
Siang itu, suara d*sahan demi d*sahan dari dua orang yang sedang melakukan hubungan suami istri itu, kini kian menggema memenuhi seluruh kamar.
Kamar itu bahkan tidaklah kedap suara, namum keduanya seakan tak memperdulikan hal tersebut. Karena sekarang tidak ada siapa-siapa di rumah selain mereka berdua.
"Sayang kamu kenapa diam?" Tanya leon melihat kirey membalikan badannya setelah habis bercinta.
Kirey tak menggubris pertanyaan leon, ia lebih memilih mengambil handuk dan memasuki kamar mandi. Meninggalkan leon yang badannya masih tertutup menggunakan selimut.
Kirey marah, ia masih melihat tato di pinggang suaminya saat mereka habis bercinta. Dia benar-benar merasa tak terima, mendapati leon belum juga menghapus tato tersebut.
"Kenapa sekarang aku merasa sangat marah hanya karena sebuah tato? apa benar aku cemburu?" Gumam kirey, ia bertanya pada diri sendiri.
Setelah selesai membersihkan diri, kirey keluar berganti pakaian. Ia hanya melewati suaminya begitu saja, bahkan tanpa menyapa leon yang sedang duduk menatapnya dari atas ranjang.
"Kamu akan kemana?" Tanya leon menyelidik.
"Ke rumah orang tuaku.," jawab kirey singkat, padat, dan jelas.
"Sekarang apalagi yang membuatmu marah?"
"Tidak dak ada sama sekali"
Tapi leon merasa tak puas mendengar jawaban kirey, ia merasa istrinya seperti menyembunyikan sesuatu.
Kirey melangkah cepat keluar kamar, karena tak ingin berdebat dengan leon dan malah membuatnya semakin tak dapat mengendalikan emosinya.
Sesampainya di rumah orang tuanya, kirey langsung berjalan masuk menuju kamarnya. Ia menghempaskan badannya ke tempat tidur, menghela nafas kasar.
Entah mengapa, ia merasa marah dan ingin membalas leon. Ia kemudian bangkit bejalan mendekati lemari, membuka dan mengambil sebuah sweter hitam milik sean.
Yah, sean pernah memberikannya sebuah sweter, dan buku. tapi tak pernah ia pakai, ia hanya menyimpannya di dalam lemari
Kirey kemudian berjalan ke arah meja rias, ia melihat pantulannya di cermin, pikirannya menerawang. "Aku akan membalas kamu leon." Batin kirey.
Kirey merasa tak mengerti kenapa harus bertindak konyol begini, padahal masalahnya akan selesai jika ia membicarakan letak masalahnya pada leon.
__ADS_1
Tapi kirey lebih memilih membuat leon merasa kesal seperti yang ia rasakan, dia kemudian memutuskan kembali ke rumah mertuanya menggunakan sweter tersebut.
"Apa yang kamu pakai?" Tanya leon menyelidik, ketika ia melihat istrinya memakai sweter hitam yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Tapi bukannya menjawab, kirey malah memalingkan wajahnya ke samping. kirey tiba-tiba merasa gugup mendapati leon bertanya. Ingin rasanya kirey mengurungkan niatnya untuk membuat leon kesal, tapi semuanya telah terjadi. Kini leon tengah menatap kirey tajam.
"Aku akan bertanya sekali lagi, apa yang kamu pakai? punya siapa ini? jangan katakan ini milik pria itu?" tanya leon beruntun
"Jangan coba-coba mengelak karna aku tau benar setiap pakaian yang kamu punya, sweter ini jelas milik seorang pria. Jadi apa benar ini milik mantanmu itu?"
Dan betapa terkejutnya leon, ketika kirey menganggukkan kepala sebagai jawaban. Seketika itu juga leon menutup mata, kedua tangannya memijat kepalanya yang tiba-tiba merasa pening.
Jantung kirey berdegup kencang, ia tak berani menatap leon. Bakan tanpa sadar ia menelan ludahnya sendiri. Sementara leon masih diam mematung, mencoba mengendalikan emosinya sendiri.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan?" Tanya leon dingin.
"Hubungan kita sudah membaik, bahkan sangat baik-baik saja. Lalu kenapa kamu masih menggunakan barang milik mantan kekasihmu?"
