
Jika orang-orang berfikir leon sudah melupakan kirey, sepertinya mereka salah besar.
"Akhirnya kamu muncul juga." Bisik leon.
Bukannya tidak memperdulikan kirey lagi, tapi selama dua bulan belakangan ini bagaimanapun ia mencari, ia sama sekali tak menemukan keberadaan kirey. Berulang kali ia diam-diam datang ke rumah gadisnya itu, tapi tiap datang ia selalu melihat rumah kirey terkunci rapat.
Dan hari ini sepertinya tuhan sedang berbaik hati padanya. Saat mendatangi pernikahan ayahnya, ia melihat mata itu. Mata coklat yang sudah sangat ia rindukan. Kirey melihatnya terkejut seperti melihat sesosok hantu.
Perempuan yang ia cintai itu mengenakan dress berwarna peach, sangat cocok dengan warna kulit putihnya. Leon dapat melihat kirey berusaha menghindar ke arah pojokan.
Saat leon sedang berfikir keras bagaimana cara mendekati kirey, syukurlah sukma malah memanggil nama kirey dan berjalan mendekatinya.
Leon mengikuti langkah sukma. Walaupun senang ia merasa was-was dengan sukma, perempuan licik itu pasti merencanakan sesuatu. Leon berupaya bersikap tak perduli, walau sesekali ia tak tahan untuk melirik ke arah kirey.
Dan sepertinya dugaannya benar, sukma membuat drama berpura-pura jatuh tujuannya pasti ingin mempermalukan kirey, tapi sayang sukma sendiri yang harus malu.
Ia yang sejak dari tadi memperhatikan keduanya tau betul apa yang terjadi dan tidak mencoba ikut campur hanya memperhatikan saja, ia tau kirey dapat mengatasi sukma dengan mudah. Ia ikut terkekeh melihat senyum kemenangan di wajah kirey.
Dan saat kirey keluar dari gedung bersama mama ike. Leon diam-diam mengikuti langkah ibu dan anak itu dari belakang, meninggalkan sukma yang marah-marah melihat ia akan pergi.
Berbicara tentang sukma, perempuan itu sekarang bertindak seolah-olah mereka berdua mempunyai hubungan yang spesial. Sungguh membuatnya muak, sukma mengambil keuntungan dari baby al anaknya. Perempuan itu jelas tau jika leon lemah terhadap anak laki-lakinya itu.
Lupakan soal sukma. Leon kini tau jika kirey dan keluarganya menyewa rumah kosong tak jauh dari rumah lama mereka. Ia berfikir akan menunggu di depan rumah itu sampai kirey keluar. Tapi sayangnya sampai larut malam kirey tak kunjung keluar jadi leon memutuskan untuk pulang.
Tak menyerah, keesokan harinya leon datang lagi. Tapi kali ini, ia langsung mendatangi rumah nadira dan syukurlah hanya ada nadira saat itu sehingga ia bisa mengancam nadira untuk menyuruh kirey datang.
Walaupun terkesan jahat terhadap perempuan. Leon tak memiliki pilihan lain, hingga ia begitu bahagia melihat kedatangan kirey.
Berbeda dengan dirinya yang tersenyum menghampiri kirey ingin memeluk wanita itu. Kirey menatapnya dengan wajah dingin tanpa basa-basi kirey langsung menamparnya.
__ADS_1
"Beraninya kamu mengancam sahabatku." Teriak kirey marah.
"Maaf, aku hanya ingin bertemu denganmu."
"Untuk apalagi?"
Leon diam tak menjawab, melihat kemarahan kirey membuatnya kehabisan kata-kata.
"Aku pasti akan menuntut kamu kali ini."
Di ancam seperti itu bukannya takut. Leon malah menatap kirey senang." Benarkah? Jika itu membuatmu senang lakukan saja."
Kirey memandang leon curiga, "Sebenarnya apa yang kamu inginkan."
"Kamu boleh menuntut, menghukum aku sepuasnya. Tapi, setelah itu bolehkah kita kembali bersama."
"Hahah, cuih." Kirey membuang ludah hampir mengenai kaki leon. "Jangan mimpi. Membayangkannya saja sudah membuatku jijik.
