
"Kenapa kamu tidak ingin memberitahukan apa yang terjadi diantara kita kepada mereka?" tanya Wildan yang saat ini sedang berjalan bersama Anna menuju ke kamar mereka masing-masing.
Pagi itu setelah sarapan bersama, Yasmin dan Yusuf memilih untuk jalan-jalan sebentar, sementara Wildan dan Anna memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing.
"Haruskah aku memberitahukan mereka? sementara diantara kita belum ada kejelasan?" kilah Anna.
"Maksud kamu apa Anna? apakah permintaanku dihadapan Ibuku semalam kamu anggap belum jelas?" Wildan mengerutkan keningnya.
"Bukan begitu, hanya saja...
kamu belum pernah meminta izin kepada keluargaku sebelumnya. Seperti kak Yusuf yang meminta izin kepada orang tua Yasmin untuk mengajaknya ta'arruf dan melamarnya," tutur Anna tertunduk lesu.
Wildan menarik ujung bibirnya mendengar penuturan Anna. "Apakah kamu ingin melalui tahap seperti apa yang dilalui Yasmin?" Anna mengangguk malu menjawab pertanyaan Wildan.
"Hahah.. ternyata kamu itu polos juga dalam hal seperti ini," kekeh Wildan membuat Anna mendengus.
"Anna, dengarkan aku.. menikah itu tidak selamanya harus melalui ta'arruf.. jika memang sama-sama sudah saling mengenal dan yakin, satu sama lain, kenapa harus ta'arruf lagi," papar Wildan.
Anna mendongak menatap Wildan dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Sekarang aku tanya sama kamu, apa yang belum kamu ketahui tentang aku? kerjaanku? karakterku? atau keluargaku?" tanya Wildan dan Anna hanya menggeleng kecil.
"Benar, kamu jelas sudah tahu, apa kerjaanku dan dimana tempat kerjaku kan, kamu juga sudah memahami karakterku, dan kamu bahkan sudah pernah bertemu dengan Ibuku" tutur Wildan dan Anna hanya mengagguk tanpa suara.
"Tunggu, darimana kamu tahu kalau aku sudah mengetahui apa kerjaanmu dan dimana tempat kerjamu?" sela Anna bertanya saat Wildan hendak kembali bersuara.
"Doni yang mengatakanya padaku, katanya, waktu itu kamu datang bersama Yasmin untuk mencariku di restoran," jawab Wildan dan lagi-lagi Anna hanya mengangguk.
"Jadi, apa masih ada yang ingin kamu cari tahu tentangku?" Anna lagi-lagi menggeleng.. Rasanya saat ini, ia seperti anak kecil yang diberi wajangan oleh Ayahnya dan ia takut untuk bersuara.
"Jadi sudah jelaskan? kita tidak perlu lagi ta'arruf, aku ingin langsung menikahimu. Insya Allah setelah balik ke Jakarta, aku akan langsung menemui keluargamu," terang Wildan.
"Apa??? kalian akan menikah," Anna dan Wildan terkejut mendengar suara Yasmin yang tiba-tiba muncul bersama Yusuf.
"Eh hmm.. kami.." Wildan ragu mengatakannya karena takut Anna lagi-lagi tidak setuju.
__ADS_1
"Benar, kami akan menikah, insya Allah," tegas Anna, membuat Wildan ikut mengangguk. Sepertinya Anna tidak ingin lagi merahasiakannya, begitulah pikir Wildan.
"Wah.. selamat yah Ann.. akhirnya." Yasmin menghambur memeluk Anna.
"Iya, makasih Yas, maaf aku tadi tidak mengatakannya padamu." lirih Anna dan Yasmin mengangguk mengerti.
Sementara Wildan yang melihat kedua wanita itu berpelukan, kini beralih menatap Yusuf.
"Apa? jangan coba-coba minta dipeluk juga, ogah." Yusuf memeluk dirinya sendiri.
Wildan tanpa bicara apapun kini malah mendekat ke arah Yusuf sambil merentangkan kedua tangannya seolah ingin memeluknya.
"Hey.. jaga batasanmu bujang, aku sudah menikah." Yusuf menghindari Wildan yang terus berusaha mendekatinya.
"Sekali saja Yus, aku ingin mengekspresikan kebahagiaanku dengan memeluk seseorang, tidak mungkin kan aku memeluk Anna, apalagi Yasmin." Mendengar nama Yasmin, langkah Yusuf terhenti,
"Berani kau memeluk istriku, ku sunnat kau sampai ke akar-akarnya," ancam Yusuf membuat Wildan meringis mendengarnya.
