
"Nama lengkapnya Anna Embong Bulan. Dia adalah sahabat terbaikku, sahabat yang sudah seperti saudara bagiku. Dia juga adalah gadis berani yang rela melawan siapa saja yang mengganggu ketenangannya maupun ketenangan orang-orang terdekatnya. Gadis kuat yang tak mudah menangis saat diterpa masalah, gadis bijaksana saat memberikan nasehat dan solusi pada kami yang ditimpa masalah. Gadis pantang menyerah yang tetap semangat belajar masak meski ia pernah terkena tumpahan minyak panas. Dan yang paling penting, dia bukan gadis nakal. Dia gadis baik-baik yang berkomitmen kuat dalam menjaga prinsip hidupnya yang bahkan tidak semua gadis bisa menjaganya dikala pergaulan bebas semakin meluas. Kalian tahu apa itu? tanya Yasmin lagi.
"Tidak" jawab kedua gadis itu bersamaan lagi.
"Menjaga Mahkota, kalian tentu tahu apa itu mahkota bukan? Asal kalian tahu, Anna tak pernah pacaran meskipun ia dikelilingi banyak teman cowok, tentu saja itu adalah caranya untuk tetap menjaga mahkotanya agar tetap utuh sampai ia menikah nanti" kata Yasmin.
Kedua gadis itu diam tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Yasmin.
"Jika kalian tak percaya, itu urusan kalian, tapi kenyataan yang sebenarnya memang seperti itu" kata Yasmin lagi seolah ia tahu apa yang dipikirkan oleh kedua gadis itu.
Tak terasa, lomba balapan telah berakhir, dan tentu saja dimenangkan oleh Anna. Si gadis tomboi dari luar namun lembut dari dalam. Itulah sosok Anna yang Yasmin kenal selama 2 tahun ini.
"Wah kamu hebat banget Ann.. selamat yah" kata Yasmin merasa bangga dengan sahabatnya itu.
"Terima kasih Yas. Oh iya habis dari sini aku mau ngajakin kamu makan malam sultan versi mahasiswa, udah lama bangat kan kita nggak makan di restoran, kali ini aku yang traktir deh, kebetulan aku baru dalat rezeki dadakan dari abang Dimas" kata Anna sambil membawa motornya ke sebuah restoran.
"Masya Allah baik banget sih sahabat aku" kata Yasmin terharu.
__ADS_1
Anna dan Yasmin pun sampai di sebuah restoran yang cukup terkenal di Jakarta.
Anna dan Yasmin memesan makanan mereka masing-masing. Sambil menuggu makanan mereka datang, mereka bercerita bebas, sesekali suara tawa keluar dari mulut mereka.
--
Di restoran X, Wildan sedang makan malam bersama Ibunya. Wildan memang sering mengajak Ibunya makan di luar agar sang Ibu tidak merasa bosan karena selalu makan di rumah.
"Nak, kamu kapan nikah? ibu kesepian loh di rumah. Kalau kamu sudah nikah, setidaknya ada menantu ibu yang bisa ibu ajak cerita saat di rumah" tanya Ibu Sukma.
"Doakan Wildan yah bu, semoga segera dipertemukan dengan jodohnya" kata Wildan.
Memang betul, Wildan telah banyak menerima pengakuan cinta maupun ajakan nikah dari beberapa wanita, namun tak ada satupun wanita yang bisa menarik hatinya.
"Hmm, Wildan.." kata Wildan terputus saat ia melihat seorang gadis yang ternyata adalah Anna bersama temannya sedang asik bercerita, sesekali ia melihat Anna tertawa menampilkan wajahnya yang cantik alami tanpa polesan make up.
Ini pertama kalinya ia melihat Anna lagi setelah insiden tabrakan 2 tahun lalu, namun Wildan masih mengingat wajah Anna dengan jelas.
__ADS_1
"Iya, kamu menginginkan wanita seperti apa nak?" tanya ibu lagi karena Wildan tak melanjutkan kata-katanya.
"Wildan menginginkan wanita yang cantik alami bukan karena polesan make up, wanita yang tangguh, wanita yang berani, wanita yang tidak memakai pakaian sexy dan wanita yang lebih muda dari usia Wildan tentunya" jawab Wildan dengan pandangan yang masih tertuju pada Anna.
Melihat Wildan yang nampak seperti memperhatikan seseorang dari tadi, membuat Ibu mengikuti arah pandangan Wildan, dan ia melihat Anna yang memang cantik alami tanpa polesan make up dengan gaya casualnya.
"Oh seperti gadis disebelah sana yah?" tanya Ibu menunjuk ke arah Anna yang seketika membuat Wildan tersadar.
"Eh, bukan yang itu Ibu, kebetulan aja dia mirip dengan ciri-ciri wanita yang tadi Wildan sebutkan" kata Wildan gelagapan.
"Memangnya kamu tahu Ibu nunjuk wanita yang mana? di sebelah sana kan ada banyak wanita" tanya Ibu ingin memancing Wildan
Wildan kaget dan terdiam seperti mati kutu ketika ia tertangkap basah oleh ibunya sedang melihat seorang gadis yang bernama Anna.
"Hahahah, ternyata dugaan Ibu benar, kamu suka yah sama gadis seperti itu? atau memang gadis itu yang kamu suka? apakah kamu mengenalnya?" deretan pertanyaan Ibu Sukma membuat Wildan semakin salah tingkah tak mampu menjawab.
Mana mungkin dia menyukai gadis seperti Anna, gadis yang telah ia juluki sebagai wanita galak dan nenek sihir. Rasanya, ia seperti menjilat ludahnya kembali.
__ADS_1
-Bersambung-
Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.