KIREY : Early-Age Marriage

KIREY : Early-Age Marriage
56. Kekecewaan papa ian


__ADS_3

Walaupun sudah pukul 16.00, tapi di luar terik matahari masih menyengat ubun-ubun. Tidak ada yang berniat ke luar rumah.


Ada yang sedikit berbeda karena hari ini adalah tepat hari kelahiran tris, yang artinya tris sedang berulang tahun.


"Kita hanya akan mengadakan acara di rumah saja bukan makan malam di hotel bintang lima." Ucap tris mengingatkan kirey yang sibuk mengenakan pakaian terbaiknya.


Kirey hanya mendengarkan tanpa mau merespon. Ia tetap asyik berkaca, meminta pendapat sambil memutarkan badannya. Gaun yang ia kenakan ikut terputar mengikuti gerakan tubuhnya.


Hingga suara teriakan mama ike mengalihkan perhatian ke dua kakak-adik itu. 5 menit kemudian mereka sekeluarga sudah berkumpul fo meja makan.


Setelah selesai papa ian memanjatkan doa untuk kebaikan tris, tak lupa untuk anggota keluarga yang lainnya juga. Mereka berempat mulai melahap hidangan yang terlihat berbeda dari menu biasanya. Seafood, terlihat lezat.


"Aku sudah lama sekali tidak memakan kepiting." Nasi memenuhi piring tris. Ia mengambil sepotong kepiting berukuran sedang untuknya.


"Kamu seperti orang tidak makan 100 hari." Bisik kirey di telinga tris dengan nada mengejek, membuat tris melotot ke arahnya.


Kirey sudah mematahkan cangkang kepiting, tidak sabaran. Susah payah. Bukannya bukannya berhasil, malay bumbunya terciprat mengenai baju, membuat tris menertawakan dirinya. Tris tertawa tapi tangannya membantu mengeluarkan isi kepiting dari cangkangnya untuk kirey.


Meja yang terlalu besar untuk ukuran empat orang itu diam. Hanya terdengar suara denting sendok yang bersahutan. Papa ian mengajarkan pada keluarganya agar ketika makan tak ada yang bicara sebagai bentuk penghormatan terhadap makanan yang mereka makan.


Mama ike mengisi minuman pada gelas-gelas kosong, mengambil piring kotor miliknya dan papa ian karena mereka berdua telah selesai makan lebih dulu. Sementara kirey dan tris masih menambah makanan.


"Jika ani benar-benar menikah dengan laki-laki tua tak tau malu itu. Entah apa yang dapat aku perbuat." Ucap papa ian sambil menarik kursi yang berada di depan tv.


"Ani menikah?" Mama ike ikut duduk di samping papa ian.


"Iya, aku mendengar kabar yang tak mengenakan. Sebenarnya aku tak terlalu percaya, karena itu aku memanggil kemari. Mungkin sedikit lagi dia sudah datang."

__ADS_1


"Coba ceritakan kepada dengan jelas." Mama ike tak mengerti.


Papa ian mengangkat bahu, "Tunggulah sedikit lagi semuanya akan terjelaskan ketika ani datang. Aku tidak bisa langsung bercerita karena aku sendiri juga belum yakin."


Ruangan itu diam sejenak. Hanya terdengar suara dari tv yang menyala.


"Garis besarnya saja." Mama ike masih menuntut ingin tau.


Baru saja papa ian ingin menjawab bertepatan dengan kedatangan bi ani. Wanita itu masuk begitu saja tanpa salam, langsung duduk di kursi kosong samping kanan papa ian.


"Katakan apa keinginan kamu sebenarnya?" Tanya papa ian menatap bi ani malas. Ia berharap adiknya itu langsung mengatakan yang sebenarnya.


"Biarkan aku menikah dengan pak tama. Aku sangat mencintai dia. Setelah itu terserah apapun yang akan kami lakukan. Kamu mau marah silahkan, asal jangan mengacaukan usahaku dulu sekarang." Ucap bi ani santai.


Papa tama dan mama ike sama-,sama terkejut mendengar ucapan bi ani barusan. Papa ian menatap bi ani tak percaya, sambil geleng-geleng kepala.