Sementara Yasmin dan Anna yang sejak tadi melihat aksi konyol kedua pria dewasa itu hanya terkekeh geli.
Beberapa hari kemudian, Yusuf dan Yasmin kini telah kembali ke Jakarta. Tujuan mereka kali ini adalah rumah orang tua Yusuf.
Rumah orang tua Yusuf cukup besar, dengan kolam ikan yang berada di tengah taman depan rumah.
Yasmin dan Yusuf terus berjalan memasuki rumah mewah tersebut. Yusuf mengajak Yasmin langsung ke kamarnya untuk menyimlan barang bawaan mereka.
Sstelah memasuki kamar, Yasmin kembali dibuat takjub dengan kamar Yusuf yang bernuansa putih abu-abu dan tampak rapih dan bersih. Kamar Yusuf cukup luas jika dibandingkan dengan kamar Yasmin yang ada di Makassar.
"Kalau dilihat dari desain interiornya beserta isinya, kamar ini milik seorang pria bujang," celetuk Yasmin sambil melihat foto-foto Yusuf yang menempel di dinding.
"Oh yah? kok bisa dek?" tanya Yusuf menahan senyumnya.
"Yah lihat aja warna kamar kakak, terus foto-foto disini, semuanya hanya ada kakak seorang, kalaupun ada foto bersama wanita, itu cuma Ummi dan kak Fatimah," seloroh Yasmin membuat Yusuf terkekeh.
"Terus gimana dong? padahalkan sekarang aku pria beristri," tanya Yusuf mendekati Yasmin yang masih asik melihat foto-foto Yusuf.
__ADS_1
"Hmm... pajang aja foto nikah kita disini, supaya kalau ada yang datang kesini, mereka langsung tahu kalau kakak sudah beristri." Yasmin menunjuk dinding tempat foto-foto Yusuf tertata rapih.
Yusuf terkekeh melihat Yasmin yang kadang sangat dewasa dan kadang juga polos seperti anak kecil yang sangat menggemaskan.
"Siap sayang, nanti aku akan mencetak foto kita paling besar agar langsung nampak meski dari luar kamar sekalipun," canda Yusuf membuat Yasmin tertawa kecil dengan pipi merona merah karena mendapat panggilan sayang dari Yusuf.
"Sekarang ayo kita turun ke bawah untuk makan malam, Ummi dan Abi pasti sudah menunggu," ajak Yusuf sambil menarik tangan Yasmin dengan lembut ke dalam genggamannya.
Setelah makan malam bersama, kini semua berkumpul di ruang keluarga.
"Yusuf, Yasmin, kemarilah nak," panggil Abi Hasan saat berada di ruang keluarga bersama Ummi Ulfa, Fatimah beserta suami, Yusuf dan Yasmin.
"Iya Abi, ada apa," tanya Yusuf menghampiri Abi diikuti Yasmin.
"Abi dan Ummi ada hadiah pernikahan untuk kalian." Abi Hasan memberikan sebuah amplop berisi paket honeymoon di Turki.
"Masya Allah.. terima kasih banyak Abi, Ummi," ucap Yasmin tersenyum senang.
"Terima kasih banyak Abi, Ummi," ucap Yusuf kepada Abi dan Ummi lalu mencium tangan Abi dan Ummi bergantian diikuti Yasmin.
"Berangkatlah besok nak, mumpung kamu dan Yasmin masih cuti," saran Ummi.
"Bagaimana dengan Wildan Ummi? katanya besok dia akan melamar Anna," tanya Yusuf.
"Iya, karena besok baru lamaran, biar Ummi dan Abi saja yang ikut, kalian pergi saja bulan madu, Ummi ingin segera menimang 2 cucu dari kamu dan Ima," terang Ummi sembari melirik Fatimah yang memang tengah mengandung 2 bulan.
"Iya Ummi, doakan Yasmin yah agar bisa segera menyusul kak Fatimah hamil," cicit Yasmin.
"Pasti sayang, Ummi dan Abi selalu mendoakan kalian semua," tukas Ummi Ulfa.
"Terima kasih Ummi, Abi, kalau gitu kami mau menyiapkan barang-barang kami dulu sebelum berangkat besok," ujar Yusuf lalu pergi ke kamarnya bersama Yasmin.
-Bersambung-
Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.
__ADS_1