
Mentari kembali kedalam kelas bersama dengan Renal.
''Gue minta perhatiannya sebentar teman-teman!'' ucap Mentari membuat teman sekelasnya langsung melihat kearah depan.
''Kita kedatangan murid baru,'' ucap Mentari membuat teman sekelasnya menatap Renal.
Cowok itu tersenyum ramah, sementara Alvaro hanya menatapnya sejenak lalu kembali fokus dengan ponselnya.
''Ra,'' panggil Dado, tanpa mengalihkan pandanganya dari depan.
''Aaa,'' jawab Tamara dengan malas.
''Lo merasa nggak sih, murid baru di atas bakalan nambahin beban Mentari di kelas,'' celetuk Dado membuat Tamara mengangguk kecil dengan ucapan Dado barusan.
‘’Gue sepemikiran sama lo,'' balas Tamara.
''Tampan banget sih!''
''Aaaa, mukanya baby Face banget!''
Renal yang mendengar pujian itu semakin besar kepala, bahkan cowok itu menyugar rambutnya kebelakang, membuat Mentari menggelengkan kepalanya melihat tingkah Renal.
''Lo boleh perkenalin nama lo sama mereka,'' ucap Mentari lalu berjalan menuju tempat duduknya.
__ADS_1
''Hmm...'' Terlebih dahulu Renal berdehem.
Dari ekor mata Alvaro tadi, dia memperhatikan tingkah Renal, cowok itu tingkat kepedean nya seperti langit.
Untung saja dia benar-benar tampan, jika tidak Renal akan di olok-olok, namun Alvaro berpikir, jika dirinya lebih tampan dan maju beberapa langkah ketimbang Renal.
''Nama gue Renal, kalian bisa manggil gue dengan sebutan ,Re,'' ucap cowok itu mulai memperkenalkan namanya.
''Kalian juga boleh manggil gue dengan sebutan sayang, dengan satu syarat. Kalian harus cantik,'' lanjutnya dengan pede, membuat Alvaro berusaha menahan tawanya.
Tamara melotokan matanya, lalu tertawa keras mendengar ucapan Renal, suara tawa milik Tamara mengganggu telinga milik Alvaro, apalagi, kan Tamara dan Dado duduk di belakang Alvaro.
Sementara Aril yang sedari tadi bermain game, mendongakkan kepalanya, dia sepertinya tertarik berteman dengan murid baru itu.
Namun Aril biasa menyahut sekali-kali mengeluarkan suaranya, berbeda dengan Alvaro, cowok itu hanya mengucapkan sepatah katapun untuk Mentari, sementara teman kelasnya yang lain tidak pernah.
''Pede banget, loh!'' sahut Tamara dari bawah, seraya memainkan pulpennya.
Sehingga Renal langsung melihat sosok gadis tomboi, dibelakang Alvaro.
''Kepedean seseorang itu, di ukur dari ketampananya. Nggak apa-apa gue kepedean, asal muka gue memadai!'' balas Renal membuat Tamara mendengus.
''Dih!'' julit Dado yang hanya Tamara saja mendengarnya.
__ADS_1
Renal berjalan menuju kursi kosong, dia akan duduk bersama dengan Alvaro. Karna kebetulan cowok itu duduk hanya seorang diri saja.
Renal mulai duduk di samping Alvaro. ''Kenapa lo duduk sendiri, Al?'' tanya Renal, setelah berhasil mendudukkan bokongnya diatas kursi.
Tamara dan Dado saling berpandangan, seakan-akan mereka berkomunikasi melalui tatapan matanya.
‘’Mereka saling kenal?'' ucap Dado dan Tamara bersamaan, dengan suara pelan.
Namun Renal mendengarnya.
''Mentari!''
Mentari langsung melihat keasal pintu, rupanya yang memanggilnya adalah Steven.
Buat apa cowok itu kesini? Batin Mentari.
Alvaro langsung melihat kesal suara, rupanya yang datang adalah Steven, sosok cowok yang pernah berkelahi denganya.
Alvaro bisa melihat. Steven menatap Mentari dengan tatapan lain. Tatapan yang sebelumnya tidak pernah Steven berikan kepada siapapun, kecuali kepada Laura.
Renal menyenggol lengan Alvaro, lalu berbisik kepada Alvaro. ''Lo suka saka sama, Mentari?'' bisik Renal, membuat Alvaro langsung menatap datar cowok itu.
Renal hanya cenggengasan, ‘’gue bisa lihat dari mo lo, Al,'' ucap Renal.
__ADS_1