
Deruman motor Agas terdengar di telinga Runi. Dia melihat Mentari masih mengenakan baju seragam sekolahnya bersama dengan Agas.
Mentari turun dari motor Agas. Seperti biasa, Agas melepaskan helm yang dikenakan oleh Mentari.
''Makasih,'' ucap Mentari dan dibalas anggukan kepala oleh Agas.
Mentari menatap kedai mamahnya yang sudah ramai. Dua hari yang lalu, kedai milik Runi di tambah sedikit luas.
''Kedai mamah makin hari makin ramai,'' menolog Mentari melihat dari luar pengunjung kedai yang ramai.
''Udah bukan kedai lagi sih, namanya, ini. Karna udah sedikit luas, tempatnya juga sudah esthetic, bagus buat nongkrong. Kalau perlu di ganti jadi cafe aja. Tinggal tambah akustik di dalamnya, gue yakin semakin ramai.'' Agas berkata seraya menatap kedai di depanya yang sudah sedikit luas dari biasanya.
Mentari mengangguk membenarkan perkataan Agas, namun jika dia menggunakan akustik maka biaya akan keluar lagi. Cukup begini saja, asal ramai. Itu sudah lebih dari cukup.
Mereka berdua masuk kedalam, sungguh Mentari terpesona dengan kedai mamahnya yang di dalamnya jauh lebih bagus lagi, setelah di renovasi dua hari yang lalu.
''Halo, Tan,'' sapa Agas kepada Runi yang sedang duduk di depan meja kasir.
Runi tersneyum hangat kearah Agas. ''Kenapa nggak pulang dulu? Langsung mampir kesini, entar orang di rumah kamu nyariin.'' Runi berkata sembari menggelengkan kepalanya.
Agas tertawa kecil. ''Mau singgah ngopi dulu, Tan. Baru pulang,'' balas Agas membuat Mentari yang membuat teh menyahut.
‘’Bukan singgah ngopi, tapi singgah ngeteh!'' sahut Mentari membuat Agas tertawa kembali. Sementara Runi hanya tersenyum kecil lalu fokus dengan catatan di hadapnya.
Yah, Agas memang tidak suka minum coffe. Dia lebih menyukai teh. Entahlah, mengapa lidahnya sangat tidak suka dengan coffe.
Mentari membawa teh untuk Agas, dia letakkan diatas meja. ‘’Silahkan di minum,'' ucap Mentari lalu pergi dari hadapan Agas.
Mentari sibuk dengan buku racikan di hadapanya, yang akan dia buat untuk menciptakan menu coffe baru di kedai mamahnya.
''Tan,'' panggil Agas kepada Runi.
''Kenapa nggak ganti nama kedai tante jadi Cafe,'' saran Agas kepada Runi yang sudah menutup buku catatannya. ‘’Kedai tante ini udah lumayan luas, renovasinya juga bagus. Udah pantas jadi cafe, tempat nongki anak muda. Tante juga udah bisa buka tempat ini sampai jam 12 malam. Karna anak muda sekarang nongki sampai tengah malam,'' saran Agas kepada Runi.
‘’Tinggal tambah akustik, udah pasti tambah bagus, Tan,'' lanjutnya.
‘’Biar Agas yang bayar akustiknya.''
Runi mendengar seksama perkataan Agas. ''Nggak usah, Gas. Kayak gini aja tante udah Bersykur banget. Nggak nyangka, kalau kedai sederhana tante ini bisa seluas ini,'' ucap Runi kepada Agas.
Agas hanya mengangguk. '' kalau tante berubah pikiran, tante bisa hubungi, Agas, yah,'' ucapnya lagi.
Runi mengangguk seraya tersenyum. Agas bukan hanya baik kepada Mentari saja, Agas juga baik kepada keluarga Mentari.
__ADS_1
Agan mulai meminum teh buatan Mentari, lalu matanya sibuk mengamati kedai milik Runi yang sudah pantas menjadi cafe, menurut Agas.
Tanpa sengaja, ekor mata Agas mendapatkan sosok Alvaro yang sedang memejamkan matanya. Bisa Agas lihat, dari wajah tampan Alvaro mempunyai banyak masalah.
Tidak ada yang mengetahui dunia Alvaro, bagaiamana kehidupan anak itu. Apa lagi di sekolah Alvaro tidak mempunyai satu teman pun.
''Mentari!''
Panggilan dari luar membuat pengujung kedai Runi menatap kearah luar, dia melihat sosok gadis dengan penampilan tomboy, memakai kaos oblong serta jelana jens gombrang yang lututnya sobek.
