KIREY : Early-Age Marriage

KIREY : Early-Age Marriage
60. Kehancuran leon


__ADS_3

"Papa." Panggil leon lirih. ia berjalan mendekati papa ian, menyalami papa mertuanya itu.


"Syukurlah kamu datang. Papa dan ayahmu sudah sepakat untuk mengakhiri hubunganmu dengan kirey. Baru saja prosesnya selesai."


"Apa maksud papa." Tanya leon tak mengerti, ia tak ingin berspekulasi buruk walau ia dapat mendengar ucapan papa ian dengan jelas.


"Papa datang ke sini untuk meminta kirey kembali, dan sekarang adat kalian telah resmi berpisah. Ayahmu sebagai wali telah menyetujui perpisahan kalian." Ucap papa ian nampak senang.


"Yasudah kalau begitu. Kami pamit pulang dulu, selamat siang." Papa ian dan mas pram sama-sama membalikan badannya. Ke dua pria itu melangkahkan kakinya cepat, tak tahan berada di rumah itu lagi.


Dari datang sampai pulang, ke dua pria itu tak duduk sama sekali. Jangankan sopan santun, mereka bahkan tak di hidangkan air putih. Di negeri yang masih kental akan adat ini, hal seperti itu merupakan suatu bentuk penghinaan. Namun papa ian dan mas pram diam saja karena ingin masalah cepat selesai.


"Apa hak ayah sehingga seenaknya memutuskan hubunganku dengan kirey." Teriak leon tak terima.


"Itu semua keinginan mertuamu. Ah tidak, maksudnya mantan mertuamu. Dari awal mereka memang sudah ingin mengakhiri hubunganmu dengan kirey. Jadi jangan salahkan ayah." Bela pak tama.


"Tapi ayah menyetujui keinginan mereka tanpa menunggu aku dulu." Teriak leon frustasi. "Pokoknya aku tidak menerima perpisahan ini."


"Bukan kamu yang dapat memutuskan hal itu. Walau kamu tidak mau, namun hukum adat berkata kalian telah resmi berpisah."


"Ke dua orang tua dari pihak laki-laki dan perempuan telah sepakat, dan lihatlah tadi pram sebagai wali yang menikahkan kalian berdua juga ada di sini sebagai saksi proses pengembalian kirey pada keluarganya. Jadi terima atau tidak, kamu dan kirey telah berpisah secara adat.


"Ayah ingatkan untuk tidak membuat keributan. Jangan menganggu kirey lagi atau kamu tau sendiri konsekuensinya apa. Selain denda, kamu juga akan kenal sanksi adat jika sampai pram itu melaporkanmu pada pemuka daerah." Ayah beranjak pergi meninggalkan leon.


Leon terduduk lemas di atas kursi sofa di sampingnya, ia mengerang frustasi. Mengambil vas bunga lalu melemparkannya ke dinding. Leon menatap marah ke arah bi ani yang baru datang.

__ADS_1


"Jika saja kalian tidak menjalin hubungan kotor, papa ian pasti tak akan sampai membuatku berpisah dengan kirey." Ucap leon kesal. tangannya terkepal erat, menatap jengah wanita yang menjadi kekasih ayahnya itu.


Bi ani terkekeh.


"Inilah kenapa kirey tak menyukaimu."


"Dia mencintaiku." Sanggah leon cepat.


"Ckck, jangan menyalahkan orang lain. Berkacalah nak, penyebab kalian berpisah adalah kamu sendiri."


"Apa kamu melupakan kejadian di mana keluargamu ingin memasukan ian dan ike ke penjara? Ah, kalau tidak salah itu karena kirey kabur dari rumah sehingga clara berkata akan menjebloskan orang tua kirey ke penjara."


"Apa maksudmu." Tanya leon tak mengerti.


