KIREY : Early-Age Marriage

KIREY : Early-Age Marriage
8. Lamaran dan telfon dari sean


__ADS_3

Satu hari sebelum hari lamaran.


Di Rumah Leon pagi itu, terlihat Pak Tama yang sedang berbincang dengan Clara dan Ibu Asih.


"Kita tidak jadi melamar besok, ada kegiatan yg harus aku ikuti dan tidak bisa di wakilkan. Jadi kita punya dua pilihan lain, yaitu melamar malam ini atau besok pagi. Tapi sebaiknya kita lakukan malam ini, aku minta tolong kamu Asih untuk membeli segala bentuk seserahan." Ucap Pak Tama.


"Jenis, merek, harga. Pilihlah yang terbaik nanti kita tanyakan pada kirey atau ajak anaknya saja langsung, ini poin pertama."


"Poin kedua. Uang untuk membeli semua seserahan, aku transfer ke rekening kamu Asih. Kalau kurang nanti hubungi aku lagi."


Poin ketiga" Pak Tama masih bicara tanpa jeda, "Clara, nanti tolong kamu delivery makanan dan cemilan untuk di antarkan ke rumahnya Kirey. Mereka pasti belum ada persiapan apa-apa, dan agar mereka tak perlu repot-repot menyiapkan makanan."


Ibu Asih menggerutu, "Kenapa mendadak begini? sekarang kita buat list dulu. Mall baru buka jam 10, kita tidak usah mengajak Kirey, cukup telfon dan tanyakan saja. Tidak baik kelihatannya, mengajak orang yang mau di lamar keluyuran." Meski mengomel namun Ibu Asih mulai menulis list seserahan dengan mimik serius.


-Perhiasaan


-Alat perawatan


-Skincare


-Perlengkapan badan


-Perlengkapan mandi


-Sepatu, tas


"Apalagi?" Tanya Ibu Asih meminta pendapat Clara, "Sekarang Clara, coba telfon Kirey minta size baju, sepatu dan sendal. Termasuk warna kesukaannya, dan skincare yang biasa dia pakai."


"Tama jangan lupa menghubungi orang tua Kirey, untuk memberitahu kedatangan kita malam ini. Agar mereka juga dapat bersiap-siap." Crocos Ibu Asih panjang lebar.


Menjelang sore, urusan seserahan akhirnya selesai. Malamnya, Leon dan keluarga menuju rumah Kirey.


Leon berjalan di sebelah Pak Tama, sementara di belakang ada Clara, Fia, Ibu Asih dan dua orang Bibi lain yang membawa sejumlah hantaran memasuki halaman rumah Kirey.


"Mari masuk." Sambut Papa Ian.


Begitu masuk, mereka langsung di suguhi oleh pemandangan sederet kursi berpita dan hiasan bunga-bunga.


Sementara Mama Ike dibantu Ainun, dan Ami terlihat sibuk menyusun cemilan dan makanan untuk para tamu.

__ADS_1


Kini, Leon duduk di barisan depan bersama Pak tama, Ibu Asih, dan Ibu Yuni, adiknya pak tama yang satu lagi. Sedangkan Clara, Fia, dan Bibi yang satunya. Mereka sibuk mengatur kotak hantaran pada sebuah meja panjang.


Sementara di sisi lain. Duduk Papa Ian, dua pria dewasa, Bibi Ani dan Mama Ike yang sudah ikut duduk.


Di kamar. Kirey sedang ditemani Nadira. Mereka berpegangan tangan. Nadira mencoba memberi dukungan untuk Kirey. mereka fokus mendengarkan suara orang-orang yg saling berbicara di ruang tamu.


"Kami sebagai pihak dari keluarga laki-laki, Leon Bagaskara mengajukan pinangan pada putri bapak-ibu, Kirey ang dengan mahar sebesar ..."


"Astaga, mereka ingin membeli rumah atau melamar kamu." Ucap Ami sembarangan. Dia baru saja masuk kamar ikut menemani Kirey.


Mulut Nadira menganga takjub, mendengar harga mahar yang di sebutkan.Berbeda dengan Kirey. Dia hanya diam saja mendengar jumlah mahar yang disebut seharga dua kali lipat dari yang dapat dia pikirkan.


Kirey bahkan merasa pikirannya tak di tempat. Hampir saja jatuh tersandung ketika jalan keluar kamar, untung Nadira menahannya cepat. Menuntun Kirey duduk di samping Leon.


Kirey merasa tak sanggup membalas tatapan semua orang yang sekarang tertuju padanya.


Lalu ketika Ibu Asih melangkah maju sambil menyerahkan kotak-kotak cantik tersebut. Kirey masih saja diam.


Para Ibu-ibu mulai berkumpul di ruang makan. Sedangkan Bapak-bapak sedang berbincang di halaman depan.


