KIREY : Early-Age Marriage

KIREY : Early-Age Marriage
26. Rumah sakit


__ADS_3

Kirey sedang berada di dapur, clara sedang memberikannya arahan cara memasak sayur menggunakan santan, tapi pikirannya tak fokus untuk mendengar ucapan kakak iparnya.


Sudah dua hari ini kirey terus memikirkan papanya, hal ini tidak seperti biasanya. Karena kirey sudah terbiasa berpisah dalam waktu lama dengan papa ian bahkan sebelum ia menikah.


Papanya sering jarang di rumah, lebih banyak menghabiskan waktu bekerja di luar hingga berminggu-minggu sehingga kirey sudah terbiasa tanpa melihat papanya.


Sementara itu clara yang melihat kirey melamun, berdecak pinggang kesal.


"Kirey!" seru clara tepat pada samping telinga adik iparnya.


"Astaga"


"Kenapa kamu berteriak di kupingku, aku tidak tuli!" balas seru kirey tak terima.


"aku sudah memanggilmu berulang kali tapi kamu tidak mendengar, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya clara dengan nada membentak.


Kirey tak menjawab, kepalanya tiba-tiba merasa pening. Ia segera berbalik berjalan menuju kamarnya, setelah pamit minta izin pada clara untuk beristirahat.


"Ayo kita segera ke rumah sakit" ucap clara yang datang beberapa saat kemudian dengan membawa segelas air putih.


"tidak perlu, aku baik-baik saja. Hanya perlu sedikit istirahat."


"Apanya yang baik-baik saja, lihatlah wajahmu pucat seperti mayat" ucap clara mendengus.


"Lagi pula ini juga saran leon untuk membawamu pergi ke dokter, dia tidak ingin istri tercintanya ini merasa sakit"


Kirey mengambil ponselnya, lalu mengangguk setuju ketika ia sudah membaca pesan dari leon yang menyuruhnya pergi ke rumah sakit ditemani clara.


Kirey dan clara pergi menggunakan mobil, clara tak ingin mengambil resiko jika menggunakan motor, ia tak ingin kirey nanti jatuh pingsan dari atas motor.


Selama dalam perjalanan clara tak berhenti mengoceh, banyak hal yang di bicarakan, membuat kepala kirey terasa semakin pening.


"Jangan-jangan kamu hamil?" tanya clara


Kirey diam saja tak ingin menjawab, ia merasa tidak nyaman. Pandangan matanya tiba-tiba menguning, semuanya terlihat kabur, dan benar saja ia jatuh pingsan.


"Kenapa pakai acara pingsan di sini! padahal sebenar lagi sudah sampai" panik clara, ia segera melajukan mobilnya dengan cepat.


Akhirnya mereka sampai di rumah sakit, clara yang masih panik berlari keluar mobil dengan tergesa-gesa memanggil petugas kesehatan.


Beberapa perawat kemudian datang dengan membawa tempat tidur dorong, setelah melihat kirey masuk Ugd, clara mengambil ponselnya.


Ia segera menghubungi leon, clara tak ingin leon menyalahkannya atas kondisi kirey nanti. Tapi leon tak kunjung mengangkat telfonnya, akhirnya dia memutuskan hanya mengirim pesan singkat.

__ADS_1


.


.


.


Leon yang kala itu sedang berada di salah satu cafe, ia sedang bertemu dengan teman-teman investor lain.


Mereka sedang sibuk membahas bisnis, leon merasa hp pada saku celananya bergetar. Di lihatnya benda pipih tersebut, nama kakaknya yang ada di sana.


Leon kembali meletakan hp itu di atas meja, kemudian kembali fokus berbincang. Ia sama sekali tak memperdulikan hpnya, hal yang di sesali leon kemudian setelah membaca pesan dari clara.


Dengan wajah panik ia segera lari ke luar kafe tanpa berpamitan pada teman-temannya, leon menyalahkan motornya kemudian bergegas pergi.


"Sial" umpat leon, merasa menyesal tak mengangkat telfon dari clara tadi, padahal sebelumnya, kakaknya sudah memberitahu kondisi kirey sedang tidak baik.


Leon lupa jika clara sedang membawa istrinya ke rumah sakit, selama perjalanan leon terus menyalahkan dirinya.


Andai saja dia mengangkat telfon clara secepatnya, ah tidak! seharusnya dia segera pulang dan melihat kondisi kirey sendiri secara langsung.


Leon tak sanggup memikirkan keadaan kirey di rumah sakit, ia akan sangat menyalahkan dirinya jika terjadi sesuatu pada kirey.


