KIREY : Early-Age Marriage

KIREY : Early-Age Marriage
65. Adat


__ADS_3

Mohon maaf, sudah sampai 64 episode tapi author belum pernah menjelaskan soal adat.🙏


Sekali lagi mohon maaf, jika kalian membaca dari episode 3 pasti para pembaca tau jika cerita ini berlatar belakang tempat pada Indonesia bagian timur.


Author tidak bisa menyebutkan nama suku atau daerah tempat kejadian, tapi karena cerita ini di ambil dari kisah author pribadi jadi author cuman dapat menjelaskan sedikit jika di beberapa pedalaman daerah timur Indonesia masih kental dengan hukum adat.


Jika seseorang terbukti melakukan suatu kesalahan maka akan di hukum sesuai adat daerah masing-masing. Hukuman bisa berupa denda uang, di usir dari kampung, atau konsekuensi lainnya.


Pemuka adat sendiri adalah tetua pemuka kampung yang biasanya bertugas sebagai penilai keadaan atau sistem hukum itu sendiri.


Hanya itu saja yang bisa Author sampaikan. Author tidak dapat menjelaskan banyak hal karena takutnya nanti ada beberapa pihak yang tersinggung.


Terimakasih.


.


.


.


Jam menunjukan pukul 3 pagi dini hari. Beberapa orang itu tengah berkumpul di depan bangunan tua. Bangunan itu memiliki ciri khas bangunan zaman belanda dulu.


"Kali ini dia tidak akan bisa mendekatimu lagi." Ucap papa sambil menggenggam tangan kirey erat.


Pak tama datang sambil berjalan tergesa-gesa mendekati leon, menarik tangan anaknya itu agar menjauh dari kerumunan orang-orang.


"Sudah ayah katakan dan ingatkan bukan, jauhi kirey atau kamu akan mendapatkan hukuman adat. Lihatlah sekarang kamu sungguh membuat ayah malu dengan datang ke sini." Bisik pak tama pelan.


Leon yang semenjak dari rumah lurah tadi terus diam tak terlalu memperhatikan ucapan ayahnya. Mata Leon terus saja ia fokuskan menatap kirey di depannya yang sedang berbincang dengan papa Ian.


"Pak tama." Panggil seorang kakek yang baru saja keluar dari bangunan tua tadi. Kakek itu mungkin berumur sekitar tujuh puluhan, dengan kaki pincang beliau berjalan mendekat ke arah orang-orang yang sedang berkumpul."

__ADS_1


"Tetua Guru." Sapa semua pak Lurah, papa Ian dan pak Tama secara bersamaan.


"Tama, benarkah kau itu? apakah anakmu adalah korban atau pelaku?"


Pertanyaan Tetua Guru membuat semuanya diam yang ada di sana menjadi diam, apalagi pak tama, ia menundukkan muka menahan malu.


"Dan lihat siapa ini? Brian, apa kabarmu nak?


"Baik Tetua." Jawab papa Ian sambil tersenyum, "Aku pikir tetua mungkin sudah lupa kepadaku."


"Papa, kapan kita mulai? Aku sudah sangat mengantuk dan sebentar lagi hari berganti pagi." Sela kirey cepat tak ingin para orang tua mengobrol panjang.


"Anakmu?" Tanya tetua kepada papa Ian.


Papa hanya mengangguk. Kirey dan Telix berjalan mendekat ke arah Tetua guru, menyalami tangannya.


Tetua Guru terkekeh, meski sedikit terlambat mereka akhirnya di persilahkan masuk ke dalam bangunan tua itu.


Tapi tak lama kembali terang. Rupanya gadis itu mengganti lilin yang hampir padam itu dengan lilin yang baru.


Para orang tua tengah berbincang dengan Tetua Guru, membahas tentang letak masalah yang terjadi.