Dan tak lupa pula di sebelahnya ada cowok berkacamata membawa buku.
Runi menatap kearah luar lalu menatap Mentari.
‘’Teman kamu, Tar?'' Tanya Runi melihat anaknya ingin menghampiri gadis yang berteriak tadi.
‘’Iya, mah,'' jawabnya.
''Lo kerja di sini, Tar?'' Tanya Dado memperbaiki kacamatanya.
''Gue bantu mamah di sini, kedai ini milik mamah,'' jawab Mentari.
''Kedai?'' menolog Dado dan Tamara bersamaan.
''Ini bukan lagi kedai, Tar. Ini udah kayak cafe sederhana,'' ucap Tamara.
‘’Nah, benar tuh kata, Tamara,''timpal Dado.
Mentari tertawa kecil, ternyata pemikiran temanya ini sama dengan pikiran Agas.
''Kok lo nggak pernah bilang, sih. Kalau mamah lo punya tempat yang bisa di tempati nongki.'' Suara Tamara nampak kesal.
Bagaiamana tidak, jika sudah satu minggu lebih mereka berteman. Namun Mentari belum memberitahukan padanya.
''Lupa. Padahal gue udah punya rencana ajak kalian kesini. Tapi kalian lebih dulu kesini, tapi ngomong-ngomong, kalian tau dari mana kalau gue di sini?''
''Dari stori ig, Agas,'' jawab Tamara.
Mentari hanya mengangguk, Mentari sudah tau jika Agas mempromosikan kedai mamahnya ini kepada teman Instagram miliknya. Apa lagi pengikut Agas di Instagram lumayan banyak.
Bisa di katakan, semenjak Agas mempromosikan kedai mamahnya ini di pengikutnya di Instagram, tiba-tiba saja kedai Runi menjadi ramai. Bahkan Runi sampai merenovasi kedainya karna keuntungannya.
''Ayok masuk, biar gue buatin coffe,'' ajak Mentari.
__ADS_1
Lalu kemudian mereka masuk kedalam, Tamara menjadi pusat perhatian pengujung kedai. Bagaimana tidak, jika gadis itu mengenakan celana yang robeknya terlalu panjang di lututnya.
Tamara hanya mengabaikan tatapan mereka. ‘’Kampungan,'' gumam Tamara lalu duduk di meja nomor 8.
‘’Kalian mau minum apa?'' Tanya Mentari kepada kedua temanya itu.
‘’Gue coffe sembarang aja,'' ucap Tamara yang malas menyebut ingin minum coffe apa. Karna dia menyukai semua jenis coffe, apa lagi jika coffe itu gratis.
‘’Gue juga sembarang,'' timpal Dado dan di balas anggukan kepala oleh Mentari.
‘’Bentar yah, gue bakalan buatin kalian coffe yang barusan gue racik untuk menu baru di sini.'' Lepas mengucapkan kata itu, Mentari langsung pergi meninggalkan kedua temanya.
''Tar, gue pamit pulang, yah. Mami udah nelfon gue buat balik sekarang juga,'' pamit Agas kepada Mentari.
''Lo nggak bawain mamih lo makanan di sini?'' Tanya Mentari.
‘’Kapan-kapan, aja, Tar. Mamih nyuruh gue buru-buru,'' jawab Agas.
''Yaudah deh.''
‘’Jangan terlalu capek, Tar. Gue lihat juga di meja nomor tiga, ada teman kelas lo.''
Mentari menyeritkan alisnya. ‘’Siapa?'' Tanyanya.
‘’Alvaro.''
Mentari tidak terlalu memperhatikan meja nomor tiga, karna meja tersebut paling pojok.
''Yaudah, Tar. Gue balik, mamih udah nungguin.''
‘’Hati-hati, Gas!''
''Iya,'' balas Agas di sertai senyumanya yang memikat.
Coffe racikan Mentari sudah jadi, dia mengambil nampan untuk segera membawa ke meja nomor 8.
‘’Semogah rasanya, enak,'' ucap Mentari seraya meletakkan coffe diatas meja. ''Ini menu baru di kedai, Mamah. Kalau rasanya enak, besok gue daftarin di buku menu.''
''Tentunya enak, Tar. Apa lagi kalau gratis, heheh,'' ucap Tamara.
‘’Benar banget kata, Tamara. Apa lagi kalau yang racik cofenya cantik.''
''Idih....!'' sungut Tamara.
__ADS_1