KIREY : Early-Age Marriage

KIREY : Early-Age Marriage
66. Adat II


__ADS_3

Leon mematung di tempatnya, ia terkejut bagai di sambar petir mendengar ucapan Tetua. Ingin rasanya ia berteriak tegas menolak ucapan kakak tua itu. Tapi siapa yang bisa melawan hukum adat


"Pak Tama tidak keberatan dengan hasil keputusan saya bukan?" Tetua bertanya, memperhatikan ayah pemuda leon itu seksama.


Pak Tama mengangguk kaku, tersenyum memaksa. Tentu saja tidak keberatan, walaupun keberatan, pak tama tidak dapat melakukan apapun. Tidak mungkin ia melawan tetua adat yang merupakan penegak hukum tertinggi itu. Ucapan kakek tua itu seperti ultimatum yang tidak dapat di bantah.


"Tunggu apalagi Leon? Cepatlah, beberapa menit lagi tarhim tanda subuh sudah berkumandang." Perintah Tetua Guru.


Leon bangkit dari tempat duduknya berjalan menuju meja, wajahnya jelas sekali terlihat berat untuk mengucapkan kata talak.


Benar saja, detik demi detik berlalu.


Mungkin sudah lima menit tapi Leon tak kunjung bersuara.


"Tama, tolong katakan pada anakmu untuk tidak menguji kesabaranku. Atau dia memang sengaja ingin menentang keputusan dariku?" Tanya Tetua Guru yang terlihat sudah tidak sabaran lagi.

__ADS_1


Pak tama terlihat meremas ke dua pundak leon, entah apa yang pak tua itu bicarakan dengan anaknya. Yang jelas Leon tampak marah dan tidak terima dengan ucapan ayahnya. Hingga satu tendangan mengenai kaki Leon, baru ia dapat berbicara.


"Secara sadar dan tidak terpaksa oleh siapapun, Aku talak engkau, aku talah engkau, aku talak tiga engkau dan aku kembalikan kepada kedua orang tuamu." Ucap Leon dalam sekali tarikan nafas ia mengucap 3 talak sekaligus.


Kirey nampak bahagia mendengar ucapan Leon, ia memeluk ayahnya senang dan bertos ria dengan Telix.


"Leon telah menyebut talak tiga sekaligus, dan menurut Mazhab Syafi’i talak tersebut adalah sah dan kalian tidak bisa kembali rujuk kembali. jadi kalian telah resmi telah berpisah menurut agama."


"Jika nanti kalian ingin kembali bersama syaratnya adalah, nanti kirey sebagai perempuan yang dijatuhi talak tiga sekaligus, menikah lagi dengan pria lain dan sudah bercampur baur dengan suami barunya lalu bercerai. Saat itu ia bisa menikah lagi dengan leon." Jelas Tetua adat.


Tak ada yang menolak ajakan Tetua guru bahkan Telix sekalipun. Walau suasana masih terlihat genting, Leon dan pak Tama bahkan sama sekali tak menjawab sapaan Papa Ian dan Telix yang berkata untuk merapatkan shaf.


Ke dua ayah dan anak itu kompak menjauh dari Papa ian dan Telix.


Selesai Tetua Guru mengucapkan dua kalimat salam. Leon tanpa berpamitan langsung melenggang pergi begitu saja. Syukurlah pak tama masih mendekat ke arah Tetua, menyalami tangan beliau lalu pamit pergi.

__ADS_1


"Bagaimana bisa anda menikahkan putri anda yang cantik begitu dengan pria seperti itu? Aku tidak heran melihat sifat Leon, lihatlah ayahnya saja sangat tak menghargai orang." Bisik pak Lurah pelan saat mereka keluar dari musholla.


Kirey mendekati papa Ian, menyalami tangan papanya itu, tak lupa menyalami tangan pak Lurah dan Tetua guru.


Dan seperti tau apa yang di pikiran Kirey, Tetua bertanya, "Apa kamu tadi cemas karena aku diam saja selama kalian berdebat?."


Kirey mengangguk, ia memang sedikit khawatir karena Tetua terlihat sama sekali tak membela papa ian tadi.


"Aku sengaja membiarkan mereka bertengkar. sejak awal Tama terus saja berkilah, aku menduga jika ada yang tidak beres sehingga membiarkan mereka saja. Tama adalah pria yang keras kepala, karena itu aku diam dan membiarkan papamu berbicara."


"Tama menjadi terpancing emosinya mendengar ucapan papamu dan akhirnya dia sendiri yang membeberkan kesalahan anaknya."


Kirey mengangguk, itu benar. Pak Tama tadi pasti akan semakin berkilah jika Tetua ikut campur dalam pembicaraan mereka tadi. Mantan ayah mertuanya itu pasti membela dirinya secara mati-matian.


Syukurlah semua sudah selesai. ia tak perlu lagi berurusan dengan leon maupun keluarganya.Sekarang tinggal memikirkan bagaimana ia melanjutkan hidup kedepannya.

__ADS_1


__ADS_2