Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Coffe Macchiato


__ADS_3

Agas dan Steven saling melirik satu sama lain. Saat ibu Silvah menyuruh mereka untuk minta maaf.


Sepertinya Steven tidak ingin minta maaf terlebih dahulu. Namun berbeda dengan Agas yang langsung mengulurkan tanganya kepada Steven.


“Gue minta maaf,” tulus Agas minta maaf kepada Steven. “Meskipun gue belum bisa lupa saat lo nyakitin Mentari gue,” lanjutnya membuat Steven tersenyum simpul.


Steven menyambut uluran tangan Agas. “Lo tenang aja. Gue nggak bakalan lukain cewek sebaik Mentari. Soal kemarin, gue nggak sengaja,” ucap Steven lalu Agas melepaskan tanganya dari Steven.


Bu Silva menulis mata pelajaran yang akan dia ajarkan hari ini. Yaitu mata pelajaran Bahasa Indonesia.


Murid-murid dalam kelas fokus memperhatikan ibu Silva menjelskan.


Sekitar satu jam belajar, bell pulang sekolah berbunyi. Mereka semua langsung memasukkan buku mereka kedalam tas untuk segera pulang.


Begitupun di kelas IPA. Mentari tengah sibuk mencatat hingga seseorang datang menghampirinya.


“Tar,” panggil Tamara.


Mentari mendongakkan kepalanya, “iya,” jawabnya.


“Tumben lo nggak cari, Alvaro. Dia kan bolos hari ini,” kata Tamara dan dibalas anggukan kepala oleh Dado.


“Gue udah bilang sama kepala sekolah. Kalau Al bolos, ibu bilang dia sudah menghubungi orang tua Alvaro,” kata Mentari dan dibalas anggukan kepala oleh kedua temanya.


“Lo mau pulang bareng sama kita?” tawar Tamara.


“Makasih tawarannya, gue pulang sama Agas,” kata Mentari seraya tersenyum.


“Yaudah, kalau gitu gue duluan,” pamit Tamara dan Dado.


Kelas IPA telah kosong, hanya sisa Mentari saja, dia berdiri dari kursinya untuk segera keluar dari kelas.


Dia melihat ke samping, dan melihat Agas baru saja keluar dari kelas ips. Mentari melihat tangan Agas tengah di cekal oleh gadis bernama Laura.


Mengingat Laura membuat Mentari mengingat kejadian tadi, dimana Laura menyuruh Agas untuk tanggung jawab.


Mentari percaya jika Agas tidak akan melakukan hal seperti itu.


“Mau apa lagi lo!” desis Agas menghempaskan tangan Laura dengan kasar.


“Gas, gue mau balik sama lo,” mohon Laura kepada Agas.


“Ck, gue nggak bakalan mau balik sama cewek yang udah ninggalin gue karna cowok lain!” geram Agas.

__ADS_1


“Gue terpaksa, Gas!”


“Utss,” Agas menempelkan jari telunjuknya di bibirnya. “Gue nggak mau dengar alasan apapun dari mulut lo.”


“Gas, kasi gue kesempatan buat perbaiki semuanya,” pinta Laura.


Agas tersenyum sinis. “Lo cuman masa lalu gue,” Agas menjedah perktaanya lalu melirik kearah kelas Mentari karna gadis pujaannya tengah berdiri disana dan melihatnya. “Masa depan gue disana nungguin gue,” lanjutnya sehingga Laura langsung melihat kearah yang dilihat Agas.


Agas langsung meninggalkan Laura membuat Laura mengepalkan tanganya melihat Mentari. “Gue bakalan rebut Agas kembali!”


Mentari yang melihat Agas menghampirinya tersenyum. Lalu matanya melirik Laura yang tengah menatapnya dengan tatapan membunuh.


“Tar,” panggil Agas menghampiri Mentari.


Laura sudah pergi dari depan pintu kelasnya, dia akan pulang bersama dengan Steven.


“Gas, wajah lo kenapa? Habis berantem sama siapa Gas?“ tersirat wajah khawatir Mentari saat bertanya. Bagaiamana tidak, jika wajah Agas tengah lebam.


“Entar gue jelasin, di kedai tante Runi.''


“Lo punya hubungan sama, Laura?” tanya Mentari membuat Agas terdiam.


Mentari hanya ingin memastikan, jika saat perlombaan lukis Waktu itu dia tidak salah dengar mengenai Agas dan Laura pernah menjalin kasih.


