KIREY : Early-Age Marriage

KIREY : Early-Age Marriage
51. Kecelakaan


__ADS_3

Tama kepikiran tentang menantunya. Sejak tinggal di rumah ini 5 bulan lalu, kirey tak pernah menginap di rumah orang tuanya lebih dari 3 hari. Kirey hanya sering berkunjung sebentar lalu pulang.


"Ayah belum tidur." Tanya leon baru saja memasuki rumah.


"Ayah sedang merindukan kirey"


"Maaf yah, Leon belum bisa membujuk dia untuk pulang. Ayah tau sendiri, bagaimana keras kepalanya menantu ayah itu."Ucap leon sambil terkekeh.


"Tidak apa-apa, bujuk saja terus"


"Ini juga salah ayah karena tidak bertindak tegas saat itu, dia pasti kecewa karena ayah hanya diam saja. Seharusnya hari itu ayah sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab dan dengan tegas menolak usulan pernikahan itu"


"Sudahlah ayah, semuanya sudah berlalu"


.


.


.


Sementara itu kirey terbangun mendengar ketukan pintu dan suara omelan mamanya.


"Kirey, sudah siang. Mau sampai kapan kamu tidur?" Teriak mama dari balik pintu kamar kirey.


"Iya ma" Sahut kirey malas. Ia melihat jam sudah menunjukan pukul 11 siang, pantas saja mamanya mengamuk.


Kirey kembali menghitung sudah berapa hari ini leon tak lagi datang menemuinya, ia menjadi over thinking. Bagaimana jika leon saat ini sedang bersama sukma.


Kirey ingat, malam terakhir itu ia bertemu leon, ia menolak ajakan suaminya. Setelah itu leon tak lagi ada kabar, jangan-jangan leon sudah mendapatkannya dari sukma?


Kirey mengecek ponselnya, tak ada pesan apapun. Sebenarnya ia sudah ingin menelpon leon dari kemarin-kemarin, namun ia gengsi.


Setelah satu tarikan nafas, kirey memutuskan menelfon leon.


"Hallo"


Deg, kirey terkejut saat suara perempuan yang ia dengar menjawab ponsel suaminya.


"Kalau cari leon, aku juga tidak tau. Dia sudah menghilang beberapa hari ini"


Kirey mengelus dadanya, menetralkan degup jantungnya yang tadi berdegup kencang. Ia sampai lupa dengan suara kakak iparnya karena sudah lebih dulu berfikir yang bukan-bukan.

__ADS_1


Namun kirey kembali mengeryit heran ketika sadar dengan ucapan clara, yang mengatakan kalau leon tak pulang rumah. Jadi di mana suaminya itu?


"Lalu bagaimana ponselnya bisa bersamamu?"


"Tidak, saat sedang menyapu, aku mendengar suara ponsel dari dalam kamar jadi aku mengeceknya, ternyata dari ponsel leon yang ada di dalam lemari" Jelas clara.


Kirey lalu memutuskan panggilan telfon, Ia merasa kesal. Di mana leon, pagi-pagi sudah bikin mood rusak.


"Ada apa" tanya mama. Tadinya mama ingin mengomeli kirey, namun ia urungkan karena melihat kirey melamun.


"Tidak apa-apa"


"Kapan kamu kembali ke rumah mertuamu? sudah berbicara dengan leon. Kami tidak ingin menahan kamu lebih lama di sini, karena bagaimanapun sekarang kamu bukan lagi tanggung jawab kami. Tapi papamu masih menunggu kedatangan suami dan ayah mertuamu untuk datang meminta maaf secara langsung."


Kirey meletakan ponselnya di atas meja, ia jadi teringat perdebatannya dengan leon tempo hari. Ia pikir sepertinya leon dan keluarganya tak akan datang untuk meminta maaf.


"Entahlah ma"


"Kenapa?" tanya papa lebih dulu sebelum mamanya bertanya. Papa kini sedang berdiri di depan pintu kamar kirey dengan tangan menyilang di dada.


"Aku juga tidak tau betul. Namun sepertinya keluarganya tak akan datang minta maaf."


"Baguslah jika seperti itu, kalian bercerai saja. Papa akan mendukungmu sepenuhnya"


"Papa bercanda." kekeh papa ian sambil mengelus kepala kirey. "Tapi kalau memang tidak ada itikad baik dari keluarga suamimu, kamu cukup diam. Sisanya biar papa yang urus.


