KIREY : Early-Age Marriage

KIREY : Early-Age Marriage
55. Kemarahan leon


__ADS_3

"Benarkah ayah akan menikah dengan bi ani?" Pertanyaan leon membuat ayah tama dan bi ani yang tampaknya sedang bicara serius, terlonjak kaget.


Untuk sesaat ayah tama maupun bi ani terdiam karena tidak tahu harus bicara seperti apa untuk menjawab ucapan leon yang tentunya tak akan membuat leon marah, apalagi saat ini leon dalam keadaan mabuk. Ia akan mengamuk bahkan bisa saja memukul ayahnya.


"Kenapa kalian hanya diam saja? Cepat jawab aku." Tanya leon menatap ayahnya intens.


Ayah tama terlihat gelagapan, bingung l sambil garuk-garuk, belakang kepalanya. Ia rasa, ini bukan saat yang tepat untuk bicara dengan leon, karena anaknya itu sedang tidak terkendali.


"Baiklah kalau ayah tidak menjawab." Leon menghadap bi ani, mencengkeram tangan wanita itu. "Katakan."


Leon tidak masalah dengan perbedaan status antar ayah dan bi ani. Ia tau jika walaupun bi ani adalah adik papa ian, namun keluarga bi ani tak semampu keluarga ayah ian. Keluarga bi ani dapat di katakan kurang mampu.


Namun tentu saja bukan itu penyebab ia tak menerima bi ani, ia tak terima ayahnya punya hubungan dengan wanita yang jelas-jelas adalah pangkat ibu dari istrinya.


"Lepaskan tanganmu segera." Bentak ayah tama.


"Kenapa, ayah ingin menjawab pertanyaan dariku? Katakan saja, aku akan mendengarnya dengan baik walaupun sedang mabuk aku masih cukup sadar sekarang."


"Benar, ayah memiliki hubungan dengan bi ani. Ayah mencintai wanita yang sedang kamu remas tangannya itu." Ayah tama berjalan mendekat lalu melepas cengkraman tangan leon dari bi ani.


Leon melepaskan tangan bi ani. Ia mengangkat kepala, menatap ayahnya tajam.


"Jadi ini sebabnya ayah tak pernah pergi meminta maaf atas perbuatan yang aku lakukan kemarin pada keluarga kirey? Karena ayah ingin merusak pernikahanku."


"Ayah mencintai bi ani sama seperti ayah mencintaimu."


"Halah, tai. Jangan samakan aku dengan wanita simpanan ini." Tunjuk leon pada bi ani, emosinya tak dapat ia tahan.

__ADS_1


Plak.


"Jaga ucapan kamu." Bentak ayah tama.


"Ckck, aku heran, kepala ayah terbentur keras di mana sehingga tega sekali menyampingkan kebahagiaan anak demi kepuasan diri sendiri. Apa ayah tidak bisa mencari wanita lain selain bi ani? Wanita itu adalah ibu dari istriku."


"Sepertinya ayah sudah di guna-guna oleh bi ani, wanita yang gila uang. Karena harta ayah lebih dari cukup untuk membuatnya kaya. Menikah dengan ayah tentu saja langsung membuat dia bisa langsung menikmati kekayaan ayah tanpa perlu susah bekerja lagi."


"Atau mungkin wanita itu sudah menggunakan tubuhnya sehingga ayah terbutakan." Kata via panjang lebar, ia berada sedikit jauh dari tempat ayah dan leon berada. Dari tadi, via hanya memperhatikan perdebatan antar kakak dan ayahnya, akhirnya ikut buka suara.


"Kamu benar sekali via, mendengar kamu mengatakannya saja sudah membuatku muak. Wanita ini memang hanya mendekati ayah karena harta bukan karena niat tulus. Dan sepertinya gosip tentang mereka menginap bersama itu benar."


"Maaf nak leon jika saya memotong perkataan nak leon dengan nak via Saya cuman mau bilang jika saya mencintai ayah kalian tulus apa adanya tanpa memandang hartanya. Nak leon kamu sudah cukup lama mengenal bibi, jadi kamu pasti tau bagaimana bibi yang sebenarnya." Kata bi ani menjelaskan dengan hati-hati.


