
Pukul 11 siang, hujan deras turun dengan tiba-tiba. para pria yang telah tidur kala itu terbangun dan berlari ke arah rumah panggung.
Saking derasnya hujan, tenda-tenda terkena imbasnya, ada tenda yang pengaitnya terlepas, bahkan ada yang sudah hampir terbang.
Leon yang berada di dalam tenda bangun sambil lari terbirit-birit menuju rumah panggung.
Untungnya barang-barang bawaan memang mereka simpan di rumah panggung sejak awal, mereka semua berkumpul di dalam rumah.
Hingga pukul 4 sore, hujan baru reda. leon dan para temannya serta telix merapikan tenda yang basah kuyup, tak lupa hammock juga mereka lepas.
Aenun baru saja selesai merebus jagung, dan talas. yang kemarin sempat mereka beli dari perkampungan, makanan pengganjal yang cocok untuk cuaca sekarang.
"Sepertinya malam ini, kita akan tidur di sini " ucap tomi membuka percakapan.
"Tidak ada pilihan selain itu" ucap leon membenarkan.
"Beras yang kita miliki tinggal sedikit, mungkin hanya cukup untuk makan kami para perempuan" kata nadira
"Tidak masalah, kita masih memiliki banyak ikan, dan rebus pisang itu untuk kami makan" leon menunjuk pisang yang terletak tak jauh dari sisa talas yang belum di rebus.
Malam telah tiba, tak ada api yang menyala sebab semua kayu menjadi basah karena hujan. Langit malam sangat gelap. Jangankan bulan, bintang juga tak ada barang satu.
Mengandalkan senter dari handphone telix dan anton yang masih menyala untuk menerangi sekitar.
Mereka telah selesai makan menjelang magrib tadi, dan sekarang baru jam 8, tapi mereka semua sudah berbaring karena tak tau apa yang harus mereka lakukan dengan keadaan yang gelap gulita.
Mereka bertujuh berbaring secara sejajar. Nadira di pojokan dinding, aenun di sebelahnya, setelah itu kirey, di samping kirey ada leon.
Berjarak 1/2 meter, ada anton, dan tomi yang bersebelahan. sedangkan telix berada di ujung panggung, dekat sekali dengan tangga masuk yang sama sekali tak memiliki pintu.
Depan panggung yang hanya memiliki setengah bagian penutup itu, membuat angin yang berhembus, dapat masuk hingga menembus tulang. Di tambah karena tak ada apapun untuk menghangatkan diri, sehingga suhu menjadi tambah dingin.
Kirey dan leon saling memeluk, nadira sedang mengajak aenun berbicara, telix sedang duduk di tangga masuk sambil menghisap rokok, anton dan tomi telah tertidur karena larut malam nanti mereka akan berjaga.
__ADS_1
Tiba-tiba senter lampu dari ponsel anton mati, leon berdiri mengecek ponsel yang anton letakan di kayu penyangga atap, ponsel itu menghadap ke bawah.
Rupanya hp tersebut telah lobet, sekarang hanya tersisa senter dari hp telix. Soal senter kepala yang kemarin para laki-laki pakai untuk memancing, sialnya batrei senter tersebut juga telah lobet.
Untungnya powerbank milik telix masih tersisa 2 baterai, cukup untuk menyokong daya hp miliknya sampai besok pagi.
Hingga pukul 23.00 tak ada yang tidur sama sekali, telix sedang memainkan gitar bersama anton dan tomi yang telah terbangun.
Nadira dan aenun sedang makan, mereka berdua merasa lapar, dan memakan sisa makanan yang ada. sedangkan leon dan kirey sedang asik bercanda.
Tak lama, telix mendengar suara perempuan. ia menghentikan petikan gitar, memfokuskan kembali pendengarannya, tak terdengar suara apapun, mungkin ia salah dengar.
Tapi rupanya bukan cuman telix saja yang mendengar suara itu karna mereka semua yang ada di situ mendengarnya, mereka saling memandang satu sama lain.
