KIREY : Early-Age Marriage

KIREY : Early-Age Marriage
48. Pulang rumah


__ADS_3

Begitu memasuki rumah. Kirey langsung di sambut oleh mamanya yang sedang menangis, mama memeluknya lalu menuntunnya pergi ke ruang tengah di mana papa berada.


Pria yang berusia hampir memasuki lima puluhan itu sedang duduk membaca sebuah buku, terlihat ada bercak-bercak merah di bagian kakinya yang hanya mengenakan celana pendek selutut.


Papa berdiri membantu mama untuk mendudukkan kirey di kursi, ke dua orang tua itu nampak ikut terluka.


"Apa papa sakit?" tanya kirey memperhatikan kaki papanya.


"Eksim papa kambuh, mungin karena kemarin ikut mamamu pergi ke tempat penangkaran ayam. Debu dan bulu hewan mungkin penyebab bercak muncul"


"Lupakan soal itu, coba ceritakan apa yang terjadi tadi?" Papa ian duduk di samping kirey.


"Usia kandungan perempuan itu sudah masuk bulan ke 7" Jeda kirey menarik nafas panjang. "Jangan menatapku seperti itu mama, aku juga kaget mengetahui usia kandungan perempuan itu yang ternyata lebih tua dari usia pernikahanku"


"Tadi aku sendiri yang mengantarkan mereka berdua untuk pergi menikah" ucap kirey.


"Apa tanggapan ayah mertuamu tentang hal ini" tanya papa menyelidik.


"Entahlah, ayah hanya diam saja. Ia hanya bicara padaku sekali menyuruhku makan, itu saja."


Papa hanya menganggukkan kepala, diam saja tampak sedang berfikir. Tak lama, beliau menyuruh kirey agar masuk kamar. "Kamu istirahat saja, biar papa yang urus masalah ini." ucap papa ian sebelum kirey masuk kamar.


.


.


.


Tanpa membuang lebih banyak waktu, leon langsung segera balik ke rumahnya begitu urusannya dengan keluarga sukma selesai. Dari tadi, ia terus saja menghawatirkan tentang kirey.


Keluarga sukma sempat membujuknya untuk tetap tinggal sementara waktu, namun ia ingin secepatnya menemui istrinya. Hanya ayahnya dan clara yang masih berada di rumah sukma.


Jika mengingat tentang sukma. Wanita itu sungguh membuatnya kesal setengah mati, leon merasa tak yakin jika anak yang di kandung perempuan itu adalah anaknya. Dia sendiri yang berkata tidak akan menganggu rumah tangganya namun lihatlah sekarang apa yang perempuan itu lakukan, dasar rubah licik.

__ADS_1


Leon pulang di antar dengan motor oleh kakak laki-lakinya sukma, sepanjang jalan pria itu banyak mengoceh tentang adiknya, yang tak ingin di dengar sama sekali oleh leon.


Ia yang sudah merasa jengah langsung turun dari motor, begitu sampai ke pekarangan rumahnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tanpa menoleh kembali ke arah kakaknya sukma, ia langsung berlari menuju rumahnya.


Dan benar saja seperti dugaannya. Ia hanya menemukan anton dan tomi di ruang tengah, kata anton kirey sudah pergi entah kemana. Hal itu membuat ia menghajar anton, menyalakan kelalaian sahabatnya tersebut.


"Tenanglah. sepertinya ada yang membantu istrimu kabur sehingga kami kehilangan jejaknya begitu cepat" ucap tomi membela anton, ia membantu sahabatnya itu berdiri. Anton jatuh sebab di pukul mundur oleh leon.


Leon tak merespon ke dua sahabatnya, ia bergegas ke kamarnya. Membuka lemari, ia melihat sebagian pakaian kirey sudah tidak ada. Tanpa memeriksa lebih lama, leon berfikir untuk langsung ke rumah mertuanya.


Tok-tok-tok


Jem menunjukkan pukul 1 malam, leon mengetuk pintu dengan ragu. Ia berfikir mungkin orang di rumah mertuanya sudah pada tidur, namun ketika ia akan beranjak pergi, pintu rumah terbuka menampilkan tris.


