KIREY : Early-Age Marriage

KIREY : Early-Age Marriage
40. Depresi


__ADS_3

Kirey mengerjakan matanya berulangkali, ia terbangun melihat sekeliling ruangan. "Syukurlah kamu sudah sadar" leon memeluknya.


Rupanya ia berada di rumah sakit, kirey kemudian mengingat kejadian terakhir yang di alaminya.


"Di mana anakku leon?" tanya kirey panik ketika ia meraba perutnya dan mendapati jika perutnya sudah rata.


Leon tak menjawab apa-apa hanya semakin menguatkan pelukannya.


"Tidak-tidak" kirey mencoba melepaskan diri dari pelukan leon, ia memukul-mukul lengan suaminya dan mulai menangis histeris.


Dua hari kemudian kirey telah di perbolehkan pulang. sejak mengetahui jika ia keguguran, kirey menjadi sangat pendiam, ia tak berbicara dengan siapapun.


"Aku ingin pulang ke rumah orang tuaku" ucap kirey tiba-tiba ketika mereka tengah dalam perjalan pulang.


Leon seperti ingin membantah, namun urung karena ayah kini menahan tangannya, ia melihat ayah mengeleng-gelengkan kepalanya.


Leon menarik nafas pasrah, karena kirey hanya diam akhirnya seluruh keluarganya juga bersikap murung. Ia terpaksa memutar balikan mobil ke rumah mertuanya.


Kirey segara turun dari mobil begitu sampai, ia tak ingin ada yang mengikutinya dan leon serta keluarga hanya bisa setuju.


Tok-tok-tok


"Kamu tidak apa-apa?" tanya mama ike begitu membuka pintu dan melihat kedatangan putrinya yang terlihat pucat.


Kirey yang sudah lama menahan diri untuk tidak menangis, akhirnya menyerah juga ketika mendengar pertanyaan mamanya.


Bulir bening itu, mulai menetes satu persatu sebelum akhirnya ia menangis sejadi-jadinya. Ia sedang tidak baik-baik saja, kemudian kirey menghampiri dan segera memeluk tubuh mama ike, mencari ketenangan di sana.


Mama ike yang tak mengerti apa-apa, hanya dapat menepuk-nepuk pelan punggung anaknya berusaha menenangkan.


"Ayo masuk dulu" ucap mama sambil menuntun jalan kirey yang masih berada di pelukan mamanya.


Kirey duduk termenung di atas ranjang pada kamarnya, ia sudah sedikit diam namun air matanya sesekali masih menetes.


Mama ike datang dengan membawa segelas air putih, membantu kirey minum kemudian duduk di sampingnya. Mama hanya diam saja, tak bertanya apa-apa sebab menunggu kirey agar bercerita sendiri.


Hingga beberapa menit kemudian, kirey mengangkat pandangannya menatap mamanya dengan tatapan sendu. Kemudian memutuskan untuk menceritakan kejadian di mana ia keguguran, kirey kembali manangis.


Mama menatap perut kirey yang terlihat rata, melonjak kaget kemudian ikut menangis. Dari tadi mama memang tak memperhatikan, karena lebih fokus dengan tangisan anaknya.

__ADS_1


"Tenanglah ada mama di sini" Ucap mama ike, kemudian menyuruh kirey beristirahat.


Kirey menurut kemudian mencoba memejamkan mata, namun ia segera membuka kembali matanya begitu mendengar pintu kamarnya tertutup.


Kirey menatap langit kamar dengan tatapan kosong, ia kembali menangis, air matanya seolah tak mau mengering hingga ia tertidur dengan sendirinya.


Ketika bangun, dalam kamarnya nampak gelap. ia melihat ke luar jendela yang masih terbuka, ternyata sudah malam.


Kirey bangkit berdiri menutup jendela, menyalakan lampu, lalu duduk di kursi depan meja rias bingung dengan apa yang harus dilakukannya.


Kirey tersadar dari lamunannya ketika pintu terbuka, mama datang membawa sepiring nasi dan segelas susu.


"Makan dulu" ucap mama setelah menaruh makanan yang ia bawa di atas meja samping tempat tidur.


"Kenapa mama tidak membangunkan aku?" tanya kirey


Karena biasanya mamanya akan mengomel jika ia tidur siang sampai ke sorean, namun sekarang ia bahkan bangun kemalaman tanpa adanya yang membangunkan.


