
Hari ini, Yasmin sedang menunggu kedatangan dosen pembimbingnya di kampus. Ia sudah duduk didepan ruangan dosen tersebut hampir satu jam. Namun karena dosen itu belum juga datang, akhirnya ia memutuskan untuk ngemil mengisi perutnya yang entah sejak kapan mulai selalu lapar.
Satu suapan, dua suapan, hingga lima suapan berhasil masuk dengan lancar. Namun, pada suapan ke enam, Yasmin tiba-tiba merasa tidak nyaman dengan perutnya.
"Hoek." Yasmin menutup mulutnya menahan gejolak dalam perut yang seperti ingin ditumpahkan.
"Perutku kenapa sih? perasaan tadi baik-baik saja, kenapa jadi mual gini?" monolognya sambil mencari air minum yang tadi sudah ia siapkan.
Setelah minum, Yasmin merasa lebih baik. Ia pun menyimpan cemilannya, berharap perutnya tidak mual lagi selama ia menunggu dosen pembimbingnya.
Kembali Yasmin terduduk tanpa melakulan apapun.
"Huft." Yasmin menghembuskan nafasnya bosan.
Dalam keadaan sendiri seperti ini, nama Riska tiba-tiba muncul dalam ingatannya. Gadis yang merupakan tetangganya di Makassar, namun ia juga adalah gadis yang sudah dua kali membawanya ke dalam lubang bahaya.
Sudah lebih seminggu Yasmin selalu waspada semenjak Anna memberitahukannya tentang Riska yang berada di sekitar kampusnya.
"Kenapa dia ada didepan kampus waktu itu yah? apa memang dia benar-benar sedang mengawasiku?" monolog Yasmin sambil mengayun-ayunkan kakinya yang sedikit tergantung saat duduk di kursi yang agak tinggi.
"Hufth, harusnya sekarang aku memikirkan bagaimana proposal penelitianku, kenapa malah memikirkan Riska sih?" Yasmin memijit pelipisnya.
Semenjak kejadian buruk yang menimpanya waktu itu, Yasmin selalu merasa tidak tenang dengan kehadiran Riska disekitarnya, kali ini, ia tak ingin lengah mewaspadai Riska.
Bukannya ingin suudzhon kepada Riska, hanya saja, rasa kecewa karena telah mempercayainya kala itu selalu menghantui. Kepercayaan yang ia berikan, namun dibalas dengan torehan luka yang menyakitkan.
"Hati yang telah terlanjur luka akibat kekecewaan, akan sulit kembali untuk menerima kebaikan yang berkaitan dengannya," batin Yasmin,
"Hufth.." Yasmin menghembuskan nafasnya.
"Hufth." kembali menghembuskan nafasnya kasar, entah kenapa hatinya begitu gelisah.
__ADS_1
Dret dret (suara hape Yasmin membuyarkan lamunannya)
"Halo Assalamu 'alaikum kak" sapa Yasmin pada suaminya.
"Wa'alaikum salam sayang, gimana? udah selesai bimbingannya?" tanya Yusuf di seberang telfon.
"Belum kak, mungkin 10 menit lagi dosennya datang," ujar Yasmin.
"Ya udah, tolong kabari kakak yah kalau kamu udah selesai bimbingan,"
"Baik kak, siap," sahut Yasmin
Merekapun mengakhiri telfonnya. Beberapa saat kemudian, benar saja, dosen pembimbing Yasmin akhirnya datang.
Kurang lebih 30 menit berlalu, kini Yasmin telah selesai melakukan bimbingan proposal penelitiannya.
Setelah memberikan pesan kepada Yusuf, Yasmin pun melangkahkan kakinya keluar untuk menunggu jemputan sang suami.
-
"Dokter David, aku mau keluar sebentar untuk menjemput istriku kesini, jika ada pasien darurat, tolong ambil alih sementara," ujar Yusuf kepada teman kerjanya.
"Baik dokter Yusuf, serahkan saja padaku," tukas dokter David.
"Baiklah, terima kasih." Yusuf langsung bergegas pergi menjemput Yasmin. Rasanya ia tidak sabar ingin mengetahui kabar kehamilan istri tercintanya itu.
Kurang lebih 25 menit perjalanan, Yusuf kini sudah berada dekat dengan gerbang kampus Yasmin. Dari jauh, ia dapat melihat istrinya sedang menunggunya, ia hendak mencoba memarkir mobilnya.
Namun tiba-tiba matanya melotot sempurna saat ia melihat ada yang mencoba mendorong Yasmin, meskipun terlihat Yasmin sempat berhasil menahan tubuhnya, namun orang itu kembali mendorongnya dengan sangat kuat sehingga tubuh Yasmin masuk ke tengah jalan.
Yusuf yang melihatnya tentu tidak tinggal diam, ia buru-buru melepas sabuk pengamannya dan bergegas turun, namun ia terlambat.
__ADS_1
"Yasmin..." teriak Yusuf saat tiba-tiba tubuh Yasmin terhempas akibat ditabrak mobil yang sedang melaju kencang dari samping mobil Yusuf.
"Astaghfirullah Yasmin," tubuh Yusuf seketika lemas tak bertenaga, ia seakan masih mencerna apa yang ia lihat di depan matanya tadi.
Orang-orang yang mulai berlarian ke arah Yasmin membuyarkan lamunan Yusuf.
"Astghfirullah istriku," gumamnya dengan mata berkaca-kaca segera berlari menghampiri tempat Yasmin yang kini dikerumuni orang.
Air mata Yusuf seketika luruh saat melihat kondisi Yasmin yang bersimbah darah. Melihat darah yang membasahi roknya, Yusuf kembali teringat rencananya datang menjemput Yasmin saat ini.
"Istriku, anakku, ku mohon bertahanlah," lirihnya seraya menghampiri Yasmin lalu memeriksa keadaannya.
"Kak Yusuf, ada apa dengan Yasmin?" pekik Anna saat melihat Yusuf sedang memeluk Yasmin yang bersimbah darah. Awalnya Anna hanya penasaran tentang apa yang dikerumuni orang-orang, namun ia sangat kaget saat yang dikerumuni adalah orang yang sangat ia kenali.
Yusuf hanya diam menatap sedih istrinya sambil sesekali meraba nadi istrinya.
Tak lama kemudian, ambulance datang, Yusuf tentu ikut bersama Yasmin memasuki ambulance.
"Kak, aku ikut!" sela Anna saat pintu ambulance hampir tertutup.
"Ayo." Yusuf membiarkan Anna ikut karena ia mengerti kekhawatiran Anna saat ini.
Merekapun pergi bersama ambulance. Sementara mobil Yusuf ia tinggalkan di depan kampus Yasmin. Nanti bisa di ambil. Bagaimanapun istri dan anaknya yang utama.
Selama perjalanan, Yusuf tak hentinya berdzikir, tangan Yasmin juga tidak pernah lepas dari genggamannya. Sesekali ia menghapus air mata yang berhasil lolos di pipinya.
Sementara Anna sejak tadi hanya diam dengan wajah yang sudah basah dengan air mata. Saat ini ia hanya mampu berdoa dalam hati agar sahabatnya itu selamat.
-Bersambung-
Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.
__ADS_1