Kisah Cinta Dua Mutiara

Kisah Cinta Dua Mutiara
65. Menuju Aqad


__ADS_3

Pertemuan kita malam itu sungguh memberiku sedikit kesadaran akan hati yang juga sakit saat telah menyakitimu.


Entah perasaan apa yang ada dalam hatiku, namun untuk saat ini, aku maresa seperti ada beban dalam hatiku sekaligus ada yang hilang dalam hatiku pada waktu bersamaan.


Mungkin saat itu masih sedikit ragu, namun, jika disuruh memilih kembali, maka aku akan memilihmu.


Maafkan aku, dan


Jangan pergi


(Anna Embong Bulan)


--


Pagi hari di rumah sakit


Anna mengerjapkan matanya dan mengucek lembut kedua matanya.


Ia mengarahkan pandangannya kesegala sudut ruangan yang agak ramai. Hingga pandangannya jatuh pada sahabat yang dengan setia menemaninya sejak kemarin.


"Yasmin?" lirihnya mengusap kepala Yasmin yang tertutup jilbab.


Yasmin saat ini tertidur disamping brankar Anna dengan berbantalkan kedua lengannya. Perlahan ia membuka mata setelah mendengar Anna memanggilnya.


"Anna, bagaimana keadaanmu? akhirnya kamu sadar juga," ujar Yasmin merasa legah melihat sahabatnya yang sudah sadarkan diri.


"Yas, apa rencana kita berhasil? apa Ryan sudah ditangkap? Wildan.. Wildan dimana?" Anna memberondong pertanyaan pada Yasmin.


"Iya Ann, alhamdulillah rencana kita berhasil danvRyan juga sudah ditangkap," ungkap Yasmin.


Yasmin tak lagi melanjutkan kata-katanya.


"Lalu Wildan? Wildan dimana Yas? seingatku dia yang menolongku," desis Anna bangkit dari tidurnya.


"Wildan sudah pergi tadi malam Ann," lirih Yasmin


"Pergi kemana Yas? kenapa tidak menungguku sadar dulu? aku belum sempat minta maaf padanya," desis Anna dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Maafkan aku Ann.. Kata kak Yusuf, dia pergi ke Malaysia, sepertinya kak Wildan ingin menyendiri dulu untuk beberapa waktu," tutur Yasmin.

__ADS_1


Anna terdiam, sesaat kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Perlahan tubuhnya mulai bergetar, Anna menangis tanpa suara.


Yasmin yang melihatnya, hanya bisa mengusap lembut punggung Anna, berharap itu bisa memberi sedikit ketanangan untuk Anna.


--


Di Malaysia


"Nak, coba jujur ke Ibu, apa yang membuatmu tiba-tiba ingin pergi ke Malaysia? tanya Ibu Sukma yang saat ini sedang sarapan bersama Wildan putranya.


"Nggak papa bu, aku hanya ingin membuka cabang untuk restoran kita di Malaysia Ibu," bohong Wildan.


"Nak, kamu tumbuh dalam pengasuhan dan pengawasan Ibu, sudah kurang lebih 30 tahun ibu bersamamu, tentu Ibu tahu jika saat ini ada yang sedang mengganggu hati dan pikiranmu," terang Ibu Sukma dengan lembut.


"Maafkan aku Ibu, sebenarnya aku kesini untuk menjauhi seseorang," tutur Wildan dengan wajah yang mulai sendu.


"Apakah orang itu memiliki tempat dihatimu saat ini nak?" tanya Ibu Sukma lagi.


"Iya Ibu, aku tidak bisa memungkiri kenyataan itu. Jika tidak, mungkin aku tidak akan sampai kesini hanya untuk menenangkan diri," jawab Wildan terus terang.


"Nak, Ibu tidak tahu persis apa masalahmu, tapi selama itu tidak berkaitan dengan wanita yang sudah menikah atau dikhitbah, bukan juga karena wanita itu melakukan pelanggaran agama, maka tidak ada salahnya bagimu untuk memberikan kesempatan kedua pada wanita itu, atau minimal berikan ia kesempatan untuk berbicara padamu, meski itu untuk yang terakhir kalinya," papar Ibu panjang lebar.


Mendengar perkataan Ibunya, Wildan merasa bahwa apa yang dikatakan Ibunya ada benarnya juga.


Begitu juga saat Anna menyebut namanya, jelas sekali Anna menyebut namanya dengan lembut, tanpa ada emosi di dalamnya.