"Mama pikir kamu capek" jawab mama


Mama kemudian mengambil piring makanan tadi, lalu menarik tangan kirey agar duduk bersamanya di lantai lalu menyuapi kirey.


Awalnya kirey menolak, ia merasa tak berselera untuk makan. namun karena mamanya terus memaksa ia akhirnya menurut saja.


Melihat kedatangan suaminya, kirey membuang muka menatap ke lain arah. ia tak ingin melihat wajah leon. sedangkan mama langsung meninggalkan kirey dan leon ketika melihat kirey menghabiskan susu yang tadi mamanya bawa.


"Bicaralah denganku" ucap leon dengan suara pelan seperti suara orang yang frustasi, leon bicara dengan masih berdiri di depan pintu kamar


Melihat kirey yang tak menjawab apapun, leon memutuskan masuk berjalan mendekati kirey lalu duduk di lantai berhadapan dengan istrinya itu.


Beberapa saat berlalu mereka masih saling diam, leon juga sebenarnya bingung harus memulai pembicaraan dari mana.


Leon tau jelas jika kirey sedang terpuruk, ia tak ingin ucapannya malah menambah keterpurukan istrinya.


"Ikutlah pulang bersamaku" ucap leon akhirnya.


Kirey masih diam sambil memainkan ujung bajunya.


"Kita dapat memiliki anak lagi nanti, jangan.."

__ADS_1


"Kamu dapat berbicara seperti itu karena bukan kamu yang mengalaminya" sela kirey cepat sebelum leon sempat menyelesaikan ucapannya.


"Bagaimana kamu dapat berbicara begitu, kamu istriku dan yang hilang itu anakku" mata leon memancarkan kesedihan.


"Tapi kita tidak dapat mengembalikan sesuatu yang sudah hilang" ucap leon kemudian terdengar putus asa.


"Ini semua karena kesalahanku, karena aku tidak pandai menjaga diri sehingga tidak bisa menjaga anak kita" ucap kirey kembali menangis, sebenarnya kirey sangat menyalahkan diri atas kecerobohannya.


"Aku juga tau jika tidak dapat mengembalikan apa yang sudah pergi"


"Namun aku juga harap kamu mengerti, jika apa yang terjadi tidak dapat aku lupakan apalagi aku terima dengan mudah."


"Jadi biarkan aku tetap di rumah orang tuaku untuk sementara waktu" putus kirey.


Leon akhirnya hanya dapat menuruti keinginan kirey.


.


.


.


Seminggu berlalu setelah kirey datang ke rumah orang tuanya, leon datang hampir tiap malam untuk menjenguk istrinya. Leon mencoba menghibur hati kirey, namun bukannya membaik kirey malah terlihat semakin murung.


Kata mama ike, kirey sering menangis secara tiba-tiba atau tertawa tanpa sebab. pernah sekali juga mama melihat kirey sedang berbicara seorang diri sambil mengelus-elus perutnya.


Hal itu semakin parah ketika kirey mulai berbicara sendiri dengan boneka-boneka mainnya, hingga leon terpaksa harus membawa kirey ke psikiater.


"Ada banyak cara agar stres istri anda tidak semakin berat, atau menimbulkan masalah kesehatan lain. Contohnya istri anda dapat melakukan olahraga, atau meditasi."


"Namun saya sarankan agar dapat melakukan aktivitas yang menyenangkan hatinya, sehingga dia tak terlalu fokus pada hal yang dapat membuatnya tertekan." ucap dokter.


Setelah pulang dari psikiater. Leon telah mencoba berbagai macam hal yang kirey sukai, mulai dari martabak, memasak bersama bahkan berkumpul dengan teman-temannya kirey.


Namun kirey tak memberikan respon yang berarti.


"Apa kamu suka pulau ora?" tanya leon, ia kini tengah duduk bersama istrinya di halaman belakang rumah mertuanya.


Kirey hanya mengangguk kepala, pandangannya lurus ke depan.

__ADS_1


"Bagaimana jika minggu ini kita ke sana, hanya kita berdua" tawar leon.


Kirey menoleh ke arah leon, ia diam selama beberapa saat sepertinya sedang berfikir. tak lama kirey kembali mengangguk setuju.


__ADS_2