KIREY : Early-Age Marriage

KIREY : Early-Age Marriage
50. Berusaha


__ADS_3

Leon duduk termenung di depan tv ruang tengah. Tangan kanannya sibuk mengotak-atik laptop sedangkan tangan kirinya ia gunakan menahan sebatang rokok.


Hari ini leon memutuskan tak pergi ke kantor, ia lebih memilih bekerja dari rumah. Walau matanya fokus pada laptop namun pikirannya masih tertuju pada kejadian tadi pagi. Ia dan kirey sudah jarang bertengkar, terakhir kalinya mereka bertengkar saat kejadian sean waktu itu.


Memang benar kata kirey, jika ia tak tau diri. Tapi ia masih berfikir jika ia tak salah sebab ia tak merasa anak itu adalah anaknya dan ia juga tidak menikah langsung dengan sukma.


"Makan dulu" panggil clara yang baru muncul dari arah dapur. Sejak tadi kakaknya itu sedang sibuk di dapur memasak seorang diri


"Leon" panggil clara beberapa kali karena leon tak merespon ucapannya.


"Woi" teriak clara di telinga leon karena tak kunjung ada respon dari adiknya.


"Apaan sih"


"Makan, ngapain bengong"


Leon diam saja, tak ingin mengatakan yang dia pikirkan kepada clara. Sebab ia tau clara juga sama sepertinya tak akan mau mengakui kesalahannya, yang ada malah clara akan balik memarahinya jika ia menyuruh kakaknya itu meminta maaf pada kirey.


"Apa karena istrimu belum juga pulang" tebak clara. "Apa aku harus datang menjemputnya?" suara clara terdengar jengah.


"Dia hanya perlu waktu, ini juga karena salah kita. Sudahlah kalau kamu tidak ingin meminta maaf, tidak usah ikut campur. Yang ada istriku malah semakin marah."


Terbesit sebuah ide di kepala leon. Ia akan membawakan martabak kesukaan kirey dan membujuk agar kirey tak marah lagi. Ia akan mencoba mengalah dulu saat ini sampai kirey memaafkannya.


.


.


.


Jam 1 siang leon mengamati rumah kirey, ia tak berani masuk lagi ke dalam. Leon berfikir untuk menunggu di luar saja, kirey pasti akan keluar menemui teman-temannya.


Dan benar saja, dua jam kemudian. Leon hampir tertidur di dalam mobil saking bosannya menunggu hingga akhirnya matanya terbuka sempurna melihat kirey keluar seorang diri dari dalam rumahnya.


Ia turun dari mobil, secara pelan mengikuti langkah kirey. "Sayang" leon menggenggam tangan kirey begitu istrinya akan masuk ke dalam rumah nadira.


"Apaan sih, lepas" sahut kirey sambil menghempaskan tangan leon darinya.

__ADS_1


"Aku membawa martabak kesukaan kamu, makan sama-sama yuk" leon menunjukkan bungkusan martabak yang ia bawa.


"Jangan membuat masalah, sekarang kita di rumah temanku" jawab kirey kemudian kembali akan masuk rumah.


"Makan sedikit saja, ayolah" leon masih berusaha membujuk.


"Cukup, bisa tidak, untuk tidak memaksa." Sahut kirey dengan nada jengkel.


Kalau sudah begini, leon hanya bisa menghela nafas pasrah. Kirey sedang dalam mode keras kepalanya, tak ada yang bisa melawannya bahkan martabak kesukaannya saja tak dapat membuat kirey luluh.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya telix menatap leon tak suka.


Leon menarik tangan telix keluar rumah.


"Aku di jebak." Ucap leon begitu mereka duduk di depan teras rumah.


"Sejujurnya aku juga tidak percaya kamu mampu melakukan hal itu, namun aku juga seorang pria. Dan aku tau tidak ada yang tidak mungkin menyangkut kenikmatan dunia yang satu itu." Telix terlihat ingin membalikan badannya.


"Percayalah, aku sangat mencintaimu sahabatmu, tidak mungkin aku menghianatinya. Hanya saja perempuan itu sangat licik, entah apa yang ia bicarakan pada kirey sehingga istriku sangat percaya padanya"


"Seharusnya kamu mengatakan hal ini kepada kirey, bukan padaku."


