
"Apa dia pikir kamu hanyalah sebuah barang yang ia temukan di pinggir jalan, jadi dia bisa berbuat seenaknya." Murka papa ian ketika mendengar bagaimana cerita tentang leon yang datang meminta ponsel yang ia beli untuk kirey, agar di kembalikan.
"Kalian menikah secara baik-baik. Lalu dia juga yang berikrar pada sumpah pernikahan di hadapan tuhan untuk bertanggung jawab padamu lahir batin. Lalu, bisa-bisanya dia meminta ponsel yang dia belikan untukmu lagi." Papa ian geleng-geleng kepala tak habis pikir.
"Mama juga tidak suka dengan pria seperti leon. Papa dan adikmu, kedua-duanya tidak ada yang hisap rokok apalagi mengkonsumsi minuman. Tapi suamimu itu melakukan keduanya." Ucap mama ike sambil menatap kirey.
"Sebenarnya tak masalah jika dia hanya menghisap rokok saja. Tapi, anak itu sudah sangat keterlaluan sampai bisa datang ke rumah ini dalam keadaan mabuk." Ucapan papa ian di benarkan oleh mama ike.
"Sudahlah pa, ini semua juga bisa terjadi karena papa tak pernah tegas kepada leon dan keluarganya. Andai saja saat pulang dari bertemu pak tama, papa langsung memutuskan hubungan kirey dan leon."
"Leon pasti tak akan berani lagi menemui kirey. Jadi, sampai kapan papa akan terus memberikan kirey mempunyai status hubungan yang tidak jelas." Desak mama ike.
Tepat sekali! Ucapan mama ike berhasil membuat papa ian bungkam seketika. Jika di pikirkan kembali, memang ia juga turut andil dalam status hubungan putrinya. Jika saja ia langsung memutuskan hubungan leon dan kirey waktu itu, kirey pasti tak akan lagi di ganggu oleh leon.
Belum lagi tentang, keluarga besarnya yang sekarang tengah merasa malu dengan perbuatan ani. Karena kabar ani tinggal dengan keluarga leon sudah tersebar ke mana-mana.
"Baiklah, papa putusan kalian untuk berpisah. Tentang leon dan ayahnya, itu urusan papa. Nanti siang papa akan langsung ke rumah mereka dan memutuskan hubungan kalian."
Papa ian menepuk pelan bahu kirey, karena kirey mulai memeluk papanya itu. Papa ian tau jika sebenarnya kirey sudah banyak di rugikan selama ini.
"Tapi pa, bagaimana kalau leon tidak terima?" Tanya kirey sambil mendongak kepala ke atas, menatap papa ian.
"Kamu tenang saja, soal itu biar papa yang urus.
__ADS_1
.
.
.
Siangnya.
Mobil di kemudikan oleh ayah hendra, ayahnya aenun, atau suami dari bi ani. Hendra, ian dan mas pram. Mereka bertiga sedang menuju ke rumah kediaman pak tama. Suasana hening menyelimuti dalam mobil.
Seperti ucapannya tadi, papa ian akan menyelesaikan urusan rumah tangga kirey siang ini. Sedangkan keikutsertaan ayah hendra adalah dengan tujuan, memeriksa apa benar bi ani ada di rumah pak tama atau tidak.
"Kalau misalnya nanti benar kalau ani berada di rumah pria tua itu, apa yang akan kamu lakukan." Tanya papa ian memecah kesunyian, papa ian tak lagi ingin menyebut nama pak tama.
Papa ian dan mas pram, kompak sama-sama panik melihat ayah hendra melepaskan tangannya dari setir kemudi. Mereka takut bila nanti akan mengalami kecelakaan. Papa ian merutuki pertanyaan yang ia lontarkan tadi.
Sebelum papa ian sempat bicara, ayah hendra lebih dulu mengeluarkan suara kekehan. Ia tersenyum melihat kepanikan ke dua saudara iparnya itu.