Entah kenapa, tiba-tiba rasa penyesalan menyeruak masuk kedalam hati Wildan karena telah meninggalkan Anna saat ia berada di rumah sakit saat itu.


Namun, nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah terlanjur berada di Malaysia saat ini, maka ia akan memanfaatkannya untuk sekedar menenangkan hatinya terlebih dahulu baru kemudian ia kembali ke Indonesia.


--


Satu bulan kemudian


Hari ini adalah hari pernikahan Yasmin dan Yusuf yang diadakan disalah satu hotel besar di Makassar.


"Masya Allah, cantik sekali putriku," puji Ibu Hafsah saat masuk ke kamar Yasmin untuk memanggilnya karena sebentar lagi aqad nikahmya akan segera dimulai.


Yasmin tersenyum simpul mendengar pujian sang Ibu.

__ADS_1


"Iya dong Ibu, sahabat siapa dulu dong.. Anna," seloroh Anna membuat Ibu Hafsah dan Yasmin terkekeh geli.


"Kamu juga cantik sekali Anna," puji Ibu Hafsah membuat Anna merona malu.


"Ibu juga sangat cantik kok, malahan sekarang Anna bingung, yang mau nikah ini sebenarnya Yasmin atau Ibu," celoteh Anna membuat Ibu Hafsah dan Yasmin terkekeh lagi.


"Bisa aja kamu Ann, oh iya mempelai prianya sudah datang, ayo kita kesana karena aqad nikahnya akan segera di mulai.


"Baik Ibu," kata Yasmin kemudian berdiri.


"Ibu bagaimana ini, aku gugup sekali. Rasanya aku nggak sanggup untuk pergi kesana, aku malu bertemu kak Yusuf, bu," tukas Yasmin memegang tangannya sendiri yang sudah sedingin es karena terlalu gugup.


"Nak, mungkin semua orang yang akan menikah juga merasakan hal seperti yang kamu rasakan saat ini."


"Ibu juga dulu seperti itu kok. Malah lebih parah dari kamu, karena beberapa orang harus ikut turun tangan untuk membujuk Ibu agar mau ke tempat aqad nikah, Ibu sangat takut dan gugup saat itu, karena Ibu dan Ayahmu dijodohkan jadi hampir tidak pernah bertemu sebelumnya." Ibu bercerita panjang lebar sambil berjalan.


"Apa aku juga nanti akan seperti itu yah? tapi kapan? dan sama siapa?" celetuk Anna, Yasmin dan Ibu lagi-lagi terkekeh dibuatnya.


"Wah.. dari bahasa kamu, sepertinya kamu udah siap nikah ya," goda Yasmin.


"Aku juga sebenarnya nggak tahu Yas, cuma kalau lihat orang nikah kayak gini, rasanya aku juga ingin segera nikah." jujur Anna membuat Yasmin tersenyum penuh arti.


"Tenang saja, mungkin nanti kamu akan segera bertemu jodohmu," kata Yasmin membuat Anna mengernyit bingung.


"Maksud kamu apa Yas?" tanya Anna penasaran.


"Anna, apakah saat ini ada orang di hatimu?" tanya Yasmin dengan mimik wajah seriusnya.


"Aku nggak tahu Yas," jawab Anna asal.


"Kenapa nggak tahu Ann? itukan hati kamu," tanya Yasmin lagi.


"Yasmin, Anna, ketika seseorang ditanya, apakah ada seseorang di dalam hatinya, kemudian ia menjawab tidak tahu, berarti besar kemungkinan didalam hatinya memang sudah ada seseorang yang bertahta," terang Ibu Hafsah.


Anna nampak bingung menanggapi perkataan Ibu Hafsah. Jika boleh jujur, memang benar, di dalam hati Anna saat ini memang telah ada seseorang yang bertahta. Namun, ia tidak tahu, apakah kehadiran orang itu karena rasa cinta atau karena rasa bersalah.


Mereka terus saja berbincang selama perjalanan mereka menuju ruang aqad nikah, hingga Ayah Syawal yang sejak tadi menunggu mereka di gerbang masuk menghampiri mereka.


-Bersambung-

__ADS_1


Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.


Dukung juga karyaku berjudul "BUKAN CINTA MONYET", lagi ikut event menulis tema kisah kasih di sekolah. Ceritanya ringan dan menghibur. Jangan lupa like, gift dan votenya yah. Terima kasih.


__ADS_2