Ketua Kelas Pilihan

Ketua Kelas Pilihan
Alvaro yang keras kepala


__ADS_3

Mentari ingin mengabaikan apa yang dia lihat, lalu kembali melangkahkan kakinya untuk segera keruangan kepala sekolah, namun perkataan Laura yang terdengar jelas di telinganya menghentikan kembali langkah kakinya.


“Gue hamil.”


Deg


Mentari langsung mematung saat dengan jelas mendengar perkataan Laura jika dia hamil. Apa maksud gadis itu megatakan jika dirinya hamil? Mentari menggelengkan kepalnya, dia tidak akan salah dengar jika Laura mengatakan hal seperti itu pada Agas.


Mentari melihat Agas mengacak rambutnya. “Dasar bodoh!” desis Agas kepada gadis di hadapannya.


“Lo harus tanggung jawab,” kata Laura dengan langtang membuat Mentari tidak bisa berkutik di tempatnya. Apa Agas yang menghamili Laura? Rasanya Mentari tidak percaya jika Agas melakukan perbuatan keji seperti ini kepada Laura mantan kekasihnya sendiri.


“Ngapain lo di sini'?”


Suara dingin cowok itu membuat Mentari tersentak kagaet, dia melihat kearah belakang melihat Alvaro dengan wajahnya yang dingin menyampirkan tasnya di punggungnya dan jangan lupa, baju sekolahnya berantakan sangat jauh dengan kata RAPIH.


Mentari pikir cowok dingin ini sudah berada di ruangan kepala, sekolah karna lebih dulu Alvaro meninggalkan dirinya di kelas.


Entahlah, mengapa Alvaro langsung mengeluarkan perkataan yang menurutnya tidak penting untuk di pertanyakan.


Mentari saja terkejut, karna Alvaro langsung bertanya mengapa dia masih di sini. Tidak mungkin juga dia mengatakan jika dia menguping pembicaraan Agas dan Laura.


Alvaro melirik kearah objek yang di lihat Mentari lalu kembali melirik Mentari, sekarang dia paham mengapa gadis ini masih di sini belum ke ruangan kepala sekolah.


Alvaro langsung melewati Mentari untuk segera menuju ruangan kepala sekolah, Mentari melihat punggung kokoh Alvaro yang sudah melewati dirinya.


Lalu Mentari kembali melirik Agas dan Laura.


Perkataan Laura tadi sukses membuat otaknya menjadi dejavu, Mentari kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan kepala sekolah.


“Urusan kehamilan lo bukan urusan gue!” erang Agas berusaha menahan emosinya kepada gadis yang sudah tidak dia inginkan di hadapnya.


“Lo harus tanggung jawab!”


“Cowok yang hamilin lo yang seharusnya tanggung jawab, bukan tanggung jawab ke gue!” Sosor Agas, dia tidak berpikir lagi jika dia berbicara kasar kepada sosok perempuan di hadapnya.


“Lo ketua kelas, seharusnya ini tanggung jawab lo juga,” gerutu Laura.


Agas menyungkirkan senyumana mengerikan membuat Laura menjadi hati-hati dengan cowok tampan di hadapnya.

__ADS_1


“Gue cuman bertugas ngurusin kelas, bukan bertugas ngurusin orang hamil!”


“Urusan kehamilan lo nggak ada hubungannya sama gue sebagai ketua kelas!”


“Urusan pribadi teman kelas gue bukan urusan gue, gue ketua kelas bukan pengurus urusan pribadi orang-orang!” Lepas itu Agas langsung meninggalkan Laura dengan keadaan sangat marah.


Lagian, Agas juga tidak percaya jika Laura saat ini hamil. Dia yakin gadis itu hanya pura-pura agar dirinya kembali kepadanya.


Agas tersenyum miris, sayang sekali posisi Laura sudah tergantikan dengan sosok Mentari ketua kelas MIPA 1.


“Gue bakalan rebut lo dari Mentari, Gas!” Laura berkata dengan yakin seraya melihat punggung kokoh Agas sudah meninggalkan dirinya.


“Termaksud menyingkirkan Mentari dari hidup lo,” sambungnya sembari tersenyum devil lalu pergi dari tempat tadi.


Alvaro sudah duduk di hadapan kepala sekolah, dia hanya menunggu Mentari yang belum juga datang.


