Kisah Cinta Dua Mutiara

Kisah Cinta Dua Mutiara
83. Sasaran Anna


__ADS_3

Hari ini, Yasmin sudah dibolehkan untuk pulang. Dengan diantar Yusuf, Abi Hasan, Ummi Ulfa dan Ibu Hafsa, Yasmin pulang ke rumah Ummi Ulfa dengan keadaan yang lebih ceria.


Saat memasuki rumah, Ummi mempersilahkan Ibu Hafsah untuk beristirahat di kamar tamu yang sudah disiapkan sebelumnya.


Sementara Yusuf dan Yasmin langsung masuk ke kamarnya. Mereka duduk bersama di tepi tempat tidur.


"Kak, jujurlah pada Yasmin, apa yang sedang mengganggu pikiran kakak saat ini?" tanya Yasmin karena sejak tadi ia melihat Yusuf seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ini.. ini mengenai.." Yusuf ragu untuk melanjutkan perkataannya.


"Mengenai kehamilanku?" Yasmin melanjutkan perkataan Yusuf.


"I-iya sayang, alhamdulillah kata dokter kamu saat itu memang sedang hamil, tapi..." Lagi-lagi Yusuf tidak melanjutkan kata-katanya


"Tapi apa, hmm?" Yasmin menangkup kedua pipi Yusuf, ia bermaksud memberikan sedikit keberanian pada Yusuf untuk menjelaskan apa yang terjadi, meski ia sudah mengira kalau apa yang akan dijelaskan Yusuf akan membuatnya bersedih.


"Tapi janin kamu masih sangat lemah saat itu, jadi ia belum bisa bertahan saat mendapat goncangan hebat," jelas Yusuf hati-hati sambil menunggu bagaimana respon Yasmin.


Yasmin tersenyum, namun matanya mengeluarkan butiran bening. Ia menunduk sesaat lalu kemudian ia mengangkat kembali wajahnya.


"Tidak apa-apa kak, aku sudah berusaha keras menjaganya saat itu, namun mungkin memang sudah jalan-Nya, insya Allah semua ada hikmahnya. Kita berdoa saja semoga Allah kembali memberikan kita amanah." Yusuf tercengang mendengar jawaban bijak Sang Istri, meskipun matanya menunjukkan kesedihan, namun ia mampu mengontrol emosinya dengan sangat baik.

__ADS_1


"Iya sayang, insya Allah dibalik musibah ini, ada hikmah yang indah dibelakangnya," ucap Yusuf lalu memeluk sang istri dengan sayang.


"Sekarang, istirahatlah dulu yah, tubuhmu masih butuh istirahat untuk pemulihan." Yusuf membaringkan Yasmin di tempat tidur.


Yusuf menngecup kening Yasmin lalu hendak beranjak, namun tangan Yasmin menahannya.


"Ada apa sayang?" tanya Yusuf kembali duduk disamping Yasmin.


"Disinilah sebentar lagi hingga aku tertidur," rengek Yasmin seraya memeluk pinggang suaminya.


Yusuf tersenyum melihat istrinya yang mulai manja, "baiklah sayang, sekarang kamu istirahat lah," tukas Yusuf lalu ikut berbaring disamping Yasmin, memberikan tempat yang nyaman dalam pelukannya.


-


"Abang," panggil Anna sambil menyuapi Wildan makanan. "Aaaaa.." lanjutnya menginstruksikan Wildan membuka mulut dengan ikut membuka mulutnya.


Semenjak Yasmin sakit, kini Wildan yang menjadi sasaran Anna. Kemanapun Wildan pergi, Anna selalu merengek untuk ikut. Dan apa yang Anna makan, maka Wildan harus ikut makan bersamanya.


"Indahnya punya istri yang lagi hamil muda," ucap Wildan tersenyum paksa sambil menemani Anna makan sambal pete. Entah itu adalah bentuk ungkapan suka cita atau bentuk ungkapan merana, hanya Allah yang tahu.


Yah, Wildan sangat tidak menyukai pete, baru baunya saja yang ia cium, ia akan langsung mual. Namun kali ini, demi memenuhi keinginan sang istri, Wildan rela memakannya meski harus berjuang menahan bau yang sangat tajam tercium di hidungnya, dan menahan gejolak dalam perutnya yang seolah tidak ingin menerima kehadiran pete.

__ADS_1


"Senyumnya yang ikhlas dong bang, biar hati Anna senang, dan Wildan juniornya juga senang," celetuk Anna langsung membuat wildan tersenyum dengan menampilkan gigi putihnya.


"Nah gitu dong, kan suami Anna jadi makin tampan. Oh iya, habis ini Anna mau makan jengkol yah bang," pinta Anna sekali lagi yang berhasil membuat Wildan menganga lebar.


"Apa? jengkol? Oh my God, help me," batin Wildan meronta-ronta.


Entah apa salah Wildan hari ini, hingga Anna menginginkan semua makanan yang Wildan tidak suka.


"Hap, pinter." Anna menyuapkan kembali Wildan nasi dengan sambal pete yang banyak kepada Wildan yang mulutnya masih menganga lebar.


"Bagaimana ini, apakah aku harus pura-pura sakit agar aku bisa bebas dari makanan ini?" batin Wildan sambil melirik Anna yang masih asik memakan nasi dan sambal petenya.


Saat makanan Anna telah habis, Wildan merasa sedikit legah. Namun rasa legah itu langsung hilang seketika saat Anna berdiri hendak keluar dari ruangan Wildan.


"Mau kemana sayang?" tanya Wildan.


"Mau panggil Doni, mau minta tolong untuk dibelikan semur jengkol," jawab Anna santai, sementara Wildan hanya bisa tepuk jidat. Ia mengira bahwa Anna akan memberi jeda waktu beberapa jam sebelum makan jengkol, namun sayangnya perkiraannya salah.


"Oh ya Tuhan," batin Wildan merana.


-Bersambung-

__ADS_1


Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.


__ADS_2