"Aku tidak akan memberikanmu kesempatan untuk kembali menyakiti diriku lagi, jadi sebaiknya kamu segara pergi dari sini sebelum telix datang dan menghajarmu." Ucap kirey sambil mendorong dada leon.
Namun leon yang terlihat putus asa itu tak memperdulikan ucapannya. "Kamu seharusnya merasa beruntung aku mau lagi kembali padamu. Aku bahkan bersedia menerima hukuman, dan bukannya aku sudah meminta maaf."
Kirey pasti tertawa terbahak-bahak jika tidak berfikir sekarang sudah larut malam, "Jika kamu memang mau menerima hukuman, bagaimana jika kamu pergi saja ke istrimu sukma. Aku lihat kalian berdua cocok waktu itu."
"Kamu cemburu."
"Haha." Tawa kirey tak dapat ia tahan lagi. "Aku pasti akan melaporkanmu." Ancam kirey, menatap Leon tak suka.
Bukannya takut, Leon malah semakin mendekatkan jarak antara ia dan Kirey, "Silahkan laporkan sebanyak yang kamu mau, karena sekarang kamu akan jadi milikku lagi."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, tanpa di duga. Leon menarik tangan Kirey kasar. Masih ingat kamar iki yang berada di bagain depan rumah? Sebelah tangan Leon ia gunakan untuk menarik tangan kirey ke kamar itu, sedangkan tangan sebelahnya ia pakai untuk membekap mulut kirey agar tak berteriak.
Kirey berusaha melawan sekuat tenaga, namun tenaga leon lebih kuat dari padanya. Pria itu seperti orang kesetanan, bahkan kirey menangis saja ia tak perduli.
Cengkraman pada kerah baju yang leon menghentikan aksinya. "Jangan coba-coba menyakitinya." Ucap telix, Syukurlah pria itu datang tepat waktu.
Leon cukup terkejut mendengar suara telix, ia menelan ludah gugup. Leon tau betul bagaimana jahatnya telix, ia baru tau baru-baru ini kalau ternyata Telix merupakan sabuk hitam Taekwondo.
"Ada apa ini?." Tanya nadira panik mendengar keributan.
"Kenapa kalian biarkan bajingan ini masuk ke sini?" Tanpa menunggu jawaban dari kirey dan nadira, telix lebih dulu menarik leon ke luar rumah.
Telix berjalan tanpa melepaskan kerah baju leon. Mereka kini sampai pada rumah pak lurah. Telix yang tak sabaran menggedor pintu rumah pak lurah dengan kuat, tak butuh waktu lama pintu rumah itu terbuka bersamaan dengan datangnya banyak orang.
"Ada apa ini?." Tanya pak lurah yang sepertinya keluar rumah dengan terburu-buru.
"Dia berusaha memperkosa mantan istrinya pak." Telix melempar leon ke hadapan pak lurah penuh marah.
Sepasang mata leon membulat sempurna mendengar yang di ucapkan leon. "Apa maksud kamu, tidak ada yang seperti itu. Kirey adalah istriku." Teriak leon tak terima.
"Tolong bawa dia ke pemuka adat. Saya tidak tau jika tadi telix tidak datang dengan cepat bagaimana nasip saya." Ucap kirey, ia berdiri di belakang telix sambil menangis.
"Baiklah tolong diam, bisa ceritakan bagaimana kejadiannya." Ucap pak lurah.
"Halah lama, langsung bawa saja ke pihak yang berwajib. Kalau bapak tidak bisa biar saya..." Ucapan Telix terpotong karena dari arah seberang ia melihat kedatangan papa ian. Sepertinya ada yang sudah memberitahu beliau.
"Pa, ayo kita bawa dia pada pemuka adat. Jika papa juga masih bertele-tele, biar aku hajar pria ini sekarang juga. Dari tadi aku menahan diri karena biar dia mendapat hukuman yang lebih pantas." Ucap telix marah.
Papa ian menganggukkan kepala setuju dengan ucapan leon. Lantas sedikit berbicara dengan pak lurah menjelaskan letak duduk perkara.
__ADS_1
Larut malam itu juga leon di bawa ke pemuka adat. Telix dan nadira sebagai saksi juga ikut di temani oleh papa ian dan pak lurah.