Kirey dan Telix duduk di pojokan rumah sebelah kiri, sementara Leon berada jauh di pojokan kanan. Telix duduk di depan kirey agar tubuh kecil Kirey di hadang olehnya, ia tak ingin leon menatap Kirey leluasa. Pria itu sejak tadi tak henti-hentinya menatap ke arah mereka berdua.


"Dia hanya mendatangi istrinya. Tidak ada salahnya bukan." Ucap pak tama tiba-tiba membela leon.


Suasana berubah menjadi tegang. Kirey mencoba berjalan mendekat ke meja dimana para orang tua berkumpul, tapi tangannya di raih telix cepat, sahabatnya itu menggeleng sebagai tanda jangan ke sana.


"Siapa yang istri siapa pak Tama? Tanya Suara papa Ian mulai mengeras.


"Kamu bisa menanyai siapapun, orang-orang pasti juga setuju jika Kirey masih menjadi istri leon baik secara agama maupun hukum." Jawab pak Tama tak kalah kasar.

__ADS_1


"Oh sekarang baru kamu berbicara seperti ini. Apa kamu lupa kamu juga turut andil dalam perpisahan mereka berdua? Bukannya kamu sendiri yang telah setuju mengembalikan putriku padaku, dan jangan lupakan tentang beberapa hari lalu kamu baru saja menikah dengan adikku."


Muka Pak Tama merah padam, "Pernikahanku tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini."


"Jelas ada, istrimu yang sekarang adalah Bibi dari perempuan yang kamu sebut menantu." Suara papa ian semakin mengeras.


"Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku tegaskan sekali lagi bahwa Kirey masih menjadi istri Leon baik secara hukum maupun agama."


Papa Ian menghembuskan nafas. Pembicaraan ini menyebalkan sekali. Kenapa pula ia harus mempunyai besan keras kepala dan tidak tau malu seperti pak Tama.


"Baik lantas apa yang kamu mau? apa kamu bersedia mengembalikan Kirey pada Leon dan bercerai dengan istrimu?" Bukan papa Ian yang bertanya, Itu suara Tetua Guru yang dari tadi hanya diam mendengarkan pertengkaran dua orang tua di depannya.


"Aku tidak bisa melakukan itu. Apa hubungannya aku dan Ani dengan mereka berdua? Pokoknya Kirey tetap masih istri Leon." Kekeh pak Tama tetap pada pendiriannya, ia bahkan tak malu berkata seperti itu di hadapan Tetua Guru.


"Baiklah begini saja." Tetua Guru berhenti sebentar, meminum sedikit dari secangkir kopi yang sudah hampir dingin karena terlalu lama ia tinggalkan di atas meja, sebab sibuk menyimak ke dua orang di depannya dari tadi.


"Nampaknya kamu dapat berbicara begitu karena Leon belum pernah menalak Kirey secara langsung bukan?"


Pak tama diam tak menjawab, menunggu kelanjutan ucapan kalimat yang akan di ucapakan Tetua Guru.


"Leon, Kirey, marilah nak."


"Setelah dari tadi mendengar, melihat serta menyimak. Dapat di simpulkan bahwa Kirey ingin berpisah dengan Leon tapi Leon tidak mau berpisah. Dan Pak Tama mendukung setiap tindakan salah yang Leon lakukan selama ini kepada Kirey?" Ucap Tetua Adat dengan nada serius.


Pak Tama menelan ludah, tiba-tiba ia menjadi gugup.


"Leon mempunyai anak dengan perempuan lain, mengambil barang pemberiannya dari Kirey, memukul dan terakhir hampir melakukan pelecahan." Tetua adat mengangkat tangan ke atas sebagai tanda tak ada yang boleh memotong ucapannya.


"Pak lurah dan nak Telix sebagai saksi. Leon, sekarang juga talak Kirey di depan kami semua yang ada di sini. Itu adalah hukuman yang setimpal untuk semua perbuatanmu, dan agar ayahmu tak lagi bisa bicara sembarangan."


Ucapan Tetua Guru mengangetkan semua yang ada di situ.

__ADS_1


__ADS_2