"Kamu juga masih belum menghapus tato itu." Seru kirey akhirnya, ia mencoba memberi alasan membela diri.
"Kalau tentang tato ini. Aku hanya belum memiliki waktu untuk menghapusnya, dan sudah aku tegaskan tato ini telah di buat lama. Ini hanya masa laluku yang sudah tidak penting lagi."
"Kemarikan barang tersebut." Leon menarik dan membuka sweter tersebut dan dari badan kirey dengan kasar, ia lalu berjalan keluar kamar.
Kirey mulai menangis, tapi kemudian menghapus air matanya cepat. Ia lalu berjalan keluar mengikuti langkah leon, kini keduanya tengah berada di halaman belakang. Kirey merampas sweter tersebut dari tangan leon.
"Berhenti memancing emosiku, beri kemari sweter itu." Tekan leon.
"Aku tau aku salah, maafkan aku." Cicit kirey, ia mulai kembali menangis.
"Aku hanya merasa kesal, karena kamu belum juga menghapus tato tersebut. Aku sengaja membuatmu kesal maafkan aku hiks, hiks.."
"Jika kamu tidak menyukainya aku akan membakar sweter ini, karena ini tidak ada artinya sama sekali bagiku." Ucap kirey
Kemudian kirey berjalan mendekati leon, dirabanya saku celana milik suaminya. Mendapati korek api di sana lalu menyalakannya, ia mulai membakar sweter tersebut.
__ADS_1
Leon menarik nafas panjang, masih dengan wajah datarnya. "Aku tidak marah padamu, hanya sedikit kecewa saja. Sekarang berhentilah menangis." ucap leon, tatapnya berubah lembut.
Kini keduanya tengah berada di dalam kamar setelah kejadian tadi, leon sedang berbaring menatap langit kamar, sedangkan kirey duduk di atas meja rias.
"Jadilah istri penurut, jangan mencari atau membuat masalah lagi. Aku tak tau sampai kapan aku bisa terus bersabar, pergilah mandi kita akan keluar" Ucap leon.
.
.
.
"Apa kamu suka?" Tanya leon, ia mengajak kirey melihat rumah yang akan mereka tempati.
Rumah tersebut jaraknya tak begitu jauh dari rumah ayah tama, hanya berkisar 10 menit saja sudah sampai. Ayah memang sengaja membangun rumah dekat rumahnya, agar tak terlalu jauh dari menantu perempuannya.
"Kamu yakin tidak ingin merubah atau menambahkan sesuatu pada rumah ini?" Tanya leon.
"Iya, aku serahkan semuanya kepada ayah." jawab kirey, mereka berdua lalu berjalan masuk melihat dalam rumah yang baru seperempat jadi tersebut. "Rumah ini terlalu besar untuk ukuran yang akan di tempati dua orang." Ujar kirey ketika ia keluar dari salah satu ruangan.
"Kita akan memilik selusin anak, hingga membuat rumah ini cukup untuk di tempati." Jawab leon.
"Enak sekali kamu kalau berbicara, memangnya kamu yang akan melahirkan!" Seru kirey kesal.
Leon diam. Mereka berdua saling berpandangan satu sama lain, kemudian sama-sama tertawa.
"Beruntungnya aku menikahi kamu, terima kasih untuk segalanya, dan sekali lagi aku meminta maaf sering membuatmu kesal." Ucap kirey.
"Tidak, aku yang merasa beruntung beristrikan kamu." Balas leon sambil berjalan mendekati kirey, ia memeluk istrinya.
"Kenapa kamu bisa sangat sabar sih." protes kirey, ia mengangkat kepalanya menatap leon dari bawah.
"Orang keras kepala seperti kamu akan semakin menjadi-jadi jika di perlakukan dengan kasar. Lagi pula tidak ada yang dapat aku lakukan kalau mengenai hati, aku hanya bisa bersabar. Dan lihatlah hasil dari kesabaran aku sekarang."
Kirey merasa terharu mendengar ucapan leon, lalu ia semakin menenggelamkan kepalanya ke dada bidang suaminya. "Terima kasih" lirih kirey dalam pelukan leon.
__ADS_1