"Bisa saja selama ini, kamu bersandiwara." Ucap leon non formal, melupakan jika bi ani lebih tua darinya.


"Leon hentikan sekarang juga." Tekan ayah tama. "Kalian berdua, kembali ke kamar masing-masing. Berhenti ikut campur urusan orang tua.


"Baiklah jika itu kemauan ayah, tapi lihatlah nanti apa yang dapat aku lakukan." Leon berlalu pergi keluar rumah.


"Tunggu." Teriak bi ani, menghentikan langkah kaki leon. Mereka berdua saat ini sedang berada di parkiran.


"Terima kasih banyak sudah membuat rumah tangga banyak orang hancur. Sekarang sebaiknya anda kembali ke dalam melayani ayah saya." Ucap leon dingin. Leon menatap bi ani tajam.


Bi ani tak bicara dan tak pindah dari tempat, membuat leon kesulitan mengeluarkan mobil. "Sebenarnya apa yang kamu inginkan?." Ucap leon kembali non formal karena emosi.


"Maaf." Ucap bi ani singkat dengan nada tegas tanpa terbata-bata, berbeda seperti dalam rumah tadi. Bi ani bahkan kini balik menatap wajah leon serius.

__ADS_1


"Sebaiknya anda meminta maaf kepada suami anda, kirey dan tak lupa papa ian. Mereka adalah orang-orang yang paling tersakiti akibat keegoisan anda. Ucap leon ketus, berharap bi ani tersadarkan.


Tapi sayang, apa yang leon harapkan sepertinya tak akan pernah tejadi. Karena bi ani malah tersenyum mengejek menanggapi ucapan leon barusan.


"Maaf nak, bibi tidak bisa melakukan itu. Bibi sudah sampai sejauh ini, jadi tidak mungkin kembali lagi. Jadi mulai sekarang biasakan untuk memanggil bibi dengan sebutan mama." Bi ani berucap mantap, walau sebenarnya ia juga masih belum yakin akan menikah dengan pak tama atau tidak.


Leon menertawakan ucapan bi ani yang terlihat sangat yakin tentang pernikahannya. "Jadi itu benar, bahwa anda sangat menginginkan harta ayah saya ckck."


Leon tertawa hingga terbahak-bahak. Sementara itu, bi ani tak merespon apapun. Hanya menatap leon dengan tenang dan datar. Hal itu membuat leon menghentikan tawanya, lalu menatap tajam ke arah bi ani.


"Kenapa anda diam? benarkah?" Tanya seolah tak percaya.


"Maaf nak, bibi diam karena memang tidak memahami apa yang nak leon maksud." Bi ani bicara dengan nada santai.


Leon semakin kesal di buatnya "Berhentilah bersandiwara. Wanita ular seperti kamu tak cocok berada di rumah ini. Tunggu apalagi? Pergi dari rumahku sekarang, nanti aku akan bicara dengan ayahku." Ucap leon kesal.


"Nak leon, bibi datang ke sini ingin mencari ketenangan. Bibi tau jika kamu tidak suka dengan bibi, tapi ayahmu sangat mencintai bibi. Untuk itu biarkan bibi dan papamu bersama."


"Kalian bersama?"


"Ya, bersama. Kamu juga pasti bahagia melihat ayahmu menikah dengan wanita yang dia cintai." Ucap bi ani dengan nada yakin.


"Kamu hanyalah seorang karyawan yang bekerja untuk ayahku, sadar dirilah sedikit. Lagi pula aku tak yakin jika ayahku dapat bahagia. Bisa saja kamu mempunyai rencana jahat untuk mengambil seluruh harta milik ayahku. Kami bertiga sebagai anaknya, masih bisa membuat ayah kami bagaimana tanpa kamu."


"Nak leon, bibi tau jika bibi hanyalah seorang pekerja rendahan. Tapi hanya bibi yang dapat memuaskan hasrat pak tama. Hal itu, tantu saja tidak dapat di lakukan kalian bertiga." Bisik bi ani.


"Jaga kata-katamu" Hardik leon, ia menatap bi ani dengan jijik.

__ADS_1


Leon memilih berjalan ke depan, ia tak jadi menaiki mobil. Dekat lama-lama dengan wanita itu membuatnya merasa mual ingin muntah.


__ADS_2