"Halah, sudah seperti ini baru kamu dapat berbicara seperti itu. Sejak kemarin-kemarin kamu selalu menutup mata sebelah, ketika kamu melihat adikmu bekerja susah payah kamu hanya diam saja. Sekarang aku sudah tak butuh lagi bantuan darimu."


"Karena aku yakin, pak tama dapat memberikan lebih dan aku bisa mendapatkan apapun yang aku mau tanpa harus bersusah payah terlebih dahulu." Ucap bi ani dengan kasar sambil mengangkat wajahnya sombong.


Papa ian terdiam untuk beberapa saat. Untuk pertama kalinya, ia merasa begitu marah pada adik perempuannya itu. Setelah orang tua mereka meninggal, papa ianlah yang membesarkan bi ani dan bi ratri adiknya yang satu lagi. Bi ratri ikut tinggal di tempat suaminya yang jauh sedangkan rumah bi ani hanya berjarak 3 meter dari rumah papa ian.


"Papa." Kirey memanggil sambil menyentuh bahu papanya.


"Mama, antarkan ani ke depan. Aku sudah tidak ingin melihatnya lagi, biarkan dia jika dia ingin menikah dengan pria tua itu." Kata papa ian, membuat semua yang ada di ruangan itu kaget mendengar ucapan papa ian barusan.


"Ap__apa? Kakak serius?" Tanya bi ani menatap papa ian tak percaya. Sedangkan kirey dan mama ike hanya diam memikirkan apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


"Apa aku terlihat sedang bercanda sekarang? Lakukan saja sesuai keinginanmu. Tapi, seperti yang kamu katakan tadi setelah itu keputusannya ada di tanganku. Jadi setelah kamu menikah dengan pak tama, jangan pernah sekalipun muncul di hadapanku."


"Ayo ani, aku antarkan ke depan." Ajak mama ike sambil merangkul lengan bi ani.


Bi ani tersenyum senang. Ia tak perduli dengan konsekuensinya, yang penting ia dapat menikah dengan pak tama. Ia pun mengikuti langkah kaki kakak iparnya, ingin secepatnya keluar dari rumah tersebut.


Baru beberapa langkah berjalan. Suara pak tama menghentikan langkah mereka.


"Ani, tunggu!"


Sontak, langkah bi ani terhenti. Bi ani membalikan tubuh, matanya ia putar jengah, melihat papa ian masih berada di tempat sebelumnya. "Ada apalagi?"


"Katakan pada kekasihmu itu untuk segera mengurus perceraian putranya jika ingin menikah denganmu." Ucap papa ian santai namun terkesan mengejek.


"Kalau soal itu, tenang saja. Leon dan kirey aku pastikan akan segera bercerai."


Setelah itu papa ian mengajak kirey untuk duduk di halaman belakang. Mama yang sudah mengantar bi ani ke depan, datang dengan membawa secangkir kopi untuk papa ian dan sepiring pisang goreng untuk dia dan kirey.


"Pa, jadi hubungan ayah dan bi ani itu memang benar?" Tanya kirey sambil mengotak-atik ponsel di tangannya.


"Seperti yang kamu dengar tadi, mereka akan menikah. Tentu saja itu benar." Ucap ayah sambil meminum kopinya pelan.


"Aku memang sudah dari lama mendengar tentang hubungan mereka dari clara tapi waktu itu aku dan leon tak percaya. Tapi baguslah jika memang mereka akan menikah." Ucap kirey bersemangat.


"Sudahlah, jangan terlalu kamu pikirkan soal mereka. Kamu tenang saja, kamu akan secepatnya akan berpisah dengan leon. Sekarang walaupun leon datang memohon-mohon agar kalian kembali bersama hal itu sudah tidak bisa terjadi lagi. Karena apa? Ya, karena ayahnya sendiri yang telah menghancurkan semua usahanya." ucap papa ian tenang.


"Kasihan sekali leon. Dia pasti sangat marah dengan muak dengan ayahnya." Ucap mama bersimpati.

__ADS_1


"Tentu saja sayang. Tapi kamu tidak perlu mengasihi anak itu. Dia sudah banyak menyakiti anak kita." Papa ian merangkul bahu mama ike.


__ADS_2