Kisah Cinta Dua Mutiara

Kisah Cinta Dua Mutiara
99. Anniversary Yusuf dan Yasmin


__ADS_3

"Assalamu 'alaikum," ucap beberapa orang yang saat ini sedang berada di depan pintu rumah keluarga Yusuf.


"Wa'alaikum salam," jawab Yasmin dan Yusuf yang sore ini sudah berkumpul dirumahnya.


"Eh kalian, ayo masuk-masuk, kami sudah menunggu kedatangan kalian sejak tadi," ujar Yusuf kepada Wildan, Anna, Ameer dan Ameerah, adik bungsu Ameer yang kini berusia 8 tahun.


*Flashback*


Sore itu, Ameer yang hendak menjenguk Rabiah harus pulang lebih dulu ke rumahnya untuk menjemput Ameerah, hal ini ia lakukan untuk menghindari fitnah yang bisa saja muncul jika ia datang seorang diri.


Namun, saat tiba di rumah, ia justru mendapati Ameerah, ibu dan ayahnya tengah sibuk bersiap-siap.


"Ibu, ayah, Ameerah, kalian mau kemana?" tanya Ameer heran.


"Loh, kamu lupa yah? besok kan akan diadakan syukuran kecil-kecilan dalam rangka hari ulang tahun pernikahan uncle Yusuf dan aunty Yasmin yang ke 16 tahun, jadi kita rencana mau ke rumah mereka sore ini untuk bantu-bantu menyiapkan acaranya besok," terang Anna dalam satu tarikan nafas seperti kereta api, cepat dan tanpa jeda.


Ameer tertegun sejenak, ia menyusun kembali kata demi kata yang diucapkan sang ibu agar dia bisa memahami apa yang barusan ibunya katakan.


"Oh astaga, iya Ameer benar-benar lupa," ujar Ameer menepuk jidatnya, "alhamdulillah tepat waktu," lanjutnya tersenyum bahagia.


*Flashback off*


Semua keluarga kini telah berkumpul di rumah Yusuf, termasuk Ayah Syawal dan Ibu Hafsah, Ummi Ulfa dan Abi Hasan, Yana dan Yani yang telah datang lebih dulu pagi tadi.

__ADS_1


"Sepertinya ada yang kurang nih." Wildan mengapit dagunya sendiri sambil mengamati semua orang yang ada dsitu. "Biah, mana Biah?" lanjutnya bertanya.


"Ah iya, Biah sedang istirahat di kamarnya, tadi dia sempat demam, tapi alhamdulillah sekarang demamnya sudah turun," jawab Yasmin.


"Oh pantas, kasian keponakanku uang satu itu, semoga lekas sembuh,"


"Aamiiiin.." ucap semua orang pelan.


"Kasian juga double R, mereka terlihat membosankan saat tidak ada Rabiah," celoteh Wildan terkekeh membuat Rahul dan Rahil mendengus.


"Paman, justru Rabiah dan orang-orang akan bosan jika tidak ada kami berdua, benarkan Rahil?"


"Iya benar paman, Rabiah tanpa Rahul dan Rahil itu bagaikan sayur tanpa gula," timpal Rahil percaya diri.


"Oh iya lupa, ternyata tidak ada sayur yang manis," cicit Rahil sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Semua orang dalam ruangan itu terkekeh geli melihat kelakuan Rahul dan Rahil yang sangat heboh saat di dalam rumah, namun akan diam seribu bahasa saat berada diluar rumah. Bukan karena takut, melainkan mereka akan otomatis mengaktifkan mode dinginnya pada orang sebagaimana karakter Yusuf, mereka pun seperti itu.


Malam hari, semua orang berkumpul dihalaman belakang rumah, sembari para wanita sibuk menyiapkan bumbu makanan yang akan menjadi menu hidangan besok, para pria sibuk dengan jagung bakarnya. Yasmin memang ingin menyajikan makanan yang dimasak sendiri, ia ingin acara besok lebih bermakna baginya.


Ameer yang sejak tadi gelisah ingin melihat keadaan Rabiah, terpaksa harus ia tahan, apalagi kabar membaiknya Rabiah telah ia dengar tadi dari Yasmin.


"Ameer, tolong kamu ke dapur tambah air minum dulu, ayah kepedesan nih, mana airnya sudah habis lagi," seru Wildan sembari memberikan wadah tempat air kepada Ameer.

__ADS_1


"Baik ayah," jawab Ameer lalu pergi ke dapur yang tidak jauh dari halaman belakang rumah.


Baru melangkahkan kakinya masuk ke dalam dapur, Ameer dikejutkan dengan kehadiran Rabiah yang sedang duduk di kursi sambil minum air.


Mata keduanya saling bertemu, jantung Ameer bergemuruh, namun ia dengan cepat menetralkan wajah dan gerak-geriknya agar terlihas seperti biasanya.


"Biah, gimana keadaan kamu?"


"Alhamdulillah kak, Biah udah baikan, demamnya juga udah turun kok,"


"Alhamdulillah kalau gitu, kamu udah makan?"


"Udah kak, tadi Ummi bawa makanan ke kamar Biah, kak Ameer mau ambil air minum yah?"


"Eh i-iya, tadi ayah minta tolong, air dibelakang sudah habis soalnya," Biah hanya menganggukkan kepala menanggapi perkataam Ameer.


Hening sejenak


"Kamu mau makan jagung bakar? biar kakak ambilkan," ujar Ameer memecah keheningan dan kecanggungannya kepada Rabiah.


"Nggak kak, Biah udah kenyang, ya udah Biah ke kamar dulu yah kak," pamit Rabiah lalu pergi meninggalkan Ameer sendirian di dapur.


Selepas kepergian Rabiah, Ameer meraba dadanya, "Masya Allah, jantung ini kenapa berdekat kencang sekali. Bersabarlah cinta, jika memang kita ditakdirkan bersama kelak, makan cinta ini akan kupersembahkan dengan senang hati kepadamu," batinnya sambil tersenyum.

__ADS_1


-Bersambung-


__ADS_2