KIREY : Early-Age Marriage

KIREY : Early-Age Marriage
47. Kabur


__ADS_3

Kirey kembali masuk ke kamarnya, ia mengambil ponselnya dengan buru-buru. Ia menghubungi nadira, namun sampai 3 kali sahabatnya itu tak mengangkat telfonnya.


Dengan ragu ia menatap lama layar ponsel yang tertera nama telix di situ, ia ingin meminta bantuan telix namun tak yakin dengan sahabatnya yang satu itu, pikirnya jika telix tak akan bersedia.


Ia mencoba menghubungi nomor nadira lagi, namun tetap tak terhubung. Hingga hampir 20 menit berlalu, kirey memutuskan menghubungi telix.


Baru dering ke dua langsung di angkat "Hallo" sapa telix dari seberang, suaranya terdengar malas.


Kirey bingung harus berbicara dari mana, ia malah melamun hingga bentakan dari telix menyadarkannya. "Maafkan aku, tapi sekali ini saja bisakah kamu tolong jemput aku"


"Memangnya di mana suamimu? suruh dia saja yang antar. Lagi pula kamu akan ke mana selarut ini"


Kirey manarik nafas panjang, ia tentu saja kesal. Walau sudah dapat menebak akan begini reaksi telix namun ia masih saja merasa emosi.


"Huh, kalau dia ada di sini juga aku tak akan meminta bantuan darimu. Tolonglah sekali ini saja, aku ingin ke rumah orang tuaku" ucap kirey.


"Memangnya ada apa?"


"Kamu harus menceritakan padaku dulu apa masalahmu" Sela telix cepat sebelum kirey kembali bicara.


"Aku tau pasti sedang terjadi sesuatu, kamu tidak akan mungkin sampai meneleponku jika tidak terdesak. Jadi katakan saja" Desak telix.


Dengan terpaksa kirey kemudian menceritakan kejadian yang ia alami. Telix awalnya nampak tak percaya kalau leon dapat berbuat hal seperti itu. Namun ia juga tau jika kirey tak akan menghubungi dia duluan jika keadaannya tidak serius.


"Tapi aku sedang bersama dengan ami"


"Ayolah" mohon kirey, suaranya terdengar seperti akan menangis.


"Baiklah, jika seperti itu yang kamu katakan. Begini saja kamu buat alasan dengan mengatakan kepada anton atau tomi untuk mengantarkan kamu ke mini market yang depan genk perumahan"


"Lalu, kalau kamu sudah di situ kabari aku, kebetulan temanku ada yang bekerja di situ. Nanti aku akan meminta tolong temanku untuk mengeluarkan kamu dari pintu belakang" telfon telix putus secara sepihak.

__ADS_1


Kirey mendengus kesal, namun ia bersyukur telix mau membantunya, memang tak ada yang bisa ia andalkan selain para sahabatnya.


Tak ingin membuang waktu, kirey mulai memasukan bajunya satu persatu ke dalam tas dengan buru-buru. Namun tas tersebut bahkan belum penuh, ia sudah berhenti.


"Bagaimana aku kabur membawa tas sebesar ini? yang ada, baru keluar kamar saja sudah ketahuan" kirey menepuk jidatnya tersadarkan.


Tanpa mengembalikan pakaian pada tempatnya, ia langsung menaruh tas berisi pakaian di dalam lemari bagian bawah. Ia lalu mengacak lemari bagian atas mencari buku nikah miliknya, namun setelah ia temukan kirey menaruhnya kembali.


Tak ingin membawa terlalu banyak barang, ia mengambil dompet, membuka lalu meraih semua uang yang ada di dalamnya lalu ia masukan ke dalam hoodie yang akan ia pakai pas keluar nanti.


Tak lupa ia mengambil atm lalu menaruhnya di belakangnya ponselnya, tersembunyi di balik casing ponsel tersebut.


Kirey melepas dress yang kenakan, ia mengganti dengan memakai celana levis ketat panjang yang menampilkan dengan jelas lekuk bokongnya yang besar. ia memakai kaos oblong sebagai atasan lalu melapisi dengan hoodie tadi.


Seperti perkataan telix, ia keluar kamar dan meminta di antarkan ke mini market depan. Awalnya tomi dan anton tak setuju. Anton berkata jika ia sendiri yang akan pergi membeli jika ada yang ingin kirey beli.


