KIREY : Early-Age Marriage

KIREY : Early-Age Marriage
44. Tragedi rumah baru


__ADS_3

Siangnya matahari sedang terik-teriknya, kirey memutuskan untuk beristirahat. ia mengunci pintu kamarnya rapat-rapat karena tak ingin ada yang mengganggu.


Namun belum setengah jam kirey menutup mata, ketukan pintu berulangkali membangunkan tidurnya.


"Siapa?" tanya kirey kesal, ia bangkit membuka pintu.


"Maaf kakak ipar, kak leon menyuruhku menjemput kakak sekarang" eka yang berdiri di depan pintu.


"Kita akan ke mana?" tanya kirey malas.


"Kak leon sedang menunggu kakak di rumah baru kalian, katanya ada yang perlu di bicarakan"


Kirey menggerutu merasa tak senang tidur siangnya di ganggu, ia menyuruh eka menunggu sementara ia segera masuk kembali ke kamar untuk bersiap-siap ikut pergi.


Eka mengendarai motornya dengan sangat cepat.


Sepanjang perjalanan kirey terus saja menggerutu "Jika ada yang ingin dia bicarakan kenapa tidak pulang ke rumah dan bicarakan langsung padaku."


"Hei eka, pelankan sedikit motornya!" seru kirey kesal.


Bagitu tiba, kirey melihat tomi sedang duduk di depan rumah sambil menikmati segelas kopi, leon yang baru keluar rumah ikut duduk di samping tomi.


Kirey melihat wajah pucat leon seperti cemas akan sesuatu, leon menatapnya sambil tersenyum, namun senyum leon terlihat di paksakan. Kirey mengernyitkan keningnya merasa aneh.


"Ada apa? Dan dari mana saja kamu setelah menghilang dua hari ini? Setidaknya beri aku sedikit kabar." cerca kirey begitu turun dari motor, ia bahkan belum menginjakan kakinya di teras rumah.


Leon memijat kepalanya, ia berjalan mendekati kirey dan menarik tangan istrinya itu agar duduk di sampingnya.


"Ada yang ingin aku bicarakan" ucap leon terdengar seperti tak yakin dengan ucapannya sendiri.


"Aku tau, katakan"


Bukannya menjawab, leon malah menghela nafasnya panjang.


Kirey semakin mengerutkan wajahnya, melihat tingkah aneh leon. "Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya kirey ulang, ia fokus menatap perubahan wajah leon.


"Aku akan menceritakan semuanya namun, kamu harus berjanji untuk tidak marah"

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa marah jika kamu saja belum berbicara apa-apa" ucap kirey, ia malah mulai merasa kesal karena ucapan leon terus berputar-putar.


"Lebih baik kamu segera bercerita cepat, atau aku benar-benar akan marah. Selain mengganggu tidur siangku, kamu terus bertele-tele mem.."


"Kamu janji tidak marah" sela leon cepat.


Kini giliran kirey yang menarik nafas panjang, ia mulai jengah namun agar semuanya cepat selesai ia segera mengalah.


"Baiklah aku tidak akan marah, aku berjanji."


"Sekarang ceritakan" ucap kirey pelan namun dengan nada menekan di setiap katanya.


"Ada yang menjebak aku katanya aku menghamilinya dan..."


"Kamu yang menghamilinya atau bukan" sela kirey, ia mengangkat tangan sebelahnya ke atas menginterupsi tak ingin mendengar kelanjutan ucapan leon.


"Tentu saja bukan aku" jawab leon terdengar frustasi.


"Apa kamu yakin itu bukan anakmu?"


"Yah, aku yakin."


"Beberapa hari setelah kita pulang dari ora, aku sering mendapat telepon masuk dari nomor tak dikenal namun tak pernah aku hiraukan." jeda leon, pandangannya menunduk ke bawah.


"Kamu ingat ibu anna yang hari itu datang ke rumah?"


Kirey mengangguk, menyimak ucapan leon dengan serius.


