KIREY : Early-Age Marriage

KIREY : Early-Age Marriage
62. Pernikahan yang di paksakan


__ADS_3

Siang itu kirey dan mama ike baru saja keluar dari salah satu pasar tradisional. Karena kirey lapar, ke dua anak dan mama tersebut memutuskan untuk singgah sebentar di warung makan.


"Mba ike." Sebuah suara menyapa, memanggil nama mama ike.


Langkah kirey dan mama terhenti. Mereka menoleh, melihat bi ani dan pak tama. Ke dua pasangan itu berjalan mendekat dengan wajah berseri-seri. Rupanya sekarang mereka tak malu lagi berjalan di depan umum.


"Hai mba, apa kabar?" Ucap bi ani, wanita itu kemudian mendekat sambil memeluk kakak iparnya itu.


Mama ike hanya tersenyum tampa menjawab.


"Apa kirey sudah menikah lagi?" Tanya bi ani sambil melirik kirey. Pertanyaannya mengandung nada mengejek.


Kirey melotot menatap bibinya tak suka. Pertanyaan yang sangat tak sopan.


"Aku bisa hidup sendiri tanpa pria."


"Sayang sekali kamu masih muda sudah jadi janda, kenapa tidak menikah lagi saja."


"Jadi bagaimana dengan bibi? Apa bibi akan menikah? Atau jangan-jangan pak tama hanya ingin tubuh bibi saja tanpa bertanggung jawab? Karena kalian tampaknya sudah asik kumpul kebo terus." Balas kirey. Ia tak peduli jika ucapannya terdengar kurang ajar.


"Lagipula lebih baik aku menjadi janda dari pada harus menggatal pada sembarang pria." Ucap kirey menekankan pada tiap katanya.


Mendengar ucapan anaknya, bukannya marah mama ike malah terkekeh kecil. Mendukung ucapan kirey.


Sedangkan wajah bi ani terlihat merah padam, sepertinya emosi mendengar ucapan kirey yang tak sopan.


Kirey pikir bi ani akan kembali melayangkan kata-kata pedas balasan, tapi tanpa mengucapkan apa-apa bi ani melenggang pergi begitu saja


Kirey sempat melirik sebentar ke pak tama. Mantan ayah mertuanya itu tak menyapa ia sedikitpun, ia juga tak berniat menyapa balik. Pak tama yang berada di belakang bi ani itu tampak diam mengikuti.

__ADS_1


Setalah kepergian keduanya. Kirey dan mama ike melanjutkan langkahnya memasuki warung makan. Kirey yang sudah duduk di kursi terus meledek bi ani. Hatinya masih merasa dongkol dengan bibinya tersebut. Kenapa juga ia harus bertemu wanita itu hari ini?


.


.


"Sudahlah, Kamu jangan menangis lagi. Lagi pula ucapannya tak benar, sebentar lagi kan kita menikah." Ucap pak tama berusaha menenangkan bi ani yang dari tadi terus saja menangis ketika sampai di rumah.


"Sebaiknya percepat saja pernikahan kita, aku tak ingin pernikahan yang mewah, yang penting kita menikah dan membungkam mulut orang-orang itu." Tuntut bi ani


Bi ani sudah tidak tahan, bukan baru tadi dia selalu mendapat kata kasar. Sejak tinggal di rumah pak tama, ia selalu mendapat ocehan dan cemoohan dari orang-orang di sekitarnya.


Awalnya bi ani tak perduli. Namun lama-lama, ia merasa kesal dan juga malu. Selain saudara-saudarinya, semua yang mengenal ia dan pak tama selalu menggunjingkan dirinya. Sehingga ia tak tahan.


"Minggu depan. Aku tak mau tau, minggu depan kita sudah harus menikah." Ucapan bi ani itu di jawab anggukan oleh pak tama.


Bi ani tersenyum senang. Usahanya selama ini tak boleh berakhir sia-sia. Ia sampai harus meninggalkan keluarganya demi pak tama, jadi dia harus mendapatkan pria itu.


