Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Penakluk cowok nakal


__ADS_3

Mentari berdiri dari kursi yang dia duduki, lalu menghampiri Steven yang berada di ambang pintu kelas mereka.


''Ada keperluan apa manggil gue? '' tanya Mentari membuat Steven tersenyum kearah gadis itu.


''Emangnya salah kalau gue manggil lo? '' Bukanya menjawab, Steven malah balik bertanya.


"Ketua kelas yang menarik," ucap Renal yang sedari tadi memperhatikan Mentari.


Huft


Alvaro menghembuskan nafas berat, entah mengapa melihat Mentari dengan Steven membuat darahnya mendidih.


"Udah gue duga, lo pasti cemburu, '' sindir Renal membuat Alvaro menatap jengah cowok itu.


Alvaro tidak membalas ucapan cowok itu, karna dia sibuk dengan pikiranya sendiri.


Mentari menarik nafasnya panjang lalu menghembuskanya secara perlahan. ''Lo kesini buat apa? Kelas lo, kan di sebelah,'' jelas Mentari membuat Steven menyungkirkan senyuman tipisnya.


''Gue tertarik sama lo.''


Empat kata di keluarkan Steven, membuat Mentari menaikkan alisnya sebelah. Tanda tidak mengerti dengan apa yang barusan di katakan oleh Steven.


Dado menyenggol lengan milik Tamara.


''Apa sih, Do!'' kesal Tamara.


''Lihat noh sana,'' ucap Dado menunjuk kearah Mentari meggunakan dagunya.


Otomatis Tamara melihat kearah yang di tunjuk Dado. ''Buat apa tuh anak kesini,'' ucap Tamara melihat Steven menatap Mentari dengan tatapan kagum.


''Jangan sampai cowok biang masalah di sekolah ini, luluh karna Mentari. Bisa-bisa akan terjadi persaingan sengit,'' kata Dado seraya menggelengkan kepalanya pelan.


''Dih, cukup Agas sama Mentari aja. Steven nggak usah masuk-masuk,'' decak Tamara.


‘’Namanya juga suka. Cowok mana sih yang mau nolak pesona seorang Mentari,'' jelas Dado membuat Tamara mengganguk tanda setuju dengan ucapan cowok itu.


Renal yang dengan seksama mendengar percakapan Tamara dan Dado mengangguk paham. Dia baru tau, jika Mentari penakluk cowok nakal.


''Perasaan itu kayak tumbuhan.'' Renal berkata, tanpa mengalikan pandanganya dari Mentari dan Steven, yang masih mengobrol.


Dari sini, mereka tidak terlalu jelas mendengar obrolan Mentari dan Steven.


''Seiring berjalanya waktu, tumbuhan itu akan berkembang. Begitupun dengan perasaan seseorang. Seiring berjalanya waktu, akan tumbuh rasa ingin memiliki,'' lanjut Renal membuat Alvaro mencernah setiap ucapan Renal yang keluar.


''Al,'' panggil Renal dengan suara pelan.


Jangan sampai orang yang duduk di belakanganya, mendengar percakapanya dengan Alvaro.


‘’Al.'' Renal kembali memanggil Alvaro.


Namun cowok itu hanya diam saja.

__ADS_1


''Alvaro Tanujaya.'' Renal menyebut nama asli Alvaro membuat cowok itu menatap Renal dengan dingin.


''Lu berisik,'' cecar Alvaro membuat Renal kembali cengengesan kepada Alvaro.


''Gue mau kasi lo saran,'' kata Renal. ''Kalau lo mau,'' lanjutnya dengan serius, membuat Alvaro sedikit penasaran.


‘’Saran apa?'' tanya Alvaro dengan suara khas dingin miliknya, yang sudah melekat sejak dia lahir di dunia ini.


''Gue bisa bantu lo buat jadian sama ketua kelas lo, Mentari,'' balas Renal dengan serius, membuat Alvaro menatap Renal lebih dingin lagi.


''Nggak waras lo!''


Alvaro berdiri dari kursinya, meninggalkan Renal.


''Al!' panggil Renal mengikuti cowok itu.


Steven yang melihat Alvaro, kembali menatap Mentari. Lalu senyuman penuh arti terbit di wajah milik Steven.


‘’Gue suka sama lo, Mentari!''


Seluruh murid-murid di dalam kelas, langsung menatap kearah Steven, mengucapkan kata suka dengan lantang kepada Mentari.


Tidak ada angin, tidak ada hujan. Cowok itu tiba-tiba datang kesini mengucapkan kata suka kepada Mentari.


