KIREY : Early-Age Marriage

KIREY : Early-Age Marriage
38. Rahasia umum


__ADS_3

1 bulan kemudian


Hujan deras membuat pemandangan dari dalam mobil sedikit buram, sesekali bunyi guntur memekikkan telinga.


Leon fokus mengendarai mobil, ia sedang menemani kirey pergi ke rumah sakit untuk mengecek kandungan kirey yang sudah masuk 3 bulan.


Setiap selesai makan, atau mencium satu bau yang tidak ia sukai. Kirey akan terus saja mengalami mual, dan muntah karena hamil mudanya.


Kirey bahkan selalu muntah jika mencium bau tubuh leon, karena hal itu, sudah seminggu ini kirey tidur bersama clara.


Akhirnya, clara yang harus menggantikan tugas leon untuk menemani, memijat punggung, leher dan tangan kirey ketika kirey mengalami mual dan muntah.


"Hati-hati" ucap leon, membantu kirey keluar dari mobil. Tangan kanannya merangkul pinggang kirey, sedangkan tangan kiri memegang payung.


Mereka berdua berjalan pelan di sepanjang lorong rumah sakit, jalan menjadi licin sebab air hujan merambah hingga mengenai lantai.


Pemeriksaan berlangsung cepat, dokter memberi resep obat anti mual.


Sepulang dari rumah sakit, leon langsung mengantarkan kirey ke dapur. Clara sedang melahap bubur nasinya, ia mendongak ke atas melihat kedatangan mereka.


Clara meletakan mangkuknya di atas meja, setelah suapan terakhir masuk ke mulutnya.


"Bagaimana hasil pemeriksaannya" tanya clara


"Janinnya berkembang dengan baik"


"Syukurlah" clara menyerahkan sepiring bubur nasi untuk kirey.


Karena hujan clara tak memasak banyak. Para pekerja rumah di liburkan, sedangkan ayah sedang tak berada di rumah.


Kirey menatap bubur tersebut tak berselera, ia menunjuk piring besar berisi buah apel, jeruk, dan pisang yang ada di atas meja.


"Pisang ambon itu terlihat menggoda sekali, boleh aku makan itu saja?" Kirey mendorong piring bubur nasi menjauh dari depannya.

__ADS_1


"Apakah kmu sudah tidak mual lagi jika berdekatan dengan leon?" tanya clara, sambil menyerahkan beberapa buah pisang pada kirey.


"Jangan tanyakan hal itu, di dalam mobil tadi ia tak berhenti-henti muntah. Untung saja ketika sampai di rumah sakit, ia tak kembali muntah hingga sekarang" jawab leon.


"Berarti malam ini kamu masih harus tidur sendiri" ucap clara, ia dan kirey sama-sama menertawai leon.


"Untuk masa depan, aku akan sedikit bersabar, yang penting anak dan istriku baik-baik saja" ucap leon bijak, ia menatap kirey lembut.


Malam harinya, kirey dan clara sedang berada di kamar clara. mereka tengah bercanda, ketika via tiba-tiba langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Di luar hujan masih belum berhenti, clara mengomeli tindakan via yang menurutnya tak sopan, sementara via seperti tak perduli dengan omelan kakaknya.


"Aku ingin bertanya serius kepadamu?" ucap via memotong ucapan clara.


Via kira clara akan berhenti mengomel, namun clara malah terus saja berbicara tanpa henti. Walaupun sudah terbiasa dengan sifat clara yang banyak bicara, namun via mulai merasa jengah.


"Ayo, kita tanyakan saja kepada leon" bisik via pada telinga kirey, ia merangkul lengan iparnya itu kemudian mengajaknya berjalan pergi.


Dua kakak-adik ipar itu bergegas berjalan mencari leon ke kamar, namun leon tak ada. Meraka mencari di dapur, ruang tengah, dan menemukan leon tengah menyesap kopi di ruang tamu.


"Aku tidak soal itu, memangnya kenapa?" jawab leon, bertepatan dengan datangnya clara bergabung duduk dengan mereka bertiga.


