
"Apa anda serius ingin seperti ini?" Tanya papa ian sekali lagi ingin memperjelas apa yang ia dengar tadi.
"Tentu saja saya serius. Saya, ah tidak, kami sekeluarga semuanya menyayangi kirey. Jadi tolong kembalikan segera menantu kami"
"Baiklah, kalau begitu kami pamit pulang dulu." Ucap papa ian sambil menarik tangan mas pram agar segera keluar dari perumahan itu, ia merasa tak ada yang perlu di bicarakan lagi.
Papa ian tak ingin bersusah payah, membuang tenaga berbicara dengan orang seperti pak tama. Tujuannya datang di sini adalah untuk memperbaiki keadaan keluarga putrinya, ia bahkan sampai rela menemui ayah tama duluan. Padahal bukan putrinya yang salah.
Namun bukannya maaf yang mereka dapat melainkan ucapan tak masuk yang tidak ada gunanya sama sekali. Sebenarnya ia memang sudah menduga kalau akan menjadi seperti ini dari sikap yang di tunjukan keluarga leon yang tak datang selama ini. Tapi karena ia masih berfikir sehat makanya ia masih mencoba bicara baik-baik.
Kalau memang sudah seperti ini. Papa ian hanya bisa menyetujui keinginan kirey untuk bercerai dengan leon. Lagi pula anaknya memang sudah tidak menginginkan pernikahannya lagi, dan yang terpenting bukan ia yang melakukan kesalahan.
Urusan keluarga besarnya nanti, akan papa ian pikirkan nanti setelah kirey berpisah. Yang penting ia harus menyingkirkan leon terlebih dahulu dari samping kirey. Menantunya itu cukup keras kepala.
Setelah lama hanya mengikuti langkah papa ian dalam diam, mas pram seperti tersadarkan sesuatu. "Kita belum mendengar maaf dari mereka."
"Tidak perlu lagi, aku akan mendukung keinginan kirey jika dia ingin berpisah. Aku tak ingin putriku semakin lama bersama dengan keluarga seperti mereka."
Ucapan papa ian di setujui oleh mas pram. Mas pram menganggukkan kepala setuju, memang seharusnya dari kemarin mereka harusnya sudah berpisah.
Papa ian dan mas pram melangkah lebih cepat menuju mobil, tak menunggu lama mereka langsung pulang.
.
.
.
"Silahkan masuk bi." Clara mempersilakan bi ani masuk ke rumahnya.
"Te__terima kasih banyak" Ucap bi ani terbata, merasa takjub melihat bagian dalam rumah tersebut. Ada via yang terlihat sedang sibuk dengan laptopnya di depan tv yang masih menyala.
"Sama-sama. Bibi tidak usah sungkan, karena kalau bibi menikah dengan ayah. Otomatis aku akan menjadi anak bibi."
__ADS_1
"Oh iya, bibi bisa tunggu di sini sebentar, aku akan memanggil ayah dulu di kamarnya.
"Ba__baik nak." Bi ani sedikit gugup karena dari tadi ia terus di perhatikan oleh via. Ia tak terlalu dekat dengan anak bungsu dari tama itu.
Saat clara baru saja berjalan beberapa langkah menuju kamar ayahnya, via mengikuti langkah kaki clara menahan tangan kakaknya sebelum sempat masuk ke kamar ayah mereka.
"Apa yang wanita itu lakukan di sini?" Tanya via berbisik tak ingin sampai bi ani atau ayahnya mendengar.
"Kamu pasti tadi mendengar ucapanku. Mungkin tak lama lagi ayah akan menikahi bi ani. Jadi tolong jaga sikap dan perkataan kamu." Clara mendorong pintu kamar ayahnya. Tak lama ayah tama keluar kamar.
"Jadi benar ayah memiliki hubungan terlarang dengan bi ani." Tanya via masih berbisik.
"Diamlah."
"Oh, cinderella akan naik pangkat menjadi ratu." Gumam via kesal karena clara tak meresponnya dengan baik.
