
"Abang.." panggil Anna kepada Wildan yang saat ini sedang sarapan bersama. Sementara Ameer saat ini sedang ikut Ibu Sukma berkunjung ke rumah saudaranya.
"Hmm?"
"Sekarang kan Ameer sudah besar, udah pintar diajak kerja sama, apa boleh aku kuliah lagi?"
Mendengar perkataan Anna, Wildan menghentikan makannya lalu beralih menatap sang istri.
"Kenapa kamu ingin kuliah lagi? Jika kamu ingin kerja nantinya, itu tidak perlu, aku masih sanggup membiayai hidup kamu dan anak kita,"
"Tapi bang, aku hanya ingin menuntaskannya saja, kerja atau tidak nantinya itu urusan belakang bang," wajah Anna mulai kembali lesu. " Lagipula aku ingin mewujudkan keinginan paman Raziq untuk menjadi sarjana," lanjutnya tertunduk.
"Jadi sekarang kamu lebih memilih pamanmu sendiri daripada anak kamu?" sarkas Wildan, Anna yang tadi menunduk tiba-tiba mendongak menatap Wildan. Anna beberapa kali menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca. Ia benar-benar tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Wildan yang sangat sempurna bagi Anna.
"Tidak bang, aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya.." Anna tak melanjutkan perkataannya saat Wildan pergi meninggalkannya begitu saja. Bahkan makanan Wildan pun masih tersisa banyak.
__ADS_1
Air mata Anna kini mengalir ke pipinya, ia benar-benar tak menyangka suaminya akan bersikap seperti ini. "Apakah Wildan adalah tipe suami yang menginginkan istri full di rumah sambil mengurus anak dan suami?" begitulah pikir Anna saat ini.
"Ternyata baik dulu saat Ameer masih berusia 2 tahun dan sekarang Ameer berusia 3 tahun sama saja. Yang jelas abang tidak ingin aku beraktivitas diluar lagi," gumam Anna lalu beranjak dari duduknya pergi ke kamarnya.
-
Sementara Wildan saat ini berada dimobil marasa bersalah pada sang istri. Bahkan ia berangkat kerjapun tidak pamit padanya. Akibat ulah Yusuf tengah malam tadi, mood Wildan hari ini benar-benar rusak, iya sudah kurang tidur karena balik dari rumah Yusuf ia tidak bisa tidur lagi di tambah rasa kesalnya pada Yusuf sehingga tanpa sengaja Anna menjadi pelampiasannya.
Kini Wildan telah sampai di restoran, tanpa menyapa siapapun seperti biasa, Wildan langsung masuk ke ruangannya.
"Astaghfirullah astghfirullah.. ada apa denganku?" monolog Wildan sambil menjambak rambutnya sendiri.
Wildan teringat dimasa kecilnya, saat kedua orang tuanya sibuk bekerja diluar rumah, ia sangat jarang bertemu hanya sekedar bersenda gurau bersama kedua orang tuanya, bahkan setelah masuk pesantren, komunikasi dengan kedua orang tuanya semakin renggang. Hingga saat ayah Wildan meninggal, Ibunya mulai sering mengajaknya berkomunikasi, meski tetap harus bekerja karena sang suami telah meninggal.
Itu sebabnya, setelah tamat pesantren, Wildan memilih langsung bekerja sambil kuliah agar sang ibu tidak perlu lagi bekerja sehingga ia bisa menghabiskan waktunya dirumah dengan sang ibu yang dulu tidak sempat ia rasakan. Dan Wildan tidak ingin hal yang sama terjadi pada Ameer putranya.
__ADS_1
Merasa sangat pusing, Wildan memutuskan untuk sholat Dhuha untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Waktu bergulir begitu cepat, kini malam mulai menyapa. Setelah menyelesaikan beberapa pertamuan hari ini, Wildan memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia sungguh ingin segera bertemu dengan Anna dan memeluknya. Hatinya benar-benar terluka tiap kali mengingat wajah sendu Anna dengan mata berkaca-kaca pagi tadi.
Mobil Wildan kini sampai di depan rumah. Wajah sang istri yang biasanya menyambutnya dengan senyuman kini tidak ia temukan di depan rumah.
"Hufth" Wildan menghembuskan nafasnya kasar lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Ia terus berjalan menuju kamarnya mencari Anna.
"Anna?" panggilnya, namun ia tak menemukan Anna dikamarnya. Wildan lalu mecarinya dikamar Ameer dan benar saja, ia mendapati Anna tertidur di kamar Ameer sambil memeluk putranya itu.
Wildan berjalan perlahan masuk ke dalam kamar agar tidak membangunkan dua orang yang sangat ia sayangi dikamar itu.
Wildan duduk disamping Anna yang sudah tertidur pulas, wajahnya begitu sendu, sungguh perkataannya pagi tadi telah menyakiti hati Anna sebagai seorang ibu, istri dan anak sekaligus.
"Maafkan aku sayang, hari ini moodku sedang kacau sampai tidak sadar telah meyakitimu," lirih Wildan sambil mengusap rambut Anna.
__ADS_1
-Bersambung-
Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.