"Aku mendengar para pekerja bercerita jika ayah akan menikahi bi ani" ucap via


Kirey dan leon reflek menatap via secara bersamaan berbeda dengan clara yang diam saja.


"Kamu terlihat seperti mengetahui sesuatu" ucap via menatap clara curiga.


"Hal itu bagaikan menjadi rahasia umum, bagaimana aku tidak tau" jeda clara, ia memperbaiki cara duduknya mencari posisi ternyaman.


"Awalnya aku tak terlalu menghiraukan, ketika tak sengaja mendengar percakapan para ibu-ibu pekerja tentang ayah dan bi asih yang terlihat sangat dekat"


"Namun, aku sering mendapati ayah memberi upah lebih banyak kepada bi ani dari pada yang semestinya. Jika itu sekali dua kali tak apa-apa, tapi hal itu terjadi sering kali."

__ADS_1


"Lalu pernah suatu malam, bi ani dan dua perempuan lain menginap di kebun. Entah kebetulan atau tidak, malam itu ayah juga ikut menginap di kebun"


"Dan yang paling tidak masuk akalnya lagi, kata dua pekerja wanita itu kalau paginya ayah dan bi ani menghilang secara bersamaan."


"Hingga jam 8 bi ani baru muncul. Ketika di tanya dari mana, bi ani beralasan habis dari kali. sedangkan ayah sendiri tak pernah muncul lagi"


"Maaf apa benar bi ani tidak tinggal lagi di rumah suaminya" kini clara bertanya pada kirey.


"Yah, aku dengar katanya begitu. tapi aku tidak tau pasti apa penyebabnya, kata mama mereka sering bertengkar karena suami bi ani tak pernah memberi uang untuknya" jawab kirey


"Memang sih, kami sekeluarga juga tau kalau bi ani tak pernah mendapat uang dari suaminya sejak lama. Itulah kenapa beliau giat sekali bekerja" ucap kirey membenarkan.


Clara mengangguk-anggukan kepala, ia terlihat ingin kembali berbicara tapi sepertinya ragu.


"Ayah mungkin memberi uang lebih karena, bi ani tipe perempuan yang pekerja keras dan pagi itu bisa saja ayah memang sudah benar-benar pulang" ucap leon, ia tak ingin berburuk sangka.


"Aku juga sempat berfikir begitu, namun kamu tidak akan percaya jika aku mengatakan hal ini" balas clara.


Via yang sejak dari tadi diam, kini menatap clara dengan penasaran.


"Bi ani sekarang tinggal di sebuah kos-kosan yang letaknya tepat di belakang sekolah sma leon dulu. Dan kalian tau apa yang aku lihat?" ucap clara terhenti.


" Memangnya apa yang kamu lihat?" tanya via penasaran.


"Benar saja, aku melihat ayah berada di di depan kos-kosan tersebut! walau memang belum tentu terjadi apa-apa, tapikan untuk apa ayah di situ" jawab clara


"Sudahlah, berhenti membahas yang tidak-tidak" ucap leon tegas, ia meraih tangan kirey kemudian berjalan masuk ke kamar.


Sebenarnya leon juga merasa ada yang aneh dengan hubungan ayah dan bi ani, namun ia tak ingin membenarkan ucapan clara. Bagaimanapun bi ani adalah pangkat ibu dari istrinya.


Sedangkan kirey hanya diam saja dari tadi, ia sedang memikirkan ucapan clara yang tak masuk akal baginya.


Di luar sana , hujan masih turun dengan derasnya. Sesekali petir menyambar, cahaya terangnya masuk melewati jendela. Di susul geledek menggelegar, kirey seperti akan tersadar sesuatu.

__ADS_1


"Harusnya aku tidur dengan clara, sekarang aku merasa ingin muntah " kirey menutup mulut, ia bergegas keluar kamar meninggalkan leon seorang diri.


Leon menarik nafas pasrah, entah sampai kapan ia akan terus tidur seorang diri.


__ADS_2