.


.


.


Leon kaget saat pertama kali membuka mata. Ini jelas bukan kamarnya. Dia melihat sekitar sambil mengumpulkan kembali kesadarannya. Ia ingat jika ia semalam habis kecelakan.


Leon merasa tubuhnya sakit semua. Dia seketika kepikiran kirey, istrinya itu pasti cemas karena ia tak memberi kabar selama beberapa hari sebab ia lupa membawa ponsel.


Leon melepaskan infusnya dengan paksa, berjalan keluar rumah sakit Dia pulang dengan menggunakan ojek, entah bagaimana nasib motornya.


Leon berjalan memasuki rumahnya sedikit tertatih. Beberapa kali ia meringis menahan perih pada kakinya, celana jeans yang ia pakai nampak robek seperti di gunting. Lengan dan dahinya di perban.


"Astaga kamu kenapa" Tanya clara panik, memerhatikan keadaan kacau adiknya.

__ADS_1


"Kecelakaan." Jawab leon singkat.


Clara tak banyak bertanya, ia membantu leon masuk ke kamarnya. Leon berbaring, sedang mencari posisi nyaman.


Saat terakhir kali ia bicara dengan ayahnya, ia mendapat telfon mendadak yang mengharuskannya harus ke luar kota. Karena waktu itu mobil sedang di pakai clara ke pasar, ia akhirnya keluar menggunakan motor.


Waktu berangkat tidak ada kendala apapun, namun ketika semalam saat ia akan pulang tak sengaja ia bertabrakan dengan pengguna motor lainnya.


Seorang gadis yang sepertinya mabuk, dengan kecepatan tinggi dari arah seberang. Perempuan itu tidak memiliki lampu sen depan, membuat leon tak dapat melihat motor tersebut. Tabrakan tak dapat di hindari, untung saja keduanya hanya mengalami luka, tak sampai harus merenggang nyawa.


Karena itu ia harus menginap semalam di rumah sakit. Leon tak dapat mengabarkan siapapun karena ia tak membawa ponsel.


"Tadi pagi kirey menelpon, ia menanyakan keberadaan kamu."


Mendengar hal itu, leon buru-buru bangkit. Hampir saja ia lupa tentang kirey. Dengan tenaga yang tersisa, ia berdiri mencari ponselnya di dalam lemari.


"Cari ini?" Clara menyodorkan ponsel ke tangan leon.


Dengan cepat leon segera menghubungi kirey, namun ponsel istrinya tak aktif.


Leon mencoba berjalan ke luar kamar, namun baru sampai di depan pintu, ia langsung terbanting ke lantai.


"Apa kamu ingin cepat mati" Teriak clara sambil membantu leon berdiri, ia dari tadi hanya memperhatikan tingkah adiknya tanpa ada niat sedikitpun untuk ikut campur.


"Aku harus segera menemui kirey." Ucap leon tertatih dengan kesadaran yang masih tersisa sedikit.


"Istirahat saja, nanti aku yang akan memberitahukan kepadanya"


"Sekarang" suara leon semakin tersendat.


Clara menatap leon lama dengan pandangan tak suka, namun akhirnya ia mengalah. Ia keluar kamar beberapa saat, lalu masuk lagi dengan ponsel di tangannya.


"Karena ponsel istrimu tak aktif maka aku akan langsung menelfon ke nomor mertuamu" clara hendak memainkan ponselnya, namun tangannya di tahan oleh leon. Adiknya itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ada apa?"


"Jangan hubungi orang tua kirey, mereka masih marah padamu." Bisik leon pada telinga kirey begitu kakaknya itu mendekat.


"Terserah."


"Kalau begitu kamu istrihat saja, lihatlah kamu seperti mayat hidup. Jika nanti sudah membaik baru kamu kabarkan sendiri istrimu itu. Aku tak ingin ikut campur dalam banyak drama"

__ADS_1


"Ingat segera selesaikan" ucap clara sebelum keluar dari kamar leon.


Setelah kakaknya keluar, mata leon tertutup dengan cepat. Sepertinya, tubuhnya memang butuh banyak istirahat.


__ADS_2