
Paginya, kirey bangun dengan merasa jika dirinya demam, ia membungkus dirinya dengan selimut serta meletakan semua bantal di atas tubuhnya.
Leon yang bangun karena merasa kedinginan melihat ada yang aneh dengan istrinya, ia kemudian mengambil bajunya yang terletak di lantai lalu memakainya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya leon yang sekarang tengah berjongkok di samping tempat tidur sebelah kirey.
"Sepertinya aku demam, badanku terasa panas, tapi kakiku sangat dingin. Bisakah kamu memanggil clara kemari." ucap kirey lemah.
Leon berdiri panik mendengar ucapan kirey, ia segera bergegas menarik paksa clara yang saat itu tengah duduk sarapan pagi di meja makan.
"Apa yang kamu lakukan padanya? belum genap sehari istrimu keluar dari rumah sakit tapi kamu malah membuatnya kembali sakit." omel clara setelah mendapati tubuh kirey sangat panas.
"Kenapa menyalahkanku? aku menyuruhmu ke sini untuk mengecek kondisi istriku bukan mendengar ocehan kamu." ucap leon kesal.
"Kamu pikir aku tenaga kesehatan yang bisa mengobati istrimu!" bentak clara.
"Istrimu baru sembuh kemarin, setidaknya tahan dulu hasratmu. Apa kamu tidak berfikir akibatnya nanti? lihatlah sekarang, dia sakit begini pasti karena ulahmu semalam."
"Sudahlah, panggil dokter ke sini" ucap clara kesal
Leon terdiam, ada benarnya yang clara ucapkan. Jadi semua ini salah dirinya, yang bahkan tetap melakukannya setelah kirey berkata badannya sudah tak kuat.
"Apa yang kamu tunggu, cepatlah pergi panggilkan dokter" seru clara, menyadarkan leon dari lamunannya.
Leon kemudian bergegas pergi menghubungi dokter, percuma menyesali yang sudah terjadi. Ia hanya bisa berjanji agar kedepannya akan lebih berhati-hati.
Setelah kepergian leon ayah datang memasuki kamar, ia menghampiri clara yang tengah mengompres kirey
"Apa yang kamu rasakan" tanya ayah lembut, ia mengambil tangan kirey dari dalam selimut kemudian mengenggam tangannya.
Bukannya menjawab, kirey malah menarik tangannya melepaskan dari genggaman ayah. Kemudian menarik selimut menutupi seluruh badannya.
"Semakin dingin, aku tak kuat lagi ayah" ucap kirey terbata-bata dari dalam selimut.
Ayah bangkit berdiri memasang wajah panik. "Kenapa leon lama sekali, apa kita bawa saja kirey kembali ke rumah sakit?" tanya ayah meminta persetujuan clara.
"Jangan ayah, tidak ada leon di sini. t
__ADS_1
Takutnya malah terjadi apa-apa pada kirey di jalan, dan leon akan menyahlakan kita."
"Kondisi kirey juga tidak memungkinkan untuk berdiri, sedikit lagi leon pasti datang membawa dokter" ucap clara mencoba menenangkan ayahnya.
Benar saja, tak lama leon datang serta dengan seorang dokter perempuan. Dokter tersebut meminta izin untuk membuka selimut yang menutupi kirey kemudian memeriksa kondisinya.
"Saya akan memberikan infus kepadanya, karena dia mengalami kekurangan cairan" ucap dokter tersebut kemudian menyuntik lengan kiri kirey sebelum akhirnya memasang infus.
Kirey telah tertidur setelah tadi di suntik obat tidur, karena ia terus berkata tak tahan merasa kedinginan.
Melihat kondisi istrinya leon tertunduk lesu, ia sangat menyalahkan diri sendiri atas tindakannya yang ceroboh.
Ayah menghampiri, dan menepuk-nepuk bahu leon menguatkan. Sementara clara mengantarkan dokter ke depan setelah beliau selesai memeriksa.
