Kisah Cinta Dua Mutiara

Kisah Cinta Dua Mutiara
63. Mencari Wildan


__ADS_3

Patah hati, mungkin inilah yang ku rasakan saat ini, bukan karena penolakan cinta, dan bukan pula karena pengkhianatan cinta.


Patah hatiku karena ketidakpercayaan orang yang selama ini berusaha ku jaga.


Aku tidak ingin munafik, aku mencintainya, tapi aku tak pernah sedikitpun berniat untuk bersaing mengejar cintanya.


Kenapa? karena merayu Sang Penguasa hati jauh lebih utama bagiku. Dialah yang mampu membolak balikkan hati seseorang.


Salahkah jika aku hanya ingin menjaganya dalam diam, menjaganya dari pria itu? Jika memang apa yang ku lakukan salah, maka aku akan berhenti sampai disini.


Terima kasih untuk canda tawanya selama ini, semoga Allah selalu menjagamu.


Aku pergi...


(Wildan Prasetyo)


--


Wildan memandangi langit melalui jendela pesawat, raut wajahnya sendu, tak ada lagi keceriaan dan kekonyolan didalamnya.


"Will, kamu yakin akan pergi ke Malaysia? sampai kapan?" tanya Yusuf yang sejak tadi memperhatikan sahabatnya itu.


"Aku yakin. Jika kamu bertanya sampai kapan aku disana, maaf aku tak memiliki jawabannya. Aku juga ingin membuka cabang restoranku disana jadi aku ingin fokus disana bersama ibuku." Wildan berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari luar jendela.


"Bagaimana jika Anna mencarimu"


"Katakan saja padanya bahwa dia tidak perlu lagi waspada" cicit Wildan tersenyum kecut.


--


Di Makassar


Yasmin dan Anna sudah berada di rumah Yasmin malam ini. Liburan yang mereka rancang, harus berhenti ditengah jalan karena masalah itu.


"Ann, ada yang ingin aku bicarakan padamu," ujar Yasmin saat mereka sudah berada di kamar Yasmin.


"Apa Yas?" tanya Anna penasaran.


"Coba kamu jujur, saat ini kamu lebih percaya siapa? kak Wildan atau Ryan?" ujar Yasmin dengan mimik wajah serius.


Anna terdiam sejenak, "Sejujurnya aku mempercayai keduanya, tapi saat disuruh memilih akau tidak tahu siapa yang harus ku pilih," tutur Anna.


"Bagaimana perasaanmu setelah memarahi kak Wildan?" tanya Yasmin hati-hati.

__ADS_1


"Aku pikir setelah memarahinya kemarin, hatiku akan legah, namun nyatanya saat ini, hatiku seperti ditimpa beban, sesak dan sangat sakit Yas.


"Aku ingin memperlihatkanmu sesuatu," ujar Yasmin mengeluarkan hapenya dan memperlihatkan sebuah video yang ia ambil dari cafe tersebut pada Anna.


Mata Anna melotot saat melihat video tersebut, tak berselang lama, matanya mulai mengeluarkan bulir air mata.


"Ya Allah.. apa yang sudah ku lakukan, aku benar-benar bodoh Yas, hiks." Anna menangis, seketika ingatannya kembali pada malam itu, dimana ia benar-benar menyakiti hati Wildan


Bahkan Anna sempat melihat Wildan mengusap matanya sesaat sebelum berbalik pergi ke suatu tempat.


"Aku harus bagaimana Yas." Anna benar-benar merasa bersalah pada Wildan.


"Coba hubungi Wildan, bicaralah dengannya dan mohon maaflah baik-baik," desis Yasmin dan hanya dijawab anggukan oleh Anna.


"Oh iya, besok pagi kita akan balik ke Jakarta. Aku yakin, Ryan akan menagih jawabanmu disana," ujar Yasmin.


--


Kesesokan harinya, Yasmin dan Anna telah sampai di Bandara Soekarno-Hatta. Tujuan pertama mereka saat ini adalah restoran X milik Wildan, mereka mengetahujnya dari Yusuf saat menanyakan tempat kerja Wildan.


"Pantas saja Wildan bisa mengetahui rencana liburannya dengan Ryan, rupanya, restoran tempat mereka bertemu adalah restoran milik Wildan." Anna berbicara dalam hati.


"Kamu kenapa Ann?" tanya Yasmin, sejak tadi ia memperhatikan Anna yang nampak sedang berfikir keras hingga keningnya mengerut.


"Eh.. nggak kok, cuma mikirin Wildan saja," jawab Anna.


Beberapa saat kemudian, taksi yang meteka tumpangi berhenti di depan restoran X.


