
Music malam ini telah diputar yang sesuai dengan apa yang mereka akan lakukan, yaitu berdansa. Lampu diruangan tadi yang terang berubah menjadi lampu berwarna-warni menjadi lampu hias yang sangat pas untuk momen berdansa dengan pasangan kita.
Sementara Tamara celingak-celinguk mencari keberadaan cowok yang dia incar, siapa lagi kalau bukan cowok bertopeng yang tak lain dan tak bukan adalah Alvaro sendiri.
Tamara tersenyum sumringah, karna cowok dingin itu rupanya juga ingin berdansa, banyak yang tidak mempunyai pasangan namun mereka tetap bergabung karna dia yakin didalam lingkaran nanti mereka akan mendapatkan partner dansa, entah itu yang tertukar atau yang tidak mempunyai pasangan.
"Yuk," ajak Agas menjulurkan tangannya kearah Mentari. Mentari melirik Agas sejenak lalu menyambut tangan cowok itu.
Agas dan Mentari langsung berdansa, bergabung dengan yang lainya yang sudah asik berdansa. Lampu dan music malam ini sangat mendukung bagi mereka yang sedang kasmaran.
Tangan Mentari yang satu dia simpan diatas pundak Agas dan yang satunya dia simpan dipinggang milik Agas, begitupun dengan Agas.
Mereka berdansa sesuai dengan iringan music, semua berdansa malam ini dengan pasangan masing-masing dan juga pasangan yang dia dapatkan.
Jidat milik Agas dan Mentari saling bersentuhan, Agas sibuk memperhatikan wajah Mentari sementara Mentari sibuk melihat gerakan kakinya takut-takut jika dia menginjak kaki Agas, dia belum terlalu mahir dalam berdansa namun Agas sudah jangan ditanyakan lagi, sudah tentu jika cowok itu mahir dalam berdansa.
Tamara langsung menghampiri cowok incarannya, itu semua tidak luput dari mata Dado yang menatap kesal kearah Tamara, saking sukanya Tamara kepada cowok itu sehingga dia yang ingin mengajaknya berdansa.
"Lo mau nggak dansa sama gue?" tawar Tamara sehingga Alvaro yang sudah duduk ditempatnya tadi melirik kearah Tamara, sosok gadis yang sudah dia kenal dalam kelas.
Tidak ada yang tau, jika dibalik topeng tersebut adalah sosok Alvaro.
Tangan Tamara masih menggantung di udara, dia harap cowok dihadapannya menerima ajakannya agar dia tidak malu dan melaksanakan apa yang ingin dia lakukan, yaitu membuka topeng cowok tersebut.
Alvaro langsung menyambut tangan Tamara membuat Tamara masih tidak menyangka jika cowok yang dia idamkan sejak pertama kali bertemu ditempat lomba menyambut tangannya.
Sebenernya Alvaro ingin mengabaikan tangan tersebut, namun karena dia mempunyai banyak pikiran sehingga dengan terpaksa dia menyambut tangan tersebut.
Alvaro dan Tamara langsung berdansa membuat jantung milik Tamara berdetak kencang. Alvaro yang sangat pandai berdansa membuat Tamara sangat sulit menyeimbangkan tubuhnya, untung saja Tamara bukan gadis yang baru saja berdansa, jika tidak dia akan malu pada cowok dihadapannya yang sangat mahir berdansa.
__ADS_1
Tamara semakin yakin, jika cowok yang dia temani berdansa malam ini bukan cowok sembarangan. Buktinya saja dia sangat pandai berdansa dan caranya juga sangat elegan. Apa lagi cowok itu sangat irit bicara membuat Tamara semakin yakin jika dia tidak salah mencintai sosok dihadapannya.
"Lo pandai juga berdansa," puji Tamara agar pendekatannya dengan cowok tersebut semakin dekat.
Alvaro tidak membalas perkataan Tamara membuat Tamara semakin berpikir jika cowok dihadapannya sangat sulit untuk ditaklukkan, memang kenyataannya seperti itu.
Tamara dan Mentari saling membelakangi karna mereka sedang berdansa dengan pasangan masing-masing.
"Love you, Tar," kata Agas pelan diselah-selah mereka sedang berdansa.