Membuat telix mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah. Lalu, entah apa yang ke dua pria itu bicarakan, terlihat serius.


Sementara kirey tak mau ambil pusing dengan leon, ia menuju dapur. Tak hanya nadira, tapi ada beberapa teman kampusnya yang juga kirey kenal sedang berada di dapur. Rupanya mereka akan membakar sate.


"Apa yang dia lakukan di sini?" Nadira menyenggol bahu kirey begitu melihat kedatangan telix bersama leon.


Kirey hanya menoleh sebentar, ia lalu kembali fokus memasukan satu persatu potongan ayam pada tusukan sate.


"Biar aku saja." Leon mengambil tusukan sate dari tangan kirey.


"Berhentilah menggangguku." Tekan kirey mencoba mengambil kembali tusukan sate.


Namun leon tak menggubris perkataan kirey, ia terus memasukan potongan ayam pada tusukan.


Kirey menghela nafas, ia bangkit berdiri. Tak ingin berada dekat dengan leon, entahlah ia merasa sangat jengkel dengan suaminya itu, entah karena kesalahan leon yang kemarin atau karena leon terus mengikutinya sejak tadi.

__ADS_1


Kirey ke luar dapur, di halaman belakang. Membantu anak-anak perempuan lainnya membuat bumbu pecel. Baru juga ia menaruh pantatnya di kursi, leon kembali muncul mengganggunya.


Sepertinya sore ini kirey harus banyak bersabar.


.


.


.


Sudah pukul 9 malam, kirey nampaknya tak akan pulang malam ini. Itu sebabnya leon mendekati nadira dan meminta izin pada nadira agar malam ini ia akan tidur dengan kirey di rumah itu.


Nadira terlihat ragu, sepertinya ia takut jika kirey marah. Namun leon berusaha meyakinkan nadira agar sahabat istrinya itu setuju, dan kini ia sudah berada baru masuk kamar milik nadira.


Leon berjalan mendekat kirey, istrinya itu sepertinya tak menyadari kedatangannya sebab kirey saat ini sedang menatap ke luar jendela.


"Ngapain?" Leon bertanya sambil memegang kedua bahu kirey, ia dapat merasakan kirey sedikit terkejut.


"Apa yang kamu lakukan di sini" kirey mengedikkan bahunya agar leon menjauhkan tangannya. Ia menatap leon tak suka.


"Tentu saja ingin menemanimu." Leon mengedipkan sebelah matanya menggoda kirey. Setelah itu ia memeluk pinggang kirey yang masih berdiri.


"Aku kangen" ucap leon sambil menyandarkan kepalanya di bahu kirey, lalu mencium lehernya.


"Jangan macam-macam ini rumah orang" Tekan kirey, ia kembali melepaskan tangan leon yang ada di pinggangnya.


"Tidak masalah, aku sudah minta izin tadi sama nadira kal.."


"Keluar" usir kirey, menyela ucapan leon.


Namun bukannya keluar, leon malah semakin mendekati kirey lalu hendak menciumnya, namun kirey malah mundur selangkah menatap leon kesal.


"Sudah aku katakan keluar." seru kirey dengan wajah masam.


"Kita itu ada di rumah orang, Jangan terlalu mementingkan diri sendiri. Lagi pula bukan nadira yang bisa menentukan kamu bisa tidur denganku atau tidak. Dan jika kamu pikir semua masalah bisa selesai dengan bercinta? aku katakan kalau, Tidak! Jadi keluarlah"


Leon tersenyum kecut. Mungkin ia memang salah tempat, ini karena tadi telix memberinya saran. Agar kirey tak marah lagi dengannya, ia harus mengajaknya bercinta.

__ADS_1


Setelah itu leon memutuskan keluar, sebaiknya ia pulang saja jika tak bisa tidur di rumah itu. Telix menertawainya ketika ia pamit pulang, dengan menahan malu ia cepat-cepat pergi ke tempat mobilnya di parkir.


__ADS_2