Ketika sampai di rumah sakit, leon berpapasan dengan mama ike. Mertuanya baru saja keluar dari salah satu ruangan, leon memperhatikan penampilan mama yang tampak berantakan.


Bukannya menjawab, mama ike malah diam sambil mengernyit heran


"Bukannya mama ke sini untuk melihat kirey? ia masuk rumah sakit ini sekitar sejam yang lalu" selidik leon, ia melihat mama mantunya seperti tak mengerti apa yang dia ucapkan.


"Kirey masuk rumah sakit ini?" tanya mama kemudian, wajahnya berubah panik seakan baru menyadari sesuatu.


"Kenapa kamu baru memberi tau mama! cepat antarkan kaka padanya" ucap mama sambil berjalan berbalik arah.


"Jadi untuk apa mama di rumah sakit ini, kalau bukan untuk melihat kirey?" batin leon bertanya, namun segera di dilupakannya.


Leon segera menyusul mama ike, kemudian mengambil langkah di depan.


"Akhirnya kamu datang juga" ucap clara menarik nafas lega melihat kedatangan adiknya, namun ia menjadi panik karena rupanya leon datang bersama mertuanya.


Clara menyalami tangan mama ike, kemudian tak menunggu lama mama segera masuk ruangan, di lihatnya kirey berbaring lemah dengan selang infus di tangannya.


"Apa kata dokter?" tanya mama kepada clara.


"Dia hanya kelelahan karena terlalu stres dan kekurangan cairan" jawab clara lancar.

__ADS_1


"Bagaimna sampai dia bisa stres?" tanya mama ulang, ia memandang leon kesal meminta jawaban. Leon hanya menggelengkan kepala.


"Bukannya sudah mama katakan untuk lebih memperhatikannya!" seru mama tak terima, di tatapnya kirey sedih.


"Jangan menyalahkan suamiku ma, ini karena dua hari terakhir ini aku terus kepikiran papa" ucap kirey yang rupanya telah sadar.


"Di mana papa?" tanya kirey, sambil mengarahkan pandangannya ke segala arah mencari papanya.


"Em." gumam mama, ia terlihat memandang ke arah lain.


"Mama" panggil kirey, ia menatap mamanya curiga.


"Istirahatlah saja, jangan terlalu di pikirkan papa baik-baik saja" ucap mama terlihat ragu.


"Katakan yang sebenarnya, mama sama sekali tak pandai berbohong"


Bukannya menjawab tapi mama malah bertanya. "Leon, apa kamu bisa membantu kirey berjalan?"


Leon menganggukan kepala, di bantu oleh clara mereka berjalan mengikuti langkah mama ike ke ruangan yang tadi leon lihat mama mantunya keluar dari situ.


Begitu memasuki ruangan, kirey menangis melihat papanya terbaring tak sadarkan diri. Wajah papa terlihat pucat, tubuhnya terlihat sedikit lebih kurus.


Leon membantu kirey berjalan mendekati papa ian, mencoba menenangkan istrinya yang semakin menangis histeris.


Leon mengingatkan bahwa kirey tak boleh terlalu tertekan karena dirinya juga sedang sakit.


Kirey menatap mamanya meminta penjelasan, mama kemudian menjelaskan bahwa papa telah masuk rumah sakit sejak dua hari yang lalu.


Papa secara tak sengaja terpeleset di dalam kamar mandi yang lantainya licin dan kepala papa terbentur mengenai dinding


Ketika akan terjatuh, papa segera menyanggah badan dengan tangan kanannya, akhirnya tangan kanan papa menjadi patah, di tambah kolesterol papa menjadi naik.


Pantas saja dua hari ini ia merasa gelisah,


memang sudah hampir seminggu ini ia tak pernah menjenguk orang tuanya.


"Kenapa mama tidak segera memberitahuku" tanya kirey.


"Papamu melarang" jawab mama, kemudian mama meminta leon untuk balik ke ruangannya untuk beristirahat.


Kirey sempat menolak, namum mama dan leon secara tegas mengatakan ia harus beristirahat agar segera sembuh.


Tak ingin keras kepala, kirey pasrah mengikuti perkataan mamanya. Setelah memasuki ruangan, kirey merasa mengantuk setelah meminum obatnya dan tak lama ia tertidur lelap.

__ADS_1


Leon manatap istrinya penuh sayang, kemudian ia duduk di samping kirey, kepalanya di letakan di atas tempat tidur menatap kirey, tak lama iapun ikut tertidur.


__ADS_2