Namun 5 menit kemudian, kirey dan anton sudah dalam perjalanan ke mini market. Anton langsung setuju untuk mengantarnya setelah tadi ia berkata ingin membeli pembalut. Dengan wajah merah padam, sepertinya ia malu. Anton langsung setuju agar kirey saja yang membeli.


Kirey sudah mengirim pesan kepada telix sejak di atas motor tadi. Bagitu sampai, ia tak langsung masuk namun masih membujuk anton agar menunggu di depan saja. Tapi anton tetap kekeh ingin menemaninya masuk.


"Hei bagaimana ini di sini sangat gelap" protes kirey, ia sudah berada di belakang mini market sedang menelpon telix. Teman telix langsung menutup pintu begitu ia keluar dari pintu belakang.


"Nyalakan flash ponselmu, berjalanlah mengikuti arah gang sempit yang berada tepat di samping kanan gedung mini market itu. Cepatlah, aku dan ami menunggu di depan gang"


"Damn " umpat kirey kesal, sebab telix langsung mematikan sambungan telfon.


Kirey menatap sekeliling, rumput lebat serta beberapa pohon tinggi dalam keadaan gelap itu membuat bulu kuduknya berdiri. Ia menyalakan flash lalu dengan hati-hati berjalan pelan, sebab jalannya becek dan penuh lumpur.


Belum juga sampai di depan genk, jantungnya hampir copot karena ponselnya tiba-tiba berdering.


"Jangan keluar dulu, tunggulah 2 menit lagi di balik rerumputan. Aku dan ami sedang bersembunyi karena tadi anton lewat, sepertinya ia sudah sadar jika kamu menghilang" ucap telix kemudian lagi-lagi memutuskan sambungan telfonnya.

__ADS_1


Kirey menarik nafas berulang kali, ia mensugesti dirinya sendiri agar sabar. Kirey berjanji jika ia bertemu dengan telix, ia pasti akan memukul kepala sahabatnya itu.


Tanpa mematikan flash, kirey berjalan sedikit lagi ke depan lalu bersembunyi di belakang semak-semak tak jauh dari depan genk. Dengan buru-buru ia mematikan flash begitu mendengar suara bunyi motor mendekat.


Jantungnya seperti akan meledak mendengar langkah kaki mendekat, ia memejamkan matanya, ke dua tangannya ia gunakan untuk menutup telinga. Sepertinya ia akan segera di tangkap, pikir kirey.


"Apa yang kamu lakukan, ayo segera pergi" Kirey melonjak kaget, rupanya itu telix yang datang menggoyangkan bahunya.


Plak


Satu tamparan berhasil mengenai bahu telix. Telix merintih tertahan, ia menatap kirey dengan pandangan bertanya ada apa.


"Kamu hampir membuatku mati jantungan" ucap kirey kesal.


Telix kemudian terkekeh, ia segera meraih tangan kirey agar berjalan mengikutinya.


Telix menjalankan motornya dengan cepat, kepalanya sesekali menengok kiri dan kanan melihat situasi. Ami sudah menunggu di jembatan yang tak jauh dari komplek perumahan.


Akhirnya mereka bertiga dapat keluar dari komplek perumahan itu, kirey manarik nafas lega. Akhirnya ia bisa kabur juga.


Telix memberhentikan motor tepat di rumah nadira.


"Maaf aku tidak berani mengantar sampai rumahmu, aku tidak berani mengahadapi ocehan mama ike" ucap telix begitu turun dari motor.


Kirey mengangguk mengerti, ia memutuskan untuk berjalan seorang diri ke rumahnya.


"Hai tunggu" teriak nadira dari dalam rumah, membuat kirey membalikan badan.


"Bagaimana kabarmu? apa kamu sudah baik- baik saja? oh tuhan aku sangat merindukanmu" nadira memeluk tubuh kirey setelah tadi ia memeriksa tubuh sahabatnya itu dari depan sampai belakang.


"Aku baik-baik saja, mengapa kamu tidak mengangkat teleponku?"

__ADS_1


"Ponselku ada pada nando. Lalu mengapa kamu bisa ada di sini pada jam begini?" jawab nadira.


Kirey hanya mengangguk mengerti. Tak ingin memperpanjang percakapan, kirey hanya mengatakan pada nadira untuk bertanya pada telix saja. Kemudian ia bergegas pulang.


__ADS_2