Langkah kaki Alvaro otomatis terhenti, membuat Renal ikutan berhenti.


‘’Steven nembak Mentari?''


Suara bisikan mulai terdengar di dalam kelas. Mereka sudah tau, jika Steven dan Laura berpacaran. Apa lagi saat perlombaan lukis, Steven melukis wajah milik Laura bersama denganya.


‘’Mentari, kan pacaran sama Agas.''


''Diluar dugaan.''


Teman kelas Mentari bergosip, tiba-tiba saja Steven mengutarakan rasa sukanya kepada Mentari.


‘’Udha gue dugah,'' ucap Dado, seraya menopang dagu.


''Itu Alvaro juga, ngapain berhenti di situ,'' lanjut Dado, melihat Alvaro dan Renal berhenti dekat dari Steven dan Mentari.


Tamara sedari tadi memperhatikan punggung milik Alvaro. Sungguh, punggung milik Alvaro sama persis dengan punggung cowok bertopeng yang dia sukai.


''Do,'' panggil Tamara, tanpa melepaskannya pandanganya dari punggung kokoh milik Alvaro.


''Napa?'' tanya Dado.


''Kok gue rasa, Alvaro sama cowok yang gue suka mirip,'' kata Tamara membuat Dado langsung menyentil kening milik Tamara.


‘’Mulai halu lo, Ra.''


Alvaro berjalan melewati Steven dan Mentari, di ikuti oleh Renal di belakangnya.

__ADS_1


''Alvaro, Renal!'' panggil Mentari membuat langkah kaki kedua cowok tampan itu terhenti.


''Jangan keluar. Ini masih jam pelajaran,'' lanjut Mentari.


Renal membalikkan tubuhnya, namun tidak dengan Alvaro masih membelakangi Mentari.


''Kita berdua cuman mau izin ke toilet bu ketu,'' ucap Renal membuat Steven menatap cowok asing itu.


''Lo murid baru?'' tanya Steven kepada Renal.


Bukanya menjawab, cowok itu langsung membalikkan tubuhnya mengajak Alvaro keluar kelas.


''Gue kasi waktu sepuluh menit,'' kata Mentari setelah Renal dan Alvaro pergi.


''Siap bu, ketu!''


''Lebih baik lo balik ke kelas,'' ucap Mentari kepada Steven.


''Ck! Berani banget lo dekatin Mentari gue.''


Suara milik Agas masuk kedalam indra pendengaran Mentari dan teman sekelasnya.


''CIEEE!!!!'' teriak teman kelas Mentari.


‘’Pawangnya Mentari datang,'' ucap Dado dengan tersenyum baper melihat kearah Steven dan Agas bertatapan tajam.


‘’Balik ke kelas!'' perintah Agas kepada Steven membuat cowok itu tersenyum sinis kearah Agas.


''Lo siapa nyuruh gue?'' tanya balik Steven membuat Agas menyungkirkan senyumanya.


''Lo nggak tau, kalau gue ketua kelas ips,'' jelas Agas kepada Steven. ''Jadi...sekarang lo balik ke kelas!''


''Agas, bia—''


''Biar gue yang urus bocah ini.'' Agas menempelkan jari telunjuknya pada bibir Mentari, membuat gadis itu terdiam melihat tindakan Agas.


Sementara teman kelas Mentari yang melihat itu, mengigit tangan mereka. Tentu saja mereka baper dengan tindakan Agas tadi.


''Siapa yang lo bilangin bocah!'' kelakar Steven, tidak terima jika Agas mengatainya dengan tatapan bocah.


Mentari memijit pelipisnya, jangan sampai Agas dan Steven kembali beradu jotos, karna hanya perdebatan kecil saja.


Apa lagi Mentari sudah tau, jika Steven itu sangat mudah emosi.


''Hmm...''


Suara deheman seseorang, membuat Agas, Steven dan Mentari melihat kearah pintu. Rupanya yang datang adalah Renal dengan Alvaro.


Yang berdeham tadi adalah sosok Renal. Agas menaikkan alisnya sebelah melihat Renal. Dia baru melihat Renal di sini, jadi bisa Agas simpulkan jika cowok yang bersama Alvaro adalah murid baru di kelas ipa.


Alvaro menatap Agas dan Steven secara bergantian, dengan wajahnya yang dingin di sertai sorot matanya yang tajam.

__ADS_1


''Kalau mau adu bacot, jangan di kelas sini. Mending kalian pergi. Kelas kalian berdua di sebelah,'' sindir Alvaro dengan mimik wajah dinginyai.



__ADS_2