
Kirey dan para sahabatnya sedang duduk bercanda di depan rumah nadira.
"Ki." Panggil leon dengan nada lemah.
Kirey menghela nafas panjang, dan beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan mendekat ke arah leon karena tak ingin teman-temannya terganggu dengan kehadiran pria tak di undang itu.
"Ada apa leon?" Tanya kirey dingin.
"Aku ingin mengajakmu makan siang bersama nanti. Jawab leon sambil tersenyum.
Kirey menutup hidungnya, saat bicara tercium bau alkohol yang sangat menyengat dari mulut leon. "Berhenti menggangguku leon, hubungan kita tidak sebaik itu untuk makan bersama." Ucap kirey sambil menutup hidungnya.
Leon terlihat sangat kecewa, terlihat jelas dari raut wajahnya. Ini sudah ke sekian kalinya leon datang untuk membujuk kirey agar kembali bersamanya.
"Aku mohon kembalilah padaku." Ucap leon sambil memegang bahu kirey. Leon tersenyum menatap kirey dengan sorot mata kesedihan.
Kirey sama sekali tak bersimpati, ia melotot menatap tangan leon yang kini berada pada bahunya. Tatapan kirey semakin dingin. Dengan cepat ia segera menepis tangan leon lalu segera berbalik melangkahkan kakinya meninggalkan leon. Tak lupa ia menutup pintu pagar nadira agar leon tak dapat masuk.
Kirey yang pada dasarnya dulu memang pernah membenci leon sekarang semakin membenci pria itu setelah apa yang terjadi kemarin.
Sejak leon menamparnya dengan mudah waktu itu, membuat kirey ingin segera menjauh dari leon. Karena kesalahan yang leon lakukan tak sulit baginya untuk tai mempercayai leon. Ia bahkan ingin segera berpisah darinya.
"Telix, jika dia masih ada di depan, tolong usir dia. Jangan sampai dia membuat keributan, karena sepertinya dia sedang dalam kondisi mabuk."
Tanpa menjawab, telix langsung berjalan ke arah depan berbicara dengan leon.
Dari dalam rumah dapat terlihat dengan jelas jika leon melawan saat telix mengusirnya. Dengan terpaksa telix menyeret leon pergi. Mereka berdua hilang dari pandangan, hingga beberapa menit telix kembali seorang diri.
"Sebaiknya aku pulang dulu. Kemungkinan besar dia akan kembali lagi ke sini sedikit lagi karena dia sedang mabuk." Ucap kirey.
__ADS_1
"Apa perlu aku antar?" Tanya nadira.
"Tidak perlu, biar aku saja." Tawar telix
"Terima kasih banyak." Ucap kirey
Telix menganggukkan kepala, lalu mereka berdua berjalan bersamaan menuju rumah orang tua kirey.
Meskipun telix selalu menunjukkan kesan dingin, tapi dia sangat peduli dengan orang-orang yang berada di dekatnya. Buktinya semenjak kirey memutuskan untuk menjauh dari leon, telixlah yang selalu melindungi dia ketika leon datang membuat keributan.
Kirey segera menuju kamarnya untuk membersikan diri setelah itu ia menuju tempat tidur untuk beristirahat. Ke dua mata kirey melihat ada sebuah buku hitam yang terletak di atas meja riasnya.
"Ini pasti novel mama yang ketinggalan di sini." Gumam kirey. Ia mengambil dan membuka buku itu. Kirey mengernyitkan dahinya saat membaca judul buku itu. "The Weak Queen" (Ratu yang lemah).
Kirey berbaring dan mulai membaca novel tersebut. Novel itu menceritakan tentang Ratu bernama Roseline. seorang ratu yang lemah dan tak di anggap oleh raja yang sangat di cintanya. Di akhir cerita, sang ratu dan seluruh keluarganya di hukum mati oleh sang raja dengan tuduhan meracuni selir raja yang membuat selir itu keguguran.
"Ckck, bagaimana bisa ada wanita selemah itu? mau saja bertahan dengan pria yang tidak mencintainya, sungguh suatu pembodohan karena mau di tindas begitu saja atas nama cinta." Gerutu kirey kesal.
