
Keesokan paginya. Ketika bangun, leon merasa seluruh badannya seperti akan remuk, kepalanya terasa pening, tenggorokannya kering, perutnya juga merasa lapar. Leon menatap sekitar, ia berada di kamar miliknya. Bukannya semalam ia sedang di rumah anton?
"Sudah sadar?" Clara masuk ke kamar sambil membawa sepiring bubur.
"Bagaimana aku bisa ada di sini? Tanya leon balik.
"Satpam kompleks menemukanmu tak sadarkan diri di jalan. Sungguh, kamu terus saja membuat malu. Segera habiskan bubur itu." Clara berlalu. meninggalkan leon.
2 bulan berlalu
Seorang pria nampak berlari panik sepanjang koridor rumah sakit. Leon baru saja mendapatkan kabar jika sukma akan melahirkan. Walaupun ia masih tak mengakui jika anak yang di kandung sukma adalah anaknya, namun leon tetap ingin pergi melihat sendiri bagaimana rupa anak itu ketika lahir.
Saat leon sudah tiba di ruang bersalin, tiba-tiba mama sukma menghadang jalannya, membuat leon berhenti juga dengan tiba-tiba. Nafas leon memburu, ia menatap ibu sukma meminta penjelasan.
"Untuk apa kamu di sini? Jangan membuat kami semakin merasa bersalah karena sudah membuat rumah tanggamu hancur." Mamanya sukma lantas mengusir leon dari situ. Ia tak ingin leon ada di sana.
Namun leon tak mendengarkan ucapan mamanya sukma, ia hanya berjalan sedikit menjauh dari depan ruang bersalin. Keringat membasahi hampir seluruh baju leon sebab ia tadi ia terus berlari, leon duduk sambil merentangkan ke dua kakinya beristirahat.
Namun baru saja duduk. Leon sudah kembali bangkit, dengan cepat ia berjalan ke depan ruang bersalin ketika melihat dokter keluar dari ruangan tersebut. Leon tak memperdulikan tatapan mamanya sukma yang menatapnya tajam.
"Selamat bayi anda telah lahir, kondisi ibu dan anaknya baik-baik saja."
"Boleh saya masuk, saya suaminya." Ucap leon membuat mama serta saudara sukma yang berada di depan ruangan itu terkejut.
"Boleh, tapi hanya sebentar saja. Ibunya harus banyak istirahat. Suster tolong antarkan." Ucap bu dokter sambil tersenyum lalu berjalan pergi.
Tak membuang-buang waktu, leon langsung masuk ke dalam ruangan.
"Dasar pria tak tau diri, kemarin saja tak mau mengakui. Sekarang baru mau berlagak jadi suami." Ucap kakak sukma kesal.
__ADS_1
"Sudahlah tak apa, biarkan saja. Kamu kan juga tau sukma akhir-akhir ini selalu ingin bertemu dengan leon jadi biarkan saja leon menemuinya." Mamanya sukma berbicara sambil menatap punggung leon yang menghilang di balik pintu.
"Wajahnya sangat mirip dengan ayahnya." Ucap suster sambil menyerahkan bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu pada sukma.
Leon tampak memperhatikan interaksi antar sukma dan bayi itu ketika suster mengajarkan cara menyusui. Pandangan mata leon tak lepas dari bayi mungil yang kini terlelap di dekapan sukma itu.
Suster mengambil bayi itu lagi, lalu meletakan bayi tersebut kembali ke dalam box, setelahnya suster pamit pergi.
Suasana canggung tercipta, Leon bingung harus berbicara apa, ia bahkan tak berani menatap sukma. Ia cukup malu dengan mantan kekasihnya itu
"Bisakah kamu mengadzani bayiku?" Tanya sukma ragu. "Tapi jika kamu tidak bisa tidak apa-apa. Nanti aku akan meminta tolong kakakku saja." Ucap sukma cepat.
Sukma pikir leon tak setuju mengingat bagaimana leon tak menyukainya, ia bahkan masih ingat bagaimana leon menyangkal dan tak mau mengakui anak tersebut sebagai anaknya.