Walaupun masa Iddah masih lama baru selesai. Bi ani dan pak tama tak memperdulikan hal itu, mereka tetap akan menikah apapun yang terjadi.


.


.


"Ingat untuk datang." Ucap bi ani menekan tiap Kalimatnya. Wanita itu nampak senang.


Kirey menerima selembar kartu, ia membuka kartu tersebut." Oh pantas saja nenek sihir ini bahagia." Kartu yang kirey terima adalah kartu undangan pernikahan antar pak tama dan bi ani.


Sepertinya bibinya itu tersinggung dengan ucapannya tempo hari sehingga mempercepat pernikahan mereka. Dasar wanita mata duitan, padahal belum lama bibinya itu bercerai dengan ayah hendra sekarang sudah ingin menikahi pria tua kaya.

__ADS_1


"Kalau begitu kami pamit pulang dulu, masih ada banyak hal yang perlu di urus." Ucap bi ani, Bibinya itu nampak sudah sangat berubah. Bukan hanya sifatnya saja tapi penampilannya juga. Bak ibu-ibu sosialita lainnya, banyak sekali perhiasan di tubuh bi ani, tak lupa tas branded yang pastinya mahal serta pakaian mewah yang melapisi tubuhnya.


Harta memang dapat merubah orang.


"Ah, aku harus segera ke rumah ayah hendra. Di lihat dari sifatnya sekarang, bi ani pasti akan memberikan kartu undangan pada anak-anaknya." Kirey berlari cepat ke rumah sebelah sambil memikirkan reaksi saudara-saudarinya.


Dan benar saja, bi ani terlihat akan mengetuk pintu. Dengan cepat kirey berlari, "Biar aku saja yang kasih kepada mereka." Sela kirey cepat sebelum bibinya mengetuk pintu.


Untung saja bi ani setuju dan langsung segera pergi. Sekarang tinggal bagaimana caranya dia menyampaikan kartu tersebut. Namun sepertinya kirey tak harus bersusah payah. Baru saja ia baru akan pergi, adul sudah lebih dulu menarik kartu tersebut dari tangannya.


Kakak sepupunya itu lantas merobek kartu undangan itu menjadi beberapa bagain, "Apa dia gila sampai berfikir kami akan datang di pernikahannya." Ucap adul terlihat kesal.


"Kamu mengangetkan aku saja."


"Kenapa juga kamu berbicara dengan wanita penghianat itu? Seharusnya tadi kamu biarkan saja dia terus mengetuk pintu dan pergi dengan sendirinya."


"Kenapa kamu jadi marah padaku? Aku hanya tak ingin bi ani bertemu dengan si kecil kembar, mereka tidak tau apa-apa." Ucap kirey beralasan.


"Maaf." Adul merasa sedikit bersalah karena telah memarahi kirey, "Dari jauh aku sudah melihat kedatangan mama, jadi aku sengaja mengunci pintu agar mama tak bertemu adik-adik."


"Entah apa yang ada di pikiran mamamu itu, aku sama sekali tak mengerti kenapa ia sampai bisa berfikir datang ke sini."


"Uang sudah merubah mama." Jawab adul geram.


Kirey mengangguk membenarkan, "Jadi kalian tidak ada yang akan datang ke acara pernikahan bi ani bukan?" Tanya kirey memastikan.


"Tentu saja." Jawab adul tegas.


Hingga Hari H, acara akad di langsungkan di mesjid yang letaknya tak jauh dari lingkungan perumahan milik pak tama. Dari pihak perempuan tak ada keluarga yang datang sama sekali, hanya papa ian saja sebagai wali saja yang kelihatan.

__ADS_1


Tak jauh berbeda dengan pihak dari keluarga laki-laki, hanya adik-adik perempuan pak tama dan clara yang turut hadir. Leon dan via entah di mana.


Akad nikah tersebut memang di rencanakan hanya di hadiri oleh orang-orang terdekat, namun yang hadir lebih sedikit dari pada perkiraan.


__ADS_2