“Hmmmm…Laura emang mantan gue, Tar. Tapi itu cuman masa lalu,” kata Agas dan dibalas anggukan kepala oleh Mentari.


“Gue nggak punya hubungan apa-apa lagi sama, Laura. Lo percaya kan, Tar?” Agas menyakinkan Mentari membuat Mentari menganggguk disertai dengan senyuman.


“Gue selalu percaya sama lo,” kata Mentari. “Yaudah yuk pulang, gue buru-buru mau bantuin mamah di kedai,” lanjutnya.


Akhirnya mereka berdua berjalan di koridor sekolah untuk ke parkiran.


Di kedai.


Runi saat ini sedang membuat coffe Macchiato untuk pembeli yang berada di meja nomor tiga. Runi sudah kenal siapa dia. Hanya dia yang selalu memesan coffe macchiato di kedai miliknya.


Runi sempat bertanya-tanya, karna sedari tadi anak itu sudah pulang dan sudah satu jam lebah dia di kedai miliknya yang masih mengenakan baju SMA Bina Marta yang baju seragamnya sama dengan anaknya.


Dia langsung mengantar coffe macchiato tersebut di kursi nomor tiga.


“Silahkan menikmati,” ucap Runi dengan senyuman lembut kearah Alvaro


Membuat anak itu tersenyum tipis dengan kakuh kearah Runi.

__ADS_1


Runi melihat wajah Alvaro mempunyai lebam yang belum kering, mungkin saja luka itu tercipta dua hari yang lalu itu yang di pikirkan Runi.


Alvaro langsung meminum coffe pesanannya.


Manis


Tapi menurut Alvaro ini tidak pas.


“Apa Mentari belum pulang?” tanya Alvaro membuat Runi tersenyum.


“Sepertinya sebentar lagi dia akan pulang,” jawab Runi.


Alvaro mengangguk. “Saya menyukai racikan coffe macchiato yang dia buat,” jelas Alvaro agar orang tua Mentari tidak salah paham mengenai mengapa dia mencarinya.


Runi hanya mengangguk, lalu kemudian pamit untuk mengantar kembali pesanan pengunjungnya.


Sepertinya Runi harus mendengar apa yang dikatakan Mentari, untuk mencari karyawan untuk membantunya dikedai.


Alvaro menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu menyandarkan punggungnya di kursi menatap langi-langit kedai sederhana yang dia tempati ini.


Dia malas pulang! Dan bertemu dengan Frans sang ayah.


Alvaro membutuhkan Dila, dia ingin bercerita dengan Dila namun sekarang bukan waktu yang tepat. Karna dia tau, Dila tengah liburan bersama dengan keluarganya.


Rasanya Alvaro ingin mencari tahu keberadaan orang tua kandungnya, lebih baik dia mengikuti mamahnya dengan penuh kesederhanaan daripada hidup dengan kemewahan menanggung kesengsaraan dan hobinya di tantang dengan keras.


“Al benci sikap papah,” keluh Alvaro seraya memejamkan matanya mengingat perlakukan Frans kepadanya. “Papah selalu larang hal yang Al suka.”


Drt...


Ponsel milik Alvaro bergetar, menandakan ada yang sedang menelfon dirinya. Dia melihat nama yang terterah di layar ponselnya yaitu nama Dila.


Dia tersenyum tipis, baru saja dia memikirkan wanita itu dan tiba-tiba dia mendapatkan Telfon padahal dia sedang liburan di Bali.


Alvaro langsung mengangkatnya.


“Halo, Al,” sapa Dila di seberang Telfon dengan lembut membuat hati Alvaro menjadi damai.


Entahlah, mendengar suara Dila mampu membuatnya tenang.


“Maafin saya yah, Al. Tidak bisa mendengarkan cerita kamu. Tapi saya janji, lepas dari Bali kita ketemu yah dan bercerita,” ungkap Dila di seberang Telfon.


“Tidak apa-apa. Al tunggu kedatanganya,” ucap Alvaro dengan dingin membuat Dila tersenyum hangat.

__ADS_1


“Kalau begitu, saya tutup telfonya. Kamu jaga kesehatan kamu yah, Al. Dan terus kembangkan bakat kamu melukis,” kata Dila lalu menutup ponselnya karna saat dia menelfon Alvaro dia berada didalam kamar mandi.


__ADS_2