Namun senyuman sukma langsung mengembang. Ia melihat leon melangkahkan kakinya mendekat ke arah box bayi. Air mata sukma tak dapat ia bendung ketika leon mulai mengadzani bayi di telinga kirinya dan berlanjut membaca iqomah pada telinga kiri si bayi.
Sama halnya dengan sukma. Air mata leon tak dapat lagi ia tahan begitu ia dapat melihat dengan jelas bayi mungil yang ada di depannya itu sangat mirip dengan dirinya.
Rambut bayi itu ikal persis seperti dirinya, hal itu tak mungkin ia dapatkan dari sukma karena rambut sukma sangat lurus. Leon memperhatikan wajah bayi itu sangat persis dengan fotonya ketika ia masih bayi.
Selesai iqomah, leon meletakkan bayi itu kembali ke box-nya. Leon merasa ia tak perlu berlama-lama lagi berada di ruangan itu, ia lalu bergegas berjalan dengan cepat tanpa berpamitan pada sukma.
Sialnya, begitu membuka pintu. Clara dan ayah serta tak lupa bi ani sedang duduk berbincang dengan mamanya sukma. Melihat mereka, leon berencana membalikan badannya masuk. Namun sayang clara lebih dulu melihat dan memanggil namanya.
"Apa boleh aku melihat keponakanku?" Tanya clara antusias.
Leon menatap clara tak suka. Walaupun bayi itu memang mirip dengannya, namun leon masih tetap tak percaya jika itu bayinya. Tak ingin mendengar omong kosong dari keluarganya, leon melanjutkan langkahnya pergi dari situ.
.
__ADS_1
.
.
Malam harinya. Ayah tama duduk di samping leon tengah asyik bermain game PlayStation di ruang tengah. Leon hanya menatap sekilas ayahnya, ia lalu kembali fokus pada layar 21 Inchi di depannya.
"Sebaiknya kamu menikahi sukma." Namun itu bukan suara ayah, melainkan suara bi ani.
Leon dapat mendengar jelas ucapan wanita yang sudah 2 bulan lebih tinggal di rumahnya tersebut, tapi tak ia hiraukan.
Namun leon membanting stik game kasar begitu ayahnya berdiri mencabut kabel kontrol.
"Bisakah kalian tidak menggangguku." Teriak leon kesal, ia segera membalikkan badannya.
"Tunggu, ayah perlu bicara." Ucap ayah dengan nada tak ingin di bantah.
Leon terpaksa kembali duduk, "Ada apalagi?" Tanya leon tak sabaran.
"Kamu pasti tadi mendengar ucapan bi ani. Memang benar kamu sebaik__"
"Tidak, tentu saja tidak akan pernah." Sela leon cepat.
"Anak itu terbukti anakmu, orang awam saja dapat melihat dengan jelas kemiripan kalian berdua. Berhentilah menyangkal jika dia bukan anakmu."
"Baiklah, aku akui mungkin dia anakku." Setuju leon akhirnya membuat papa ian tersenyum, "Namun, itu bukan berarti aku akan menikahi sukma. Perempuan yang aku cintai hanya kirey, dan hanya dia yang akan menjadi istriku."
"Soal anak itu, aku akan bertanggung jawab atasnya. Tapi hanya anak itu, tidak dengan ibunya. Ini keputusan mutlak dariku dan tidak boleh ada yang mengganggu gugat. Aku harap lain kali kalian tidak lagi membahasnya."
Setelah mengatakan hal itu, leon memutuskan masuk ke kamarnya. Ia kembali merenung memikirkan kirey, entah di mana kirey sekarang berada? Sejak papa ian memutuskan hubungan mereka berdua. Leon tak pernah lagi melihat kirey, sebab rumah kirey selalu kosong hingga hari ini.
__ADS_1
Leon sudah mencoba bertanya pada sahabat-sahabat kirey, tapi mereka tak ada yang membuka mulut. Jadi selama 2 bulan belakangan hidupnya dia terus mencari kirey seperti orang kesetanan dan sekarang meraka malah berkata agar dirinya menikahi sukma? Jelas itu tidak mungkin.