KIREY : Early-Age Marriage

KIREY : Early-Age Marriage
32. Aenun


__ADS_3

Pagi subuhnya, kirey terbangun lebih dulu. Para pria tengah duduk mengelilingi api yang masih menyala dari semalam.


Mereka sedang menghisap rorok, sambil sesekali menyesap kopi, entah mereka sempat tidur atau tidak.


"Sudah bangun?" tanya leon, ketika ia melihat kedatangan kirey.


"Yah, aku tidak dapat tidur dengan benar, aku merasa seperti ada yang sedang memperhatikan"


"Apa kita akan pulang hari ini?" tanya kirey


Leon mematikan rokoknya, berjalan mendekati kirey kemudian mengengga tangan istrinya, kemudian mengajaknya masuk ke tenda milik mereka.


"Kenapa terburu-buru? kita baru satu hari di sini" ucap leon ketika mereka telah masuk ke dalam tenda.


"Aku tau, tapi bukannya kamu juga melihat apa yang terjadi semalam? aku takut terjadi sesuatu lagi jika kita tetap berada di sini" ucap kirey cemas.


"Tenanglah, kami para laki-laki akan menjaga kalian. Lagi pula kita tetap tidak bisa pulang hari ini karena yang punya speedboat akan datang besok siang"


"Kamu tau sendiri bukan? di sini tidak ada akses jaringan sedikitpun, jadi tidak ada cara untuk menghubungi orang di luar."


"Yang bisa kita lakukan hanya menunggu, sekarang temani sampai aku tertidur, aku sudah sangat mengantuk" kemudian leon menutup matanya sambil memeluk kirey dari belakang.


.


.


.


Matahari mulai memunculkan sinarnya, angin pagi berhembus tak terlalu kencang, tapi suhu sekitar terasa sangat dingin.

__ADS_1


Tomi dan telix telah tertidur di atas pasir, beralaskan tikar bekas semalam yang mereka gunakan untuk makan, sedangkan anton masih terjaga.


Anton berdiri mengamati aenun dan nadira yang tengah duduk di tepi pantai, sesekali angin mengibaskan rambut mereka berdua yang panjang terurai.


"Selamat pagi" sapa anton yang memutuskan untuk menghampiri kedua perempuan tersebut, ia membawa kopi di tangannya.


Nadira menjawab sapaan anton sambil tersenyum, sedangkan aenun hanya menoleh sebentar ke samping, sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada hempasan ombak.


"Boleh duduk di sini?" tanya anton lagi, sambil menunjuk tempat kosong di samping aenun.


"Duduklah temani dia, aku akan ke kamar mandi sebentar" jawab nadira, ia segera bangkit bergegas pergi meninggalkan anton dan aenun berdua.


Aenun tak mengucapkan apa-apa hanya diam saja, ia sendiri tak mengingat kejadian semalam, ia hanya tau kalau dirinya tertidur.


Tapi tadi ketika aenun bangun, kirey mengatakan padanya agar dia tidak di biarkan sendirian, perkataan kirey itu sangat ambigu baginya. Karena kata sepupunya tersebut, semalam ia kerasukan.


Hal yang sangat tidak mungkin!


Huft" aenun menarik nafas kesal, ia bangkit berdiri kemudian berjalan, tujuannya pergi ke tempat lavender laut kemarin. Berulang kali ia menarik nafas kesal, karena sejak tadi anton terus saja mengikutinya.


Anton terus mengajaknya berbicara, aenun hanya menjawab sekedarnya secara singkat, padat, dan jelas.


Itu ia lakukan agar anton tak memiliki topik tambahan, dan benar saja laki-laki itu akhirnya diam juga setelah hampir 10 menit terus berbicara tanpa henti.


Setelah beberapa kali ia bertemu dengan laki-laki yang katanya sahabat dari iparnya tersebut, aenun tau jika anton merupakan laki-laki yang ramah dan sepertinya asik jika di ajak bicara.


Namun aenun membatasi dirinya dengan mahluk yang bernama laki-laki, sehingga ia memilih untuk lebih banyak diam dari pada merespon ucapan anton.


Papanya adalah jenis orang tua yang overprotektif, beliau selalu membatasi hal yang berkaitan dengan lawan jenis bahkan dengan tegas melarang untuk dekat dengan laki-laki.

__ADS_1


Maka dari itu, aenun menjadi cukup tertutup, dan pendiam jika di hadapkan dengan seorang laki-laki.


Anton kemudian bergegas pergi, ketika melihat kedatangan kirey.


Kirey sendiri baru keluar tenda setelah leon tertidur, ia mencari aenun dan mendapati sepupunya sedang bersama anton. Ia terkekeh melihat raut wajah kesal anton, "pasti aenun tak merespon ucapannya" batin kirey


Pikiran kirey tiba-tiba melayang pada beberapa kilasan kejadian, saat dia masih sekolah menengah atas dulu. Ia selalu mengekori aenun, kemanapun sepupunya itu pergi.


Sikap aenun yang terkesan dingin, dan cuek, serta selalu tak merespon ucapan laki-laki yang jika di anggapnya tidak penting. Hal itu membuat aenun tak pernah di dekati lelaki manapun.


Kirey memanfaatkan kesempatan itu, dengan dirinya selalu berada di dekat aenun. Otomatis dia juga akan di jauhi, bukannya apa-apa, ia hanya merasa risiih dengan laki-laki yang mencoba mendekatinya.


"Buatkan aku sarapan" rengek kirey manja, ia merangkul lengan aenun.


"Buatlah sendiri"


"Aku ingin kamu yang membuatkannya" ucap kirey melotot


"Baiklah" ucap aenun pasrah, ia menggeleng-gelengkan kepala karna tak dapat menolak permintaan perempuan satu ini.


Kirey melompat-lompat senang, seperti anak kecil. Ia dan aenun terbilang sangat dekat untuk ukuran sepupu. Karena selain umur mereka yang sama, aenun yang merupakan anak tunggal, sehingga mereka tumbuh besar dan bermain bersama.


Kirey masih menggandeng tangan aenun, mereka berjalan bersama menuju rumah panggung, di situ tempat mereka menyimpan persediaan makanan dan keperluan lainnya.


"Maaf, apa boleh buatkan untukku juga?" tanya nadira, ia datang dengan rambut yang masih basah.


Aenun tak menjawab, ia sibuk mengolesi krim coklat pada beberapa helai roti serta selai strawberry juga. Ia kemudian mematikan kompor gas kecil


"Tolong, sajikan nasi" ucap aenun menatap nadira di jawab anggukan kepala nadira

__ADS_1


Terlihat aenun sedang menuangkan kuah santan ke dalam mangkuk, kuah lobster yang ia panaskan itu, sudah ia campur dengan ikan bakar yang telah ia suir-suir.


Mereka bertiga mulai duduk sarapan, lebih tepatnya makan pagi. Ada nasi, ikan suir santan, tak lupa roti, dan teh.


__ADS_2