebut tidaklah penting untuk dia ketahui.
"Lo tadi dari mana?" tanya Agas kembali.
"Gue disuruh catat nama peserta, lepas itu gue ke toilet," jawab Mentari.
"Selamat malam, diharapkan untuk seluruh penonton untuk segera duduk manis ditempat masing-masing karena acara perlombaan akan segera dimulai!" pembawa acara memberikan instruksi karna masih ada yang berbincang-bincang berdiri.
Mentari dan Agas langsung berjalan kearah kursi tempat mereka berdua duduk tadi. Agas dan Mentari melihat Laura yang menggunakan dress berwarna hitam naik keatas panggung.
Gadis itu berbincang-bincang kepada pembawa acara karna dia terlambat naik keatas panggung. Mentari melirik Agas yang tengah memperhatikan Laura dengan tatapan yang sulit untuk ditebak.
Tamara dan Dado menghampiri meja milik Agas dan Mentari. "Tar," panggil Tamara kepada Mentari.
"Gini, lo 'kan dikasi tugas sama panitia tadi buat catat nama asli peserta malam ini," kata Tamara yang ingin menceritakan maksudnya kepada Mentari.
Mentari menggangguk mengiyakan ucapan Tamara, karna dia memang diberikan tugas untuk mencatat nama peserta malam ini.
"Lo lihat dia 'kan, yang pake topeng itu," kata Tamara menunjuk cowok yang menggunakan topeng yang menyendiri saja, sementara yang lain asik berbincang dan berpikir untuk perlombaan malam ini.
"Lo tau nama dia siapa?" Tanya Tamara penuh harap, karna Mentari saja yang mencatat nama peserta malam ini. Tamara pikir Mentari tau karna dia yang mencatat nama.
Mentari melirik cowok yang menggunakan topeng tersebut. "Dia nggak kasi tau namanya," kata Mentari membuat Tamara menjadi lesuh. Sungguh misterius cowok itu hingga namanya saja tidak diketahui oleh orang-orang.
"Emangnya dia kenapa?" tanya Mentari melirik Tamara.
"Gue cuman penasaran sama dia," kata Tamara dan dibalas anggukan kecil oleh Mentari.
__ADS_1
Mereka asik berbincang hingga perlombaan malam ini telah dimulai. Mentari dan Tamara fokus kepada cowok yang menggunakan topeng yang sedang serius melukis sesuatu di kanvas putih miliknya.
Kursi milik Bulan berdekatan dengan cowok yang menggunakan topeng berwana keemasan tersebut. Dengan cowok itu dipinggir, sementara Bulan berdekatan dengan Vita sementara Laura berdekatan dengan Steven.
"Fokus, Lan," bisik Vita karna Bulan sedari tadi memperhatikan sosok cowok yang berada disampingnya.
"Heheh, iya," kata Bulan lalu fokus dengan kanvas putih dihadapannya.
Laura melukis dikanvas putihnya penuh dengan penekanan. Mengingat kejadian tadi bersama dengan Agas membuatnya ingin melampiaskan semuanya kedalam lukisan.
Gue mau lo balik sama gue, Gas. Bahkan, Mentari gue singkirkan kalau jadi penghalang antara kita.
Laura dan Steven duduk berdekatan, keadaan Steven sudah sedikit membaik sehingga dia ikut lomba melukis malam ini.
Steven melirik lukisan yang dibuat oleh Laura, gadis itu baru menggambar sebuah mata yang sangat indah. Steven bisa tebak jika gadis itu melukis wajah seseorang.
"Baby, siapa wajah yang kamu lukis?" tanya Steven yang penasaran dengan wajah yang dilukis oleh Laura malam ini.
Laura melirik Steven, yang sangat tampan malam ini yang mengenakan setelan tuxedo serta rambutnya yang tertatah rapih.
"Kita udah nggak punya hubungan," terang Laura lalu melanjutkan lukisannya.
Sementara tamu malam ini asik berbincang-bincang sembari memakan cemilan.
Steven menghembuskan nafas berat. "Aku khilaf, Lau," kata Steven.
"Lebih baik lo fokus sama kanvas didepan lo, kalau nggak mau posisi lo malam ini gue rebut," kata Laura kepada Steven.
"Tidak masalah, baby," kata Steven santai lalu kembali melukis dikanvas ya yang berwarna putih.
Sementara Vita sudah pusing, melihat kanan kirinya membuatnya insecuer.
"Yang penting kamu udah usaha," kata Bulan tanpa mengalihkan pandangannya dari kanvas miliknya. Dia bisa melihat gerak gerik Vita yang sangat takut malam ini.
__ADS_1
"Tapi Lan, masa iya nggak ada anak seni lukis masuk tiga besar," kata Vita yang khawatir. Pasalnya mereka berdua dari kelas seni sudah pasti mereka sudah banyak belajar.