KIREY : Early-Age Marriage

KIREY : Early-Age Marriage
53. Mendatangi ayah tama


__ADS_3

Keesokan harinya. Papa Ian sedang menunggu kedatangan mas pram, sepupunya sekaligus salah satu tetua yang waktu itu menjadi saksi dari proses lamaran hingga pernikahan kirey.


"Jadi bagaimana mas menurutmu, jika kita saja yang pergi menemui ayah mertuanya kirey? Karena, sejujurnya aku ragu kalau mereka akan datang lebih dulu kepada kita." Ucap papa ian mengeluarkan keraguannya.


"Sebaiknya jangan. Bagaimanapun anakmu tidak melakukan kesalahan apapun. Yang bersalah di sini adalah suaminya, jadi untuk apa kita yang harus menemui mereka."


"Lalu bagaimana dengan kirey. Sudah lebih dari dua minggu dia berada di sini tanpa kejelasan."


"Kalau soal kirey, kamu tidak perlu khawatir. Sebelum ke sini, tadi aku bertemu dengannya. Dia tau jika kamu berencana menemui mertuanya, dan dia sama sekali tak menyetujui hal itu."


"Anakmu sepertinya berfikir yang sama denganku. Ia juga mengatakan jika dia sudah siap, jika memang bercerai."


"Apa." Papa ian berteriak terkejut, hampir tersedak kopi yang ia minum. Dengan cepat ia menoleh, menatap saudara laki-lakinya itu tajam.


"Kamu jangan menatapku seperti itu, putrimu sendiri yang memutuskan begitu. Ia merasa kesal sebab selain leon tak kunjung mengakui kesalahannya dan meminta maaf, leon bahkan memukulnya."


"Kirey juga, merasa tak terima tentang keluarga leon yang tak bertanggung jawab atas apa yang di perbuat leon. Sementara waktu itu, keluarga leon bahkan sampai mau memasukan kamu dan adik ipar di penjara saat ia melakukan sedikit kesalahan yang tak seberapa jika di bandingkan dengan yang leon lakukan."


"Bagaimana ini pa." Mama ike mengguncang bahu papa ian tak terima begitu mendengar ucapan mas pram.


"Tidak! Kirey, tidak bisa memutuskan hal ini sendiri. Kita tetap harus membuat semuanya menjadi jelas dulu. Kalau mereka jahat, kita jangan ikut-ikutan seperti mereka."


"Syukurlah. Aku pikir, kamu juga akan langsung menyetujui perkataan kirey." Mama ike mengusap dadanya pelan.


Sementara mas pram hanya diam saja, membiarkan ian memutuskan. Namun ia berada di pihak kirey, ia yakin pernikahan keponakannya itu tidak akan bertahan lama lagi.


Walaupun ian, leon atau siapapun mencegah namun perceraian tak dapat di hindari lagi. Karena yang paling penting,kirey sendiri yang sudah tidak menginginkan pernikahan tersebut.

__ADS_1


.


.


.


Satu minggu kemudian.


Papa ian, sedang dalam perjalanan menuju salah satu tanah milik ayah tama bersama kakaknya mas pram.


Dari yang papa ian dengar dari bi ani, kalau sudah beberapa hari ini tama menginap di rumah peristirahatan dan belum pulang ke rumahnya sama sekali.


Papa ian akhirnya dengan terpaksa pergi menemui ayah tama duluan. Karena selain masih tak ada tanda ayah tama akan datang, ia terus di desak oleh kirey agar menyelesaikan masalah rumah tangganya secepatnya.


Meskipun enggan, namun papa ian tak bisa berbuat apa-apa karena bukan itu saja masalahnya. Kirey terus saja bertengkar dengan leon setiap kali leon datang ke rumahnya.


Awalnya. Kirey hanya tak mengizinkan leon masuk ke kamarnya, namun lama-lama kirey mulai melemparkan barang-barang yang ada di sekitarnya ketika ia melihat leon. Kirey bersikeras tak ingin lagi memiliki hubungan apapun dengan leon.


