KIREY : Early-Age Marriage

KIREY : Early-Age Marriage
7. Pertemuan keluarga


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak kedatangan Leon


Tak terasa telah hari kamis. Selama waktu itu pula, Kirey masih berusaha menghubungi Sean. Ia mencoba menelfon Sean berulang kali agar setidaknya masih ada kesempatan membatalkan perjodohan tersebut. Namun, berapa kali pun ia menelfon, tak pernah terhubung.


Kirey duduk termenung di dalam kamar, wajahnya terlihat tak bersemangat. Bibirnya bahkan terlihat pucat, kepalanya terasa berat. Dia merasa tak nyaman dengan kehadiran keluarga Leon malam jumat ini.


"Tidak mungkin bukan jika hari ini aku harus menerima lamaran dari Leon! dia bukan pria yg kucintai. Tapi, Sean tidak ada kabar sama sekali." Kirey bimbang.


Kembali mulai mencoba menghubungi Sean, dan lagi-lagi nomornya masih tetap tidak aktif, "Apa Sean memang tidak benar-benar serius dengan ucapannya " Ucap Kirey pada dirinya sendiri.


Setelah dipikirkan kembali. Kirey bahkan belum mengetahui banyak hal tentang Sean. Mereka tidak pernah membicarakan hal-hal tentang diri mereka masing-masing.


Suara pintu dibuka menyadarkannya.


"Selamat pagi sayang. Apa kamu harus siap untuk sebentar malam?" Tanya mama. Ia mendekati kirey mencium kepalanya, tanpa menunggu jawaban anaknya. Berbalik kembali keluar kamar.


Kirey mulai berfikir untuk tak memperpanjang masalah. Mau tak mau dia harus berhadapan dengan keluarganya Leon. Bergegas ke rumah Nadira.


"Nanti malam temenin aku yah." Ucap Kirey setibanya di kamar Nadira.


"Baiklah, dan jangan terlalu dipikirkan." Ucap Nadira, mencoba menghibur.


Dada Kirey justru kian sesak, dihimpit oleh perasaan bimbang. Yang jelas memang tak ada alasan baginya menolak Leon.


Karena selain memang baik untuk masa depannya. Sepertinya orang tuanya juga menginginkan perjodohan ini. Leon terlihat bertanggung jawab. Tapi ini kehidupan pernikahan yang bukan melulu soal tanggung jawab dan materi. Tapi tentang cinta, dan pengertian.


Malam terang benderang, lengkap dengan bulan dan bintang. Setelah selesai adzan Isya berkumandang. Kediaman keluarga Kirey kelihatan telah ramai kedatangan tamu.


Ada setidaknya 6 orang yang datang pada malam itu, termasuk Leon dan Ayahnya. Di tengah mereka ada satu gadis muda. Ia mungkin seumuran Kirey. Gadis itu memakai gamis panjang, hijab biru tosca, terlihat anggun, "Mungkin itu adiknya Leon."


"Ubah wajah kamu. Jangan kelihatan tidak bersemangat begitu." Bisik mama di telinga Kirey.


"Kepalaku terasa berat, Ma." Jawabnya.


Mama memicingkan mata, mencoba memperingatkan. Hingga salah satu wanita yg di ketahui adiknya Pak Tama mulai berbicara.


"Jadi begini. Langsung ke intinya saja, niat kami kesini ingin melihat perempuan mana yang akan menjadi menantu di keluarga kami. Dan sekiranya meminta Nak Kirey untuk anak laki-laki kami." Ucap Ibu Asih tersenyum.


"Maaf pertemuan hari ini, rencananya hanya untuk pemasangan cincin saja. Minggu depan baru lamaran, sekaligus acara seserahan. Karena kami masih harus mengumpulkan kelurga besar. Leon merupakan anak laki-laki satu-satunya dari kakak saya. Jadi kami ingin membuat acaranya seterkesan mungkin." Jelas Ibu Asih panjang lebar.


Kirey mencoba memusatkan konsentrasi pada acara, namum gagal total. Sebab pikirannya sedang tertuju pada orang lain. sampai suara ibu asih kembali menyadarkannya.

__ADS_1


"Kirey, Leon, mari mendekat kesini."


Kirey menoleh, menatap ke arah mamanya, meminta persetujuan dan begitu mama mengangguk. Ia berdiri diikuti Leon di belakangnya. mereka berdua duduk berhadapan.


Ibu Asih menyerahkan sebuah kotak berwarna merah kepada Leon yang dalamnya terdapat cincin. Dan ketika, ketika keduanya sudah saling menukarkan cincin, sontak hal itu berhasil membuat semua orang bertepuk tangan.


Beberapa menit kemudian, Kirey pamit menuju pintu. Ia melihat Nadira yang baru datang. Merasa bersyukur, saat ini dia butuh pendukung. Merasa sedikit tenang dengan kehadiran sahabatnya itu.


Namun hal itu tak bertahan lama. Nadira beranjak ke dapur. Katanya dia ingin makan bersama tris.