Ketidaksukaan via di sadari oleh bi ani, perasaannya menjadi campur aduk. Karena selain terus menatapnya, via terus bergumam di belakang pak tama yang dapat bi ani lihat dengan jelas dari tempat duduknya.
"Bisakah kalian tinggalkan ayah dan bi ani berdua?"
Kalimat itu mampu menghentikan kegiatan clara dan via yang tengah berbisik-bisik di samping. Dengan cepat, clara menarik tangan via untuk mengikutinya ke dapur.
"Coba ceritakan, ada apa?" Tanya pak tama ramah setelah kepergian ke dua anaknya.
"Bolehkah.. saya tinggal di sini sementara waktu."
"Tidak masalah, malahan itu ide bagus."
"Ben__benarkah? Tanya bi ani tak yakin. Ia semakin merasa gugup sekarang, entah karena sikap pak tama yang ramah atau karena ia sedang memikirkan reaksi kakaknya nanti.
Baru kemarin ian datang menemui pak tama untuk menyelesaikan masalah antara leon dan kirey. Tapi sekarang ia malah bersikap egois dengan mendatangi pak tama. Yah, sudah 2 bulan ini, ia dan pak tama menjalani hubungan secara diam-diam.
Awalnya ia tak berniat serius dengan hubungan tersebut karena selain karena pak tama adalah ayah mertuanya kirey, ia juga sudah cukup tua untuk menjalani cinta terlarang. Apalagi anak-anaknya sudah sangat besar, anak tertuanya bahkan sudah berumur 23 tahun.
__ADS_1
Tapi karena mendapat perhatian lebih secara materi dari pak tama membuat bi ani kalap mata. Perhatian yang tak pernah ia dapat dari suaminya.
Berbeda dengan kakak laki-lakinya, ian. Yang merupakan seorang pengusaha yang cukup sukses. Suaminya hanya seorang laki-laki tua yang kikir.
Hendra adalah nama suami bi ani. Pria yang umurnya lebih tua 12 tahun dari bi ani itu hanya memiliki dua buah motor yang ia kasi orang untuk di sewakan. Sementara ia hanya berkebun.
Semua pendapatan yang di dapat suaminya. Hendra gunakan untuk menyekolahkan ke 6 mereka. Hendra tak pernah memberikan bi ani uang karena katanya bi ani sangat boros, hal itu yang menjadi penyebab bi ani bekerja mencari uang sendiri.
"Ya allah semoga keputusanku kali ini tidak salah." Doa bi ani dalam hati.
Sementara itu leon yang baru tiba masuk begitu saja, ia bahkan tak sadar saat melewati ayah dan bi ani di ruang tamu. Ia yang merasa pusing dan sangat haus, menegak setengah cerek air hingga habis.
"Kamu mabuk lagi." Tanya clara tak percaya, ia menatap adiknya prihatin. Semenjak beberapa hari lalu, leon terus mengkonsumsi minuman beralkohol setiap malamnya.
"Hei leon, apa sebentar lagi kamu akan bercerai dengan kak kirey?" Tanya via yang baru mengalihkan perhatian dari laptop yang ada di depannya.
"Apa maksudmu?" Tanya leon balik terdengar emosi.
Clara menepuk jidatnya, ia memilih pergi dari situ. Sebenar lagi pasti akan ada pertengkaran' Pikirnya.
"Karena ayah akan menikahi bi ani, jadi kamu dan kirey pasti akan bercerai." Jawab via enteng.
Bruk
Leon memukul meja dengan kuat, ia menatap adiknya nyalang. "Sebaiknya kamu segera menjelaskan maksud perkataan kamu barusan dengan benar sebelum kamu ikut aku hajar." Rahang leon mengeras.
Via menatap kakaknya takut, ia mulai menyesali ucapannya barusan.
"Cepat katakan." Bentak leon.
"Kamu tidak lihat bi ani dan ayah sedang bicara di depan? Mereka berdua akan menikah." Jawab via terbata-bata. "Tapi entahlah, aku bel.."
Ucapan via belum selesai tapi leon sudah lebih dulu pergi ke depan.
__ADS_1