Kepala sekolah yang mengenakan kacamata itu menatap kearah pintu untuk menunggu seseorang mengetuk pintu ruangannya.


Berselang beberapa menit kemudian, pintu ruangannya di ketuk.


Tok…Tok


Mentari melirik Alvaro di sampingnya.


“Hmm,” deheman kepala sekolah tidak di dengarkan oleh Mentari, seakan-akan gadis itu menjadi tuli seketika.


“Mentari, ngapain kamu menatap Alvaro seperti itu?” Perkataan kepala sekolah di hadapnya sukses membuat Mentari mematung.


Alvaro melirik ke sampingnya, benar saja. Gadis itu sedang menatapnya sampai detik ini. Mereka berdua saling bertatapan. Mentari dengan wajahnya yang sudah pucat karna ketahuan dan mendapatkan teguran dari kepala sekolah. Dan Alvaro dengan wajahnya yang dingin melirik Mentari di sampingnya.


“Mengapa kalian menjadi pandang-pandangan, saya menyuruh kalian berdua kesini bukan untuk saling pandang seperti ini,” tegas kepala sekolah membuat Mentari langsung melihat kearah depan.


Sementara Alvaro masih bersikap tenang, tidak seperti Mentari yang menjadi pucat pasih.


“Maaf bu,” kikuk Mentari dengan jantungnya yang tidak karuan lagi.


“Apa kalian berdua tau mengapa ibu memanggil kalian berdua kesini?” Tanya Kepala sekolah dan dibalas gelengan kepala oleh Mentari.


Sementara Alvaro hanya diam saja.

__ADS_1


“Ibu meminta, Alvaro kesini untuk minta maaf kepada Steven,” kata kepala sekolah membuat mata Alvaro menjadi sangat tajam saat kepala sekolah mengatakan jika memanggil Alvaro untuk meminta maaf kepada Steven.


“Kata maaf tidak akan keluar dari mulut saya untuk Steven!”


Beberapa kata yang di keluarkan oleh Alvaro dengan suara tegas mampu membuat Mentari meneguk salivanya susah payah.


Mentari bertanya-tanya, apa hubungannya dengan dirinya di panggil kesini dengan Alvaro yang minta maaf pada Steven saat kejadian satu minggu yang lalu.


Kepala sekolah itu tersenyum kearah Alvaro yang memasang wajahnya yang dingin.


“Kalau kamu tidak minta maaf, maka saya akan….” Kepala sekolah menggantung perkatanya dengan melirik Mentari membuat gadis itu merasakan sesuatu yang akan di sangkutkan dengan dirinya.


“Saya akan mengeluarkan Mentari dari sekolah ini.”


Deg


Bagai di sambar petir di siang bolong membuat jantung Mentari seperti ingin berhenti berdetak.


“Saya tidak peduli!”


Lepas mengatakan itu Alvaro langsung beranjak dari tempat duduknya, saat ingin keluar dari ruangan kepala sekolah dia berpapasan dengan wajah songong milik Steven.


Steven tersenyum sinis kearah Alvaro, membuat Alvaro mengepalkan tanganya dengan wajahnya masih sama, yaitu dingin.


“Minta maaf sama gue!” sembur Steven.


Dengan matanya bak elang, Alvaro melirik Steven. “F*ck!”


Perkataan Alvaro sukses membuat Steven langsung saja mencengkeram kerah baju Alvaro. Kepala sekolah langsung berdiri dari tempat duduknya melihat tatapan membunuh kedua muridnya itu.


“Minta maaf sama gue!” desis Steven tertahan masih setia mencengkeram kerah baju Alvaro.


Alvaro melirik tangan Steven yang masih mencengkam kerah bajunya. “Lepasin tangan lo dari gue!” geram Alvaro melirik Steven dengan jaraknya yang sangatlah dekat.


“Atau mau gue buat lo masuk kerumah sakit yang kedua kalinya!” ancam Alvaro dengan serius, dia tidak segan-segan mematahkan tangan Steven.


Dengan kasar, Steven langsung melepaskan cengkeramanya dari Alvaro.


Alvaro menatap Steven dengan tatapan membunuh. “Jangan cari masalah sama gue!” lepas itu Alvaro langsung pergi meninggalkan Steven dengan nafas Steven memburuh.

__ADS_1


__ADS_2