Papa Ian sedang mengobrol dengan Leon dan Pak tama.


Kirey diam. Hanya sesekali berbicara ketika ditanya oleh ibu-ibu. Selebihnya dia kembali mencoba memperhatikan Leon kini telah berdiri di luar rumah, dengan memegang rokok di tangan kanannya.


Sedangkan dari luar. Leon juga sedang memandang Kirey yang tampak diam. namun meski begitu, Leon merasa cukup senang karena pertukaran cincin telah di lakukan. Ini langkah awal untuk hubungan mereka.


Leon mendekati kirey, "Aku tau kamu tidak akan membuat semuanya menjadi mudah." Bisik Leon pelan agar tak ada yang mendengar.


"Aku harap kejadian ini tak mempengaruhi sifat kamu." Gumam Leon yang hampir luput dari pendengaran.


"Tidak ada hubungannya sikapku dengan perjodohan ini." Jawab Kirey.


Leon mengangguk sembari menghembuskan nafas lega.


Nadira muncul dari dapur, "Aku juga pamit pulang yah." Nadira menyalami tangan mama dan papa Ian.


"Aku ikut." Tapa menunggu respon dari Nadira. Kirey berjalan cepat, takut-takut dengan respon Mamanya yang akan melarangnya untuk keluar.


Kirey saat ini hanya butuh ketenangan, itu saja. Dia rasa berkumpul dengan teman-temannya adalah pilihan yang tepat.


.


.


.


Hari berganti.


Selama itu juga kirey tak mencoba melakukan apapun. Kegiatannya masih sama saja seperti hari biasa. Keluyuran, pulang larut malam, dan bangun kesiangan. Sampai hari terakhir, sebelum besok kedatangan keluarga Leon kembali.


"Mama sudah berdoa yang terbaik untuk kamu, sekarang keputusan ada di tangan kamu. Mau dilanjutkan?" Mama menatap Kirey lekat-lekat.

__ADS_1


Kirey hanya mengangguk. Ia sudah berfikir beberapa hari ini, tidak ada alasan yang bagus untuk dia menolak. Terlebih Mamanya keliatan senang.


"Jadi bagaimana Ki?" Tanya Nadira dari arah dapur, terlihat sedang sibuk menyusun hidangan makan siang.


Kirey diam tak menjawab. Matanya sedang tertuju pada cincin di jarinya, terlihat cocok di sana.


"Ada kabar dari Sean?" Nadira bertanya sambil berteriak. Kirey tidak kunjung merespon pertanyaannya.


Teriakan nadira berhasil mengembalikan kesadaran Kirey, dari rasa kagum menjadi mengernyit tak suka. Disusul suara dari Telix dari arah depan rumah.


"Makan sini Lix." Ajak Nadira ketika melihat kemunculan telix.


"Apakan kataku. Sean itu pria tidak benar!" Seru telix. Ia mengambil piring.


Kirey menunduk diam. Menyisihkan rasa ragu. Sebab merasa terusik dengan nasehat teman-temannya. Ia masih saja ingin berharap, tapi harapan tinggal harapan.


Telah terjadi banyak hal, di tambah tidak ada kabar dari Sean. Kini justru menutup harapan kirey. Sikapnya yang masih terus memikirkan Sean. Membuatnya merasa sedikit kesulitan.


Makan menjadi pilihan terbaik saat ini, sebab Kirey adalah pribadi yang keras kepala. Ia tidak mau mendengar pendapat orang lain.


Setelah makan, kirey berdiri mengambil tas yang tadi sempat dia bawa. Merogoh ke dalam, menemukan dua hal yang paling dia butuhkan saat ini, yaitu


uang dan kunci motor.


Kirey lalu mengajak Nadira ke salah satu pantai untuk refreshing. sore itu, meninggalkan Telix yang masih makan.


Semilir angin laut dibawah pohon rindang. Situasi yang pas untuk menenangkan pikiran, di temani dua piring rujak dan dua botol minuman cola.


Dua gadis tersebut sedang bercanda, tertawa lepas. Orang yang melihatnya pasti berfikir mereka dua orang yang bahagia tanpa beban.


Nadira berdiri dan berlarian mengejar Kirey, meraka saling bermain mengejar satu sama lain sambil bermain air.


"Udah Nad." Ucap Kirey yang tak mampu menahan nafas setelah banyak berlari.


Tak terasa sudah dua jam mereka berada di pantai itu.


"Aku tidak mengerti, apa yang masih menghambat pikiran kamu. Meski berkali-kali kami memberi saran, kamu tetap keras kepala dengan pendirian kamu." Ucap nadira ngos-ngosan, duduk mensejajarkan kakinya.


Kirey menggelengkan kepala, menunduk.


"Ini mungkin yang terbaik." Nadira kembali berkata membuat Kirey mencibir.

__ADS_1


kirey menggelengkan kepala, tak ingin membahas hal itu.


"Ayo pulang." Ajak Kirey.


__ADS_2