Mentari mendongakkan kepalanya, sehingga bertatapan dengan Agas dengan jarak yang sangat dekat, bahkan hidung minimalisnya bersentuhan dengan hidung mancung milik Agas.
Mentari bingung harus menjawab seperti apa perkataan Agas, sampai-sampai dia tidak memperhatikan lagi kakinya karna sudah lancar.
Mentari hanya tersenyum kepada Agas membuat Agas juga tersenyum kepada Mentari.
Agas memutar tangan Mentari keatas sehingga pasangan dansa mereka tergantikan, begitulah aturannya jika music tersebut seperti itu maka teman dansa akan bertukar.
Mentari meneguk Saliva nya susah payah, karna yang sedang dia temani berdansa adalah cowok yang dia pikir Alvaro, padahal memang Alvaro orang-orang saja belum mengetahuinya.
Alvaro memelankan cara berdansanya tidak seperti tadi saat bersama Tamara. Karna dia merasakan gerakan Mentari belum terlalu mahir.
Bahkan Mentari menginjak kaki Alvaro membuatnya mengigit bibirnya, mungkin karna dia grogi, karna saat berdansa dengan Agas dia tidak segerogi ini, bahkan dia tidak pernah menginjak kaki Agas.
Mungkin dia sudah biasa dengan Agas, jadi dia tidak merasakan seperti ini jika bersama dengan Agas. Namun dengan orang dihadapannya membuatnya grogi sekaligus jantungnya berdetak kencang.
Dia mengingat kejadian menuju kamar mandi tadi, dimana dia tidak sengaja menubruk cowok itu karna sibuk mencari Agas.
Agas celingukan mencari keberadaan Mentari, karna dia tidak melihat gadis itu, entah siapa yang dia temani berdansa. Saking banyaknya orang malam ini membuat Agas susah mencari keberadaan Mentari apa lagi lampunya tidak mendukung, karna hanya menggunakan lampu dansa.
__ADS_1
Partner dansa Agas saat ini Tamara, sama seperti Agas. Tamara juga sibuk mencari keberadaan cowok bertopeng tersebut padahal kesempatannya untuk membuka topeng cowok tersebut.
"Mentari mana?"
"Cowok misterius itu mana?"
Agas dan Tamara sama-sama bertanya padahal mereka tidak tau jika partner mereka masing-masing berdansa. Agas menyesal melepaskan Mentari.
Agas dan Tamara berdansa dengan mata mereka sibuk mencari partner mereka masing-masing, bahkan Tamara sempat terkejut karna Alvaro langsung melepaskan dirinya dan sekian detik dia bersama dengan Agas.
Lampu dansa meredup membuat Mentari mendongakkan kepalanya jangan sampai mati lampu, padahal itu hanya lampu dansa saja.
Cup
Lampu meredup membuat Mentari melototkan matanya, bersamaan dengan itu seseorang mencium bibirnya dengan singkat membuat Mentari mematung.
Apa-apaan ini, ini adalah ciuman pertamanya dan dicuri begitu saja.
Lampu kembali seperti tadi berwarna-warni membuat Mentari menatap cowok dihadapannya yang mengenakan topeng.
"K-au," Mentari berkata dengan gugup, dia tidak tau apakah hanya halusinasi saja saat dia merasakan seseorang menciumnya, namun itu semua seperti nyata.
"K-au mencium ku?" tanya Mentari, dia harap itu hanya halusinasi dia berharap jika cowok itu mengatakan kata tidak.
"Gue cium lo, emang kenapa?" tanya Alvaro dengan dingin lalu memutar tubuh Mentari membuat gadis itu semakin pling-plang, Alvaro memegang pinggang Mentari dengan kedua tangannya sementara tangan Mentari berada dipundak Alvaro.
"Gue harap itu bukan ciuman pertama lo," kata Alvaro lagi sembari berdansa santai menikmati music dan menatap wajah Mentari dengan lampu hias.
"Ini ciuman pertama gue." Mentari langsung menginjak kaki Alvaro dengan keras membuat Alvaro merintis apa lagi gadis itu menggunakan sepatu tinggi.
__ADS_1