"Mungkin itu hanya suara angin" ucap telix memecah keheningan, ia kembali memainkan gitarnya.
Aenun dan nadira segera bangkit berdiri, mendekat ke arah laki-laki. Kirey sendiri melihat ke segala arah, ia meremas tangan suaminya.
Tak bertahan lama, jam 1 dini hari suara perempuan kembali terdengar, kali ini lebih jelas terdengar suara perempuan menangis.
Mereka kembali diam mendengarkan, leon menyuruh agar mereka semua berkumpul di tengah-tengah panggung.
"Tidak biasanya terjadi hal seperti ini" ucap anton
"Kita sudah sering sekali kemari tapi tak pernah di ganggu, apa kalian ada yang merasa melakukan kesalahan?" anton kembali bertanya.
"Mungkin karena aku sedang datang bulan, iblis itu mencium bau darah" bisik kirey pada telinga leon.
Leon menepuk jidatnya, bagaimana ia sampai bisa melupakan hal itu. Penduduk setempat selalu mengingatkan, jika sedang dalam kondisi kotor tak boleh pergi ke pulau-pulau sekitar.
"Sudahlah kita diam saja di sini, sedikit lagi sudah pagi. Tidak apa-apa, kita tidak menganggu mereka jadi tak ada yang perlu di khawatirkan" ucap leon mencoba menenangkan.
Akhirnya mereka hanya duduk berkumpul dengan diam di tengah-tengah panggung tersebut, sambil sesekali mendengar suara tangisan perempuan.
__ADS_1
Suara itu berhenti sekitar pukul 5 pagi, bertepatan dengan matinya senter dari hp telix, menandakan hp tersebut juga telah lobet.
Mereka masih tetap di tempat, para perempuan telah tertidur dengan cara duduk dan menyandarkan kepala mereka pada dinding.
Cahaya menguning dari timur muncul, Para laki-laki bangkit kemudian merapikan peralatan yang mereka bawa, sehingga jika speedboat datang mereka langsung bisa pergi dari sini, kemudian mereka semua tertidur.
Hingga siangnya, leon terbangun terlebih dahulu ketika mendengar bunyi mesin dari arah laut
"Bangunlah, Speedboat telah sampai, jika ada yang ingin mandi segeralah mandi" ucap leon membangunkan yang lain.
Tak ada yang mandi, mereka beramai-ramai hanya mencuci muka bahkan tanpa berganti pakaian, tak ada yang ingin lebih lama bertahan di pulau itu.
Mereka akhirnya meninggalkan pulau tersebut. Kirey membalikan kepalanya, menatap kembali pulau tersebut, ia kaget melihat sosok seorang perempuan berdiri tepat di samping tangga masuk rumah panggung.
Tak ingin lama-lama menatapnya, kirey segera memalingkan wajahnya, tapi ia tak kalah kaget ketika mendapati wajah leon tepat satu senti di depan wajahnya.
"What the hell!" seru kirey, ia mendorong tubuh suaminya menjauh.
Leon malah tertawa, membuat kirey semakin kesal.
"Tidak ada yang lucu sama sekali" bentak kirey
Leon menjadi diam, sepertinya kirey sedang tidak ingin di ajak bercanda' pikir leon
"Maafkan aku" cicit leon.
"Seperti janjiku kemarin, kita akan singgah di pulau ke tiga. Tapi jika kamu tidak ingin, kita bisa langsung balik, bagaimana?" tawar leon.
Kirey awalnya hanya diam, ia merasa masih kesal dengan tingkah leon, tapi kemudian ia akhirnya menganggukkan kepala.
Dan di sinilah mereka sekarang, sedang berenang di pantai setelah tadi selesai makan di salah satu warung makan cepat saji yang tersedia di pulau ke tiga tersebut.
Mereka bersenang-senang, hingga lupa tentang kejadian semalam.
__ADS_1