Saat ini kirey sedang bersama Leon di halaman tamu. Tak ada yg mencoba memulai obrolan. Kirey sibuk dengan pikirannya hingga keluarga Leon pamit pulang.


Sekarang tinggal mereka berdua. Mama dan Papa Ian sudah masuk kamar beristirahat. Ami sudah pulang dari tadi.


"Rasanya seperti mimpi." Kirey membuka obrolan.


"Sudah bisa nerima sekarang?" Tanya nadira.


"Tidak usah terlalu dipikirkan, toh lamarannya sudah kamu terima." Ujar nadira setelah usai menyesap teh dan memakan beberapa kue lapis.


Kirey menggeleng, tentu saja dia sadar akan hal itu. Di tengah percakapan mereka dering ponsel berbunyi.


Sean


Iya, benar itu jelas-jelas nama Sean yang tertera di layar ponsel. Kirey sampai harus berulang kali mengucek matanya agar memastikan dia tidak salah liat.


"Ada apa?" Tanya nadira


Kirey hanya menunjukan layar ponselnya kepada Nadira tanpa menjawab.

__ADS_1


"Kalau mau di angkat sebaiknya kamu keluar, tidak bagus kalau bicara disini takut tante dan om dengar" respon Nadira.


Ponsel masih berbunyi. Kirey ragu menatap ponselnya tapi pada akhirnya dia memilih berjalan keluar.


"Sepertinya aku harus terlebih dahulu mengucap kata maaf." Adalah kalimat pertama yang Sean bicarakan.


"Tidak perlu." Respon Kirey sambil mengibaskan tangannya ke udara seperti seolah-olah Sean dapat melihat apa yg dia lakukan.


"Sepertinya tidak ada yg perlu di bicarakan lagi. Keluarga Leon sudah pulang." Kirey hendak mengakhiri telfon. Dia cukup kecewa, kenapa baru sekarang Sean memberi kabar setelah apa yg terjadi.


"Aku menelfon karena mau bicara sama kamu, tentang kita bukan yg lain." ucap Sean cepat.


Kirey yang mendengar hal itu akhirnya luluh juga. Bagaimanapun dia masih mencintai Sean dan belum sepenuhnya menerima perjodohan yang terjadi, "Jadi apa yg ingin kamu katakan" Kirey mencoba untuk tidak menangis.


"Aku akan jelaskan semuanya kamu dengarkan aku baik-baik." Ucap Sean.


"Orang tuaku sudah cerai dari aku kecil, papa dan mama sudah menikah lagi sekarang aku tinggal dengan keluarga mama yg baru di Kota A. Mama sibuk dengan keluarga barunya. Aku tak pernah diperhatikan. Dapat aku katakan bahwa aku anak yg terlahir dengan kurang kasih sayang."


"Terkadang aku akan pulang ke kampung papa. Sejujurnya aku benar-benar jatuh cinta dengan kamu. Tapi bisakah kita menjalin hubungan dulu setelah itu baru kita pikirkan lagi, aku butuh kamu." Sean mencoba menjelaskan.


"Kenapa kamu baru cerita sekarang? seharusnya kamu menceritakannya dari awal, agar kita dapat mencari solusinya." Kirey membentak.


"Bagaimana aku akan memberimu waktu, lamaran dari Leon sudah aku terima." Jawab kirey dengan suara tertahan hampir menangis. Ia benar-benar merasa frustasi, marah, kecewa, dan segala jenis perasaan menjengkelkan


Sean tak merespon apa-apa. Dia tau sepertinya Kirey sedang menangis. Tapi setelah beberapa waktu berlalu, sean kembali mengatakan sesuatu yang tak dapat di duga.


"Yasudah kamu menikah saja dengan Leon. Aku menerima segala keputusan kamu. Semoga kamu bahagia. Telfon terputus.


Kirey shock dan tak percaya dengan pendengarannya sendiri, tapi di abaikan. dia berusaha mencoba bangkit masuk kedalam rumah karena merasa akan pingsan.


Jam menunjukkan pukul 23.20 wit mendapati Nadira dalam kamar, 'Sekarang sudah malam, sebaiknya kamu menginap disini dan temani aku" .


Nadira mengangguk. Dia berjalan mendekati kirey lalu memeluknya.


Nadira tau Kirey tidak sedang baik-baik saja, dipeluk seperti itu membuat Kirey menangis sejadi-jadinya.


"Sean mengatakan agar aku menikah." Ucap Kirey setelah mulai sedikit diam.


Nadira yang mendengar hal itu sontak kaget, ia tak percaya. Nadira kembali memeluk Kirey, mencoba agar Kirey tak terlalu merasa terbebani.

__ADS_1


Malam ini akan panjang dengan tangisan kirey.


__ADS_2