" Aku nggak nyangka? ternyata restoran besar ini milik kak Wildan, wah wah," celetuk Yasmin penuh takjub saat mulai memasuki pintu restoran tersebut bersama Anna.


Anna hanya tersenyum tipis menanggapi celotehan Yasmin. "Yas, kita tanyakan pada orang itu, sepertinya dia punya jabatan tinggi di restoran ini, seru Anna menunjuk ke arah Doni, asisten Wildan.


"Permisi pak, ruangannya kak Wildan dimana yah?" tanya Yasmin


"Maaf, mbak ini siapa yah? dan ada keperluan apa mencari Pak Wildan?" Doni bertanya kembali.


"Kami temannya Kak Wildan pak, kemarin kami sempat liburan bersama di Toraja dan ada sedikit kesalahpahaman yang harus kami luruskan dengan kak Wildan," terang Yasmin.


"Oh gitu, tapi maaf mbak, Pak Wildan sedang keluar, mungkin nanti sore baru kesini lagi," jelas Doni.


"Oh iya, terima kasih banyak pak, kami permisi dulu," pamit Yasmin menarik Anna keluar restoran.


Saat hendak menunggu taksi, hape Anna berbunyi, ternyata Ryan menelfonnya.

__ADS_1


--


Ternyata, apa yang dikatakan Yasmin sebelumnya benar terjadi. Sore ini, Ryan mengajak Anna untuk kembali bertemu, namun kali ini di restaurant lain.


Sesuai dengan recananya bersama Yasmin, Anna memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu dan bersikap seperti biasa pada Ryan.


"Ann.. aku ingin menagih jawabanmu yang sempat tertunda tempo hari." Kata Ryan tanpa basa-basi.


"Hmmm... maafkan aku Yan. Aku sudah memikirkannya beberapa kali, nyatanya dalam hatiku kamu adalah sahabatku sampai sekarang. Aku tak bisa memaksakan hatiku," terang Anna membuat Ryan tersenyum kecut.


"Apa kamu memiliki seseorang dalam hatimu saat ini?" Pertanyaan Ryan ini entah mengapa terasa begitu sulit untik dijawab oleh Anna.


"A-aku tidak tahu Ryan," jawab Anna ragu. "Aku ke toilet dulu sebentar." Anna beranjak dari duduknya lalu pergi ke belakang.


Namun, beberapa saat kemudian Anna mengintip ke arah tempat Ryan duduk. Perkiraannya benar, Ryan kembali memasukkan sebuah obat ke dalam minuman Anna.


"Apa yang telah ku lakukan, aku mempercayai pria bre***** seperti Ryan dan malah menyakiti pria baik seperti Wildan." Anna berbicara sendiri didepan cermin toilet.


Air matanya kembali menetes saat mengingat nama Wildan, hatinya benar-benar sakit saat mengingatnya, lalu bagaimana hati Wildan malam itu? sungguh Anna tak mampu membayangkannya.


"Aku harus menemui Wildan secepatnya, aku ingin minta maaf padanya secara langsung," batin Anna.


Tak lama kemudian, Anna kembali dari toilet dengan berpura-pura tidak mengetahui apa-apa.


"Maaf aku membuatmu menunggu lama," tutur Anna.


"Tidak masalah, makanannya telah ada, silahkan kamu makan dulu." Ryan mempersilahkan.


Anna dan Ryan mulai memakan makanannya hingga tandas. Namun, Anna sama sekali tidak menyentuh minumannya.


"Mari bersulang untuk pertemuan terakhir kita, setelah ini mungkin aku akan kembali ke Amerika," ujar Ryan sembari memberikan kode pada Anna untuk mengangkat minumannya lalu meminumnya.


Anna sedikit ragu, namun entah kenapa, Anna malah meminum minuman itu meski hanya sedikit.


"Minum sedikit saja mungkin tidak akan berpengaruh padaku," batin Anna.


Namun, beberapa saat kemudian, Anna merasakan panas pada tubuhnya, kepalanya mulai terasa sakit dan pusing.


"Ryan, sepertinya aku harus segera pulang," ujar Anna hendak berdiri dari duduknya namun tangan Ryan menahannya.


"Kamu mau kemana Ann? urusan kita belum selesai," kata Ryan tersenyum penuh arti


-Bersambung-

__ADS_1


Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.


Mampir juga di karyaku yang berjudul "BUKAN CINTA MONYET" sedang ikut event lomba menulis. Ceritanya ringan dan menghibur. Mohon dukungannya dengan like, koment, vote dan gift yah.


__ADS_2