"Suami ibu anna adalah adik dari ayah si perempuan, kedatangan ibu anna hari itu adalah menyuruhku mengangkat telfon yang ternyata orang yang menelpon adalah ayah perempuan itu"


"Sepulangnya beliau dari rumah kita, aku kembali di telfon oleh nomor yang sama namun telfonnya tak pernah aku angkat"


"Dan ketika malam harinya aku datang ke rumah ibu anna, beliau dan suaminya menekankan jika besok harinya aku harus bertanggung jawab dengan menikah perempuan itu secara siri"


"Tentu saja aku menolak karena tidak ingin menyakiti kamu atau keluargaku, namun mereka berkata jika aku hanya perlu menikah secara diam-diam sehingga kamu dan keluargaku tak ada yang tau"


"Keesokan harinya aku sangat bingung harus berbuat apa karena keluarga dari perempuan terus saja menghubungiku"

__ADS_1


"Karena aku tidak kunjung mengangkat telfon, salah satu kakak dari perempuan itu mengirimkan pesan ancaman."


"Katanya kalau aku tidak segera datang ke rumah mereka untuk melakukan perkawinan itu, maka mereka akan datang ke rumah memberitahu kepadamu."


"Itu sebabnya kemarin aku membawamu pergi ke rumah papa dan mama. Rencananya hari itu aku akan untuk kabur sementara waktu, mungkin 1 atau 2 bulan hingga keadaan menjadi tenang."


"Tapi baru saja aku ingin pergi ke pelabuhan, kamu sudah menelpon lebih dulu sehingga aku tak jadi berangkat"


"Karena tak jadi kabur. setelah mengantarkan kamu balik, aku meminta bantuan dari romi dan anton untuk menyembunyikan aku seharian kemarin agar tak di temukan oleh keluarga perempuan." jeda leon sambil menyalakan sebatang rokok.


"Benar kata orang kalau masalah akan selesai jika di hadapi, karena aku membiarkan masalahnya berlarut-larut beberapa jam yang kakak perempuan itu datang menemui aku di sini"


"Ia hampir memukulku, untung ada romi dan pak edo yang menghadang. Sebelum pergi ia sempat mengancam jika sampai sore ini aku tidak datang menikahi adiknya, lihat saja apa yang akan ia lakukan."


"Jadi walau ragu, aku memutuskan untuk menceritakan hal ini lebih dulu kepadamu sebelum kamu mendengarnya dari orang lain."


Kirey yang sejak dari tadi diam mendengarkan tanpa berniat menyela menjadi tak senang mendengar kalimat terakhir leon.


"Maksudmu kamu hanya memberitahu aku karena kakaknya terus membuat keributan? jadi kalau tidak kamu tidak akan pernah bercerita?" bentak kirey, ia kini merasa antara kesal dan bingung.


"Apa perempuan itu adalah sukma?" tanya kirey lagi, karena tadi leon tak kunjung menjawab pertanyaannya yang pertama.


Leon nampak terkejut mendengar pertanyaan kirey, bahkan tomi yang sejak tadi hanya diam menyimak pembicaraan mereka berdua ikut menoleh terkejut.


"Sudah aku duga" ucap kirey melihat respon dari leon, ia terdiam memikirkan semua ucapan leon.


Perempuan siapa lagi yang bisa suaminya itu hamili kalau bukan mantan pacarnya itu.


Kirey menjadi ragu, bagaimanapun sukma adalah perempuan yang leon pacari hingga 3 tahun. bisa saja itu memang anaknya!


"Aku akan bertanya sekali lagi"


"hufft, apa benar itu bukan anakmu?" kirey menatap mata leon ingin mencari kebenaran di mata suaminya, namun leon hanya menunjukkan reaksi serius tak terbaca.


Leon menarik nafas berat, ia menggelengkan kepala.


"Itu bukan anakku, percayalah." ucap leon tegas.

__ADS_1


"Baiklah, itu saja yang ingin aku dengar."


"Jika itu memang bukan anakmu maka aku akan membelamu. Kamu sekarang masih menjadi suamiku, jadi mereka tidak bisa seenaknya menikahkan kalian berdua." walaupun masih ragu, kirey mencoba mempercayai suaminya.


__ADS_2