
Pagi itu, Riska sedang ikut antri di RS sendirian, sudah beberapa hari ini ia kurang enak badan, ia merasakan demam dan muncul ruam merah di kulitnya.
Kini giliran namanya disebut, dengan lemas, Riska berjalan ke ruang dokter. Saat masuk, ia terkejut dengan dokter yang ada dihadapannya.
"Ini kan mas Yusuf yang waktu itu" batin Riska tersenyum.
"Selamat pagi, ada keluhan apa bu?" tanya Yusuf ramah seperti pada pasiennya yang lain.
"Ini mas, eh maksudnya dokter, dikulit aku muncul ruam-ruam merah, aku juga sering sakit kepala, kadang mual, dan demam beberapa hari ini" kata Riska salah tingkah sambil menunjukkan tangannya yang penuh bercak merah.
"Saya periksa dulu yah bu" kata Yusuf lalu memeriksa Riska dengan seksama.
Riska yang sedang diperiksa terus memandangi Yusuf dengan jantung yang berdebar-debar namun tidak dengan Yusuf yang biasa-biasa saja.
"Maaf bu, sepertinya ibu mengalami gejala DBD (Demam Berdarah), tapi untuk mengetahui secara pasti, ibu harus melakukan tes darah dulu, jika memang hasilnya positif, maka ibu harus di rawat inap" kata Yusuf menjelaskan.
"Apa? DBD? apakah itu parah dok?
tanya Riska khawatir.
"Gejala yang ibu alami ini adalah gejala ringan, namun jika dibiarkan ini tetap akan berbahaya. Untungnya, ibu segera memeriksakan diri, sehingga bisa segera mendapat penanganan, insya Allah segera membaik bu" kata Yusuf sambil memberikan surat pengantar kepada Riska untuk melakukan pemeriksaan darah di laboratorium RS.
__ADS_1
"Dengan ditemani perawat, Riska menunggu hasil pemeriksaan darahnya dengan gelisah, ia sangat takut, apalagi ia hanya sendiri di Jakarta.
Di satu sisi,Riska merasa bahagia karena bertemu lagi dengan Yusuf, namun di sisi lain ia merasa takut dan kasihan pada dirinya sendiri karena harus jatuh sakit di tanah rantau sendirian.
--
Saat jam makan siang
Seperti biasa Yasmin, Nisa, Febri dan Andi akan makan siang bersama di kantin RS. Mereka makan dengan sesekali bersenda gurau dan tertawa bersama. Yasmin mulai akrab dengan teman-teman kelompoknya itu.
"Tahu nggak Yas?" tanya Andi yang agak kemayu pada Yasmin yang sedang makan.
"Nggak tahu!" jawab Nisa dan Febri bersamaan membuat Yasmin menahan tawanya.
"Emang kamu mau ngomong apa Andi?" tanya Yasmin.
"Tadi aku lihat kamu di Minimarket, terus kamu bantuin seorang Ibu paruh baya kan?" kata Andi.
"Iya, tadi aku nggak sengaja ketemu Ibu tadi, emangnya kenapa Andi?" Yasmin balik bertanya.
"Tadi, saat Ibu itu lewat depan ruangan kita bersama dokter tampan yang gue nggak tahu namanya, para staf berkata kalau Ibu itu istri dari pemilik RS ini loh! Pantas saja aura ibu itu begitu anggun. Aku yakin, dokter tampan tadi itu anaknya" kata Andi dengan mode lambeh turanya.
__ADS_1
"Sok tahu kamu, darimana kamu tahu kalau dokter itu anaknya? kamu kan nggak tahu namanya" kata Febri.
"Yaa dari wajahnya lah, wajah dokter tampan itu sangat mirip dengan wajah Ibu itu yang sangat cantik padahal sudah paruh baya" jawab Andi.
Dret dret (suara getar hape Yasmin)
"Sebentar yah guys, aku mau angkat telfon dulu, Ibu aku nelfon" kata Yasmin lalu pergi menjauh ke tempat yang agak sepi karena ia merasa khawatir mendapat telfon yang banyak dari Ibunya disertai pesan "angkat segera telfonnya!" dari sang Ibu.
"Halo, assalamu 'alaikum ibu" kata Yasmin mengawali pembicaraannya.
"Wa'alaikum salam.. nak.. kenapa ki baru angkat telfonnya, dari tadi pi Ibu telfon ki" (nak, kenapa kamu baru angkat telfonnya, dari tadi Ibu menelfonmu) kata Ibu dengan nada khawatir.
"Maaf ibu, banyak tadi resep masuk, jadi tidak sempat ka lihat hape, kenapa ki Ibu?" (maaf Ibu, tadi banyak resep masuk jadi saya tidak sempat lihat hape, Ibu kenapa?) kata Yasmin.
"Ayah sakit nak, dan tadi ayah panggil terus namata, Ibu harap bisa ki pulang sekarang ke Makassar lihat Ayahta nak, Ibu sudah kirim uang untuk membeli tiket pesawat kesini" (Ayah sakit nak, dan tadi ayah terus memanggil namamu, Ibu harap kamu bisa pulang sekarang ke Makassar melihat Ayahmu, Ibu sudah kirim uang untuk membeli tiket pesawat kesini). Kata Ibu.
"Iye Ibu, insya Allah pulang ka sekarang, kalau begitu, minta izin ka dulu sama penanggung jawab tempatku PKL, Assalamu 'alaikum" (Iya Ibu, Insya Allah saya pulang sekarang, kalau begitu, saya minta izin dulu sama penanggung jawab tempat saya PKL, Assalamu 'alaikum). Kata Yasmin kemudian.
Setelah menelfon, Yasmin lalu pergi meningglkan tempat itu menuju ke tempat teman-temannya tadi untuk pamit. Tak berselang lama, Yusuf muncul dari balik dinding tempat Yasmin menelfon. Rupanya sejak tadi tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan Yasmin. Meskipun ia tidak pandai menggunakan dialek Makassar, tapi ia dapat memahami apa yang Yasmin bicarakan karena ia memiliki paman di Makassar yang sering ia kunjungi dulu.
"Jadi Yasmin orang Makassar...apa ia akan pulang ke Makassar hari ini?" lirih Yusuf bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
-Bersambung-
Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.