"Aku hanya ingin memastikan kebenarannya saja. Dan jika benar, maka mohon maaf kak ian. Jika aku harus menceraikan ani. Hanya itu uang dapat aku lakukan."
"Aku tak dapat marah atau memukul pak tama, sebab aku tau jika pria itu dapat memberi apa yang tidak dapat aku berikan pada ani. Faktor lain yang membuat aku dapat memaklumi kelakuan ani adalah karena aku mencintainya dan ingin melihat ia bahagia." Ucap ayah hendra sambil kembali mengemudikan setir.
Mendengar ucapan adik iparnya itu, membuat papa ian dan mas pram sama-sama menundukkan kepala malu. Papa ian merasa sangat bersalah pada hendra
__ADS_1
Perhatian mereka teralihkan ketika mobil telah yang di kendarai ayah hendra berhenti di depan sebuah rumah mewah. Satpam membuka pintu dan menundukkan kepala hormat mengetahui tamu yang datang adalah keluarga dari kirey.
Karena pintu rumah sudah dalam keadaan terbuka. Tanpa mengetuk terlebih dulu, ke tiga pria itu langsung masuk dengan mengucap salam.
Sebuah kenyataan pahit terpampang jelas di depan mata, sebab yang menyambut kedatangan mereka adalah bi ani. Wanita berusia 39 tahun itu nampak terkejut melihat kedatangan suami dan kakak-kakak lakinya.
Ayah hendra menatap bi ani tak percaya. Walau ia sudah menduga kalau ani benar berada di rumah besar itu, namun tetap saja ia merasa terkejut melihat istrinya. Ani nampak berbeda, wanita itu tampak lebih cantik dengan pakaian yang tampaknya mahal, serta beberapa perhiasan pada tubuh istrinya.
"Siapa itu sayang?" Suara pak tama yang baru saja muncul. Kedatangan pak tama membuat suasana yang tadinya diam semakin canggung dan mencengkam.
"Urusanku sudah selesai. Aku akan menunggu kalian di dalam mobil." Pamit ayah hendra pada kedua iparnya, ia pergi dengan kepala menunduk kecewa.
"Cepat katakan ian, agar kita bisa pergi sedapatnya dari sini. Aku tidak tau apa yang bisa aku lakukan pada dua manusia di depanku ini, jika kita berada lama-lama dengan mereka." Ucap mas pram.
Mendengar kalimat dari sepupunya itu, bi ani memilih pergi dari ruangan itu. dia tak ingin mas pram mengamuk, pram adalah pria yang tak akan segan-segan memukul orang ketika sudah emosi.
Pak tama duduk di kursi dengan santai.
"Di mana leon? Dia juga harus mendengar hal ini karena ini tentang masalah rumah tangganya." Tanya papa ian sambil masih berdiri.
"Katakan saja padaku. Seperti kata saudaramu, ayo kita selesaikan masalah ini secepatnya." Jawab pak tama, sepertinya beliau sudah tau maksud kedatangan papa ian. Pak tama terlihat santai, tak mencoba menyuruh tamunya duduk.
"Baiklah." Papa ian menarik nafas panjang, "Karena kalian meminta anak saya secara baik-baik, jadi saya juga meminta anak saya juga di pulangkan secara baik-baik. Maka dari itu, hari ini juga, saya mengambil kembali anak saya dari keluarga anda. Dengan itu juga menjadikan hubungan antar anak anda dan anak saya berakhir."
__ADS_1
"Baiklah, Saya selaku orang tua dari pihak laki-laki meminta maaf jika tak dapat menjaga anak perempuan anda dengan baik, maka dari itu kami bersedia memulangkannya kembali pada orang tuannya." Jawab pak tama. Akhirnya pria tua itu mengucapkan kalimat maaf.
Setelahnya tak ada percakapan lanjutan. Pak tama bangkit dari duduknya, lalu menyalami tangan papa ian. Ke dua pria itu saling memeluk. Bertepatan dengan munculnya leon dari depan pintu masuk.