"Bibi kenal betul bagaimana kirey, sepertinya ia dendam terhadapmu. Dan yang dari bibi dengar katanya ia tak terima sebab kamu melakukan kesalahan tapi tak di hukum apapun, apalagi katanya kamu sama sekali tidak minta maaf dan tak merasa bersalah." Cerca bi ani.


Tak memperdulikan bi ani. Leon bangkit lalu berjalan dengan cepat ke mobilnya, ia meraih kunci mobil di saku celananya, dan dengan cepat melajukan mobilnya. Tujuan leon tentu saja ke rumah kirey.


Kalau ia datang ke rumah kirey, leon berharap akan di laporkan kepada pemuka daerah dan mendapat hukuman. Kalau dia di hukum, kirey pasti memaafkannya dan mau lagi kembali padanya.


Namun sayang sekali. Leon harus menelan kenyataan pahit sebab rumah kirey terkunci rapat. Ia mengetok rumah tersebut berulang, namun tak ada sahutan dari dalam. Leon berhenti mengetok ketika ada seorang tetangga yang memberitahukan jika kirey dan keluarga sudah pergi dari tadi pagi.


"Ke mana mereka pergi?" Tanya leon pada diri sendiri. Tak mungkin mereka pergi jauh sebab belum genap satu jam sejak papa ian dan paman pram pergi dari rumahnya. Tak mungkin juga mereka pergi ke rumah aenun, yakin leon tanpa mencoba mengecek.


Leon bingung harus ke mana, ia tak begitu dekat dengan keluarga kirey. Ia hanya kenal beberapa saudara dari papa ian tapi tak tau di mana rumah mereka. Karena bingung leon memutuskan untuk meminta bantuan pada anton dan leon.

__ADS_1


.


.


.


Sayang sekali leon tak mengecek ke rumah aenun yang hanya melewati satu rumah sudah ketemu, karana kirey dan seluruh anggota keluarganya sedang berkumpul di rumah bi ani itu.


Papa ian membeli banyak ayam, mereka mengadakan acara bakar-baka di rumah bi ani. Papa ian tak enak hati dengan hendra karena itu ia ingin menghibur iparnya itu walau hanya sedikit.


Si kembar yang baru berusia 4 tahun membuat suasana makin ramai, anak-anak ayah hendra dan bi ani yang paling kecil itu sedang tertawa karena di gelitik oleh tris.


Aenun tampak asik berbincang dengan kirey, entah apa yang ke dua kakak adik seumuran itu bicarakan. Mama ike sedang menggiling bumbu di bantu oleh siti, anak ayah hendra dan bi ani yang paling tua.


Ayah hendra dan papa ian asyik mengobrol sambil menikmati secangkir kopi. Adul, anak ke dua ayah hendra dan bi ani alias adik dari siti tampak sibuk membolak-balik potongan ayam di atas panggangan.


Walau baru saja mengalami banyak kehilangan namun keluarga itu nampak bahagia malam itu.


Kondisi mereka berbanding terbalik dengan leon. Pria malam itu sedang terkapar di jalan depan rumah anton. Leon dalam kondisi mabuk parah.


Setelah tadi datang ke rumah anton dengan niat ingin meminta bantuan sahabatnya itu untuk mencari kirey. Namun sialnya ketika datang, anton tengah menegak minuman bersama teman-temannya yang lain. Mama anton tak ada di rumah sehingga anak itu bebas melakukan apapun.


Karena hal itu, leon melupakan niat awalnya dan malah ikut bergabung dengan anton. Ia menghabiskan berbotol-botol minuman beralkohol.


Karena sudah mabuk, leon mulai bertingkah aneh. Pria itu tertawa sambil berbicara melantur, ia juga berkelahi dengan seorang pria karena pria itu tak sengaja menyenggolnya.

__ADS_1


Tak lama leon berlari ke luar rumah, memuntahkan segala isi yang ada di perutnya. Karena itu, ia berakhir terkapar di jalan.


Leon masih terus meracau sambil sesekali memanggil nama kirey lirih. Kondisinya nampak kacau.


__ADS_2