Entah apa yang ada di pikiran anaknya itu. Tapi, mengingat kirey kemarin pernah mengalami depresi karena keguguran. Papa ian terpaksa mengikuti keinginan kirey, ia tak ingin kirey kembali menjadi depresi.


Mobil berjalan pelan melintasi jalan raya yang terlihat banyak lubang-lubang kecil pada jalannya. Papa ian menarik nafas panjang, ia mengingat bagaimana dulu sikapnya yang tak tegas karena tak menolak perjodohan putrinya. Harusnya saat itu ia tolak saja, sesal papa ian dalam hati.


"Tenanglah, nanti aku yang akan bicara dengan pak tama jika kamu tak bisa melakukannya." Kata mas pram dari samping sambil sebelah tangannya menepuk-nepuk pundak papa ian.


Kurang dari tiga puluh menit lamanya mereka menempuh perjalanan menuju perkebunan milik ayah tama. Akhirnya, mobil mereka berhenti di depan sebuah jalan kecil yang di penuhi rumput liar di samping jalannya.


Jalan tersebut tidak dapat di masuki oleh mobil, sehingga mulai dari situ mereka berdua berjalan kaki. Tak sulit menemukan lokasi rumah peristirahatan karena jaraknya tak begitu jauh dari jalan.

__ADS_1


"Mari aku antar kalian berdua." Ucap bi ani pada papa ian dan pram. "Sudah sampai, aku hanya bisa mengantarkan kalian sampai sini. Di dalam sudah ada pak tama. Kalian bisa langsung masuk saja." Ucap bi ani membalikkan badannya berjalan pergi


"Maafkan aku kak. Aku tidak dapat membantu putrimu, karena kebahagiaanku juga tak kalah penting." Bisik bi ani pelan, entah apa yang ia bicarakan.


Sementara. Papa ian yang hanya mengetuk pintu sekali, langsung masuk ke dalam rumah peristirahatan tanpa menunggu jawaban dari dalam rumah. Kedatangan ian dan pram rupanya sudah di ketahui oleh ayah tama. Tama terlihat sedang menyesap sebatang rokok, hanya menoleh menatap mereka berdua sebentar.


"Bisa kita bicara?" Tanpa basa-basi pram langsung bertanya. Ia sedikit merasa tak suka dengan respon yang ayah tama berikan.


"Duduklah dulu." Ayah tama merubah posisi duduknya menghadap ke arah mas pram dan papa ian.


Papa ian yang tadinya berniat ingin berbicara baik-baik, ikut tersulut emosi melihat sikap ayah tama yang seperti tak menghargai kedatangan mereka. Namun papa ian mencoba untuk tetap sabar.


"Apa yang ingin kalian bicarakan?"


Papa ian kembali marah mendengar pertanyaan dari ayah tama. Ingin rasanya ian langsung memukul besannya tersebut. Ayah dan anak sama saja pikir papa ian.


"Sepertinya anda sudah tau maksud kedatangan kami ke sini." Jawab mas pram


Tolong bersikap sopan selagi adikku masih berbicara baik-baik. Ian mungkin tak berani memukulmu, namun aku akan menghancurkan mulutmu jika sekali lagi kamu berkata yang tidak penting." Bisik mas pram di telinga ayah tama.


Wajah ayah tama yang tadinya santai berubah menjadi merah padam, ia memainkan giginya merasa geram, tangannya ia kepal kuat di bawah meja.


"Apa sekarang kita sudah bisa bicara?" Tanya mas pram dengan menampilkan senyum sangat lebar, sampai matanya terlihat menyipit.


"Jadi bagaimana?"


Pertanyaan papa ian memang singkat, namun ayah tama sudah faham maksud dari pertanyaan tersebut.

__ADS_1


"Saya sangat menyayangi kirey sudah seperti saya menyayangi putri saya sendiri. Saya merasa sedih karena kalian memisahkan kami dari dia sangat lama."


Papa ian dan mas pram saling memandang satu sama lain. Ucapan dari ayah tama tadi, sekali bukan ucapan yang mereka harapkan.


__ADS_2