"Aku tidak tau apa yang akan terjadi nanti tapi aku dapat memastikan satu hal bahwa aku akan membuat orang-orang yang menyakitiku merasakan penderitaan yang lebih dariku. Terutama kamu leon, aku akan memanfaatkan cinta palsumu itu.
Kirey membalikan badannya, berencana untuk tidur. Tapi gedoran pintu serta suara berisik dari arah depan rumah mengurungkan niatnya, ia segera bergegas keluar.
Papa dan mama juga ikut keluar dari kamar. Siapa yang datang jam 1 dini hari begini? Papa berjalan membuka pintu. Begitu pintu terbuka, hembusan angin malam langsung masuk ke dalam rumah.
"Sayang." Panggil leon.
"Leon." Sahut kirey mendekat ke arah pintu. Ia melihat kondisi leon yang nampak kacau berantakan, rambutnya acak-acakan, baju itu adalah baju yang sama dengan baju yang leon pakai kemarin. Apa leon tidak mandi? Bau alkohol sangat menyengat dari badan pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
"Sayang, aku merindukanmu." Ucap leon meracau.
__ADS_1
Papa menahan lengan kirey, memberi isyarat lewat mata agar kirey mundur menjauh dari leon. Papa ian hendak menutup pintu, namun dengan cepat leon menggenggam pintu, menghadang agar pintu tak tertutup.
Papa menatap wajah leon lekat. Tak lagi terkejut dengan sikap menantunya yang tak sopan. Sikap anak tak jauh beda dengan ayahnya. Papa memperhatikan leon dari atas sampai bawah menyelidik.
"Pa_papa." Panggil leon takut-takut.
"Ada apa tiba-tiba kamu datang kemari? Lihatlah kondisimu sekarang, sangat tidak pantas bagi kamu datang kemari dengan kondisi kacau seperti ini.Pulanglah." Usir papa ian.
"Pa, aku mohon kembalikan kirey padaku." Ucap leon menjatuhkan badannya ke lantai.
"Mama, segera bawa kirey masuk ke kamarnya." Ucap papa sambil melangkah mundur selangkah.
Leon nampak terkejut dan tak terima, ia bangkit dengan cepat. Seperti orang kerasukan, leon mengamuk memaksa masuk ke dalam rumah. Karena sudah sangat larut, suara leon terdengar sangat besar membuat para tetangga berdatangan.
"Ada masalah apa pak ian?" Tanya pak bayu, tetangga samping rumah.
"Maaf jika membuat keributan malam-malam dan menggangu istrihat bapak dan ibu sekalian. Tidak terjadi apa-apa, harap agar bapak-ibu dapat kembali ke rumah masing-masing." Jawab papa ian.
Orang-orang mulai bubar sambil saling berbisik karena melihat kondisi leon. Mereka dapat menyimpulkan jika papa mertua dan menantu itu sedang bertengkar.
"Apa tadi kamu mengatakan untuk mengembalikan kirey kepadamu?" Tanya papa ian begitu sudah tidak ada orang lagi.
Leon mengangguk
"Sepertinya kamu juga tau jika hal itu tidak mungkin terjadi. Ayahmu sendiri yang telah membuktikannya. Kamu juga sudah tau bukan, jika ayah dan adikku mempunyai hubungan spesial. Dan papa yakin jika mereka tak lama lagi mungkin akan menikah."
Setelah mengucapkan hal itu, papa ian langsung menutup pintu rumahnya. Ia tak lagi perduli dengan apa yang leon akan lakukan nantinya.
Sementara leon di luar, mengepalkan tangannya merasa penuh emosi. Wajah leon mengeras. Tak terima dengan ucapan papa mertuanya, walau ia tau jika ucapan papa ian sangat benar.
__ADS_1
"Tapi pa aku tidak ingin berpisah dengan kirey. Aku akan tetap mempertahankan hubungan kami apapun yang terjadi." Teriak leon dari luar rumah.