Dari pagi hingga siang, leon terus menemani kirey di sampingnya hingga istrinya terbangun.
"Bagaimana, apa yang kamu rasakan? Apa masih dingin? Apa aku harus memanggil dokter?" tanya leon panik.
Kirey terkekeh melihat respon suaminya, ia menggenggam tangan leon "Tidak apa-apa" ucap kirey dengan hanya menggerakan bibirnya tanpa bersuara.
"Maafkan aku" ucap leon sesal
"Tapi..." ucap leon terpotong, karena kirey sedang melotot padanya.
Sorenya kirey sudah bisa bangun dari tempat tidur, ia sedang di dapur bersama clara tapi ia hanya bisa melihat bagaimana clara memasak.
Kirey hanya diam tanpa melalukan apa-apa, setelah tadi di omeli panjang oleh kakak iparnya karena tidak beristirahat.
"Ajarkan aku sesuatu" ucap kirey dengan wajah di tekuk, ia merasa bosan.
"Duduklah dengan tenang, kamu hanya perlu menikmati makanan yang aku sediakan. Tunggu saja, sebentar lagi akan selesai."
"Suamimu akan membunuhku, jika aku membiarkanmu bekerja. Jika kamu sangat ingin belajar? bagaimana jika kamu sembuh secepatnya!"
"Aku akan mengajarkanmu cara membuat brownis, itu kue kesukaan leon." tawar clara.
"Setuju!" seru kirey, mengangguk-angguk senang.
__ADS_1
Setelah semua makanan tertera di atas meja, mereka berdua langsung makan karena tidak ada orang lain di rumah kecuali mereka berdua. Leon dan ayah sedang pergi bekerja, sedangkan fia berada di kampus.
Kirey makan dengan lahap, ia bertekad hari ini akan sembuh, tak lupa setelah makan ia meminum obatnya.
Tapi semua tak sesuai yang di harapkan, malamnya kirey kembali demam. Hingga pagi demamnya belum juga turun.
"Padahal aku ingin segera membuat brownis" ucap kirey lesu, ia kemudian menangis sambil memeluk leon.
"Kamu bisa membuatnya nanti jika sudah sembuh, masih ada banyak waktu." tangan leon menepuk-nepuk bahu istrinya lembut, mencoba menenangkan.
Kirey malah terus menangis hingga ia tertidur. Leon bergerak dengan pelan mengambil ponselnya di atas meja kemudian menelpon seseorang.
Selang 10 menit kemudian, leon keluar kamar setelah kembali menerima telfon. Rupanya itu anton yang datang dengan membawa dua kantong plastik besar.
"Rencana mau kasih makan sekampung bro?" ledek anton seraya menyerahkan kantong-kantong tersebut.
"Biasa, untuk nyonya muda." jawab leon, tertawa.
"Wih, sudah ada isi ya? ternyata kamu cepat juga haha"
"Isi kepalamu! biniku lagi sakit d*dol" seru leon, ia menjitak kepala sahabatnya tersebut.
Leon kembali berjalan masuk, ia mendapati kirey telah terbangun sambil menangis.
"Ada apa sayang?" leon memeluk kirey, setelah menaruh kantong plastik di atas meja.
"Kamu menghilang." ucap kirey sesenggukan.
"Aku dari depan bertemu anton, lihatlah aku membeli martabak coklat kacang kesukaanmu, tak lupa dengan brownis juga." tunjuk leon pada kantong tadi.
Kirey melotot menatap isi kantong tersebut, ia kemudian memukul lengan suaminya.
"Perutku bukan karung, kamu membelinya terlalu banyak nanti takkan aku habiskan." ucap kirey kesal.
"Biar kamu makan sampai puas, jika tidak habis? tenang saja ada aku yang akan memakannya." kata leon sambil memukul dadanya sekali.
Kirey mencium pipi leon, keduanya saling pandang lalu kemudian tertawa bersama.
__ADS_1
Kirey membuka bungkusan, mengambil sepotong martabak lalu kemudian melahapnya.Ia merasa senang.