Adik iparnya itu menatapnya sekejap dari atas hingga bawah, lalu tanpa berkata apapun tris pergi meninggalkannya di depan pintu seorang diri.


Di lihat dari respon tris, sepertinya orang di dalam rumah ini sudah mengetahui kejadian yang terjadi. Namun leon tak mau memikirkan hal itu dulu, ia hanya ingin bertemu dengan kirey.


Istrinya itu sudah tertidur lelap. Leon mendekat ke arah ranjang, tangannya lingkarkan di pinggang kirey. Niatnya malam ini leon akan tidur di sini, besok baru dia akan berbicara dengan kirey karena tak ingin menganggu istrinya itu.


Namun suara papa ian membuat matanya yang tadi terpejam, terbuka dengan sempurna. Mertuanya itu sedang mengobrol dengan tris di luar kamar, tris sedang melaporkan tentang kedatangannya.


Tak ingin membuat keributan, leon memilih bangkit dari tempat tidur untuk menemui mertuanya. Ia akan mencoba menjelaskan situasinya.


"Sedang apa kamu di sini" tanya papa ian, raut wajahnya tegas tak menujukan senyum atau keramahan yang biasanya beliau tunjukan.


Leon menelan ludah, lidahnya tiba-tiba merasa kaku, ia menjadi bingung harus berkata apa.


"Anakku baru saja tertidur jangan kamu ganggu"


"Tapi pah.." Leon tak jadi melanjutkan kalimatnya karena rahang papa ian tampak mengeras.


"Sebaiknya kamu kembali ke rumahmu." ucap papa ian tegas, terdengar seperti tak ingin di bantah.

__ADS_1


Leon diam di tempatnya tak ingin beranjak hingga ia di seret papa ian keluar hingga depan rumah.


"Datanglah besok dengan membawa semua pakaian anakku yang ada di lemari rumahmu"


"Memangnya kenapa?" Reaksi leon terkejut.


"Jika kamu memang mencintai anakku, biarkan dia di sini sampai keadaan membaik."


"Sampai kapan?"


"Entah, tergantung bagaimana perilaku kamu. Bisa satu minggu, satu bulan atau bahkan setahun. Keluarga kami tidak sekaya raya keluargamu, jadi kami tidak dapat menuntut kalian karena kamu menikahi perempuan lain"


"Jika aku punya kekuasaan seperti ayahmu, aku pastikan hari ini kamu tidak berada di sini melainkan di penjara dengan tuduhan perzinahan pasal 284 KUHP." jeda papa ian.


"Bahkan belum genap sebulan sejak kirey keguguran, dan kamu sudah menikahi perempuan lain. Lebih parahnya lagi kalian sama sekali tidak berniat memberi tau kami orang tuanya tentang masalah ini" bentak papa ian, suaranya naik satu oktaf lebih tinggi.


"Tapi aku tidak menikah lagi, kami hanya melakukan menandatangani surat nikah tanpa penghulu" cicit leon membela diri.


Bugh


Satu pukulan tepat mengenai perut leon "Itu karena kamu tidak bersalah sama sekali."


Bugh


Papa ian memberi pukulan ke dua "Dan ini karena sudah membuat putriku menangis." Papa ian mundur selangkah melihat leon terduduk sambil menahan sakit.


"Kamu menghamili perempuan lain. Tapi intinya bukan itu, kamu membuat anakku sedih. Bukannya sudah aku tegaskan jika aku sangat memanjakan putriku, tapi kamu malah membuatnya menderita dengan perbuatan tak bermoralmu."


"Pulanglah, besok baru datang lagi. Besok baru papa akan memutuskan bagaimana kelanjutannya, malam ini emosi papa tidak bisa terkontrol. Jadi sebaiknya kamu pulang sebelum kamu semakin papa hajar" setelah mengatakan itu, papa ian langsung masuk kamar.


Sementara leon masih meringis, ia memegang perutnya yang masih terasa sakit. Sebenarnya ia ingin membantah ucapan papa ian namun ia tau jika itu hanya akan semakin memperumit keadaan.


Akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Leon keluar begitu saja, ia dapat melihat tris di pojokan rumah. Sepertinya adik iparnya itu dari tadi memperhatikan perdebatan antara dia dan ayah mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2