Kisah Cinta Dua Mutiara

Kisah Cinta Dua Mutiara
95. Yasmin Melahirkan Part 1


__ADS_3

Sebelumnya saat pagi hari


"Assalamu 'alaikum anak-anak Abi, shobahul khair sayang," ucap Yusuf mengusap-mengusap perut sang istri yang kini sudah semakin membesar diusia 35 minggu.


"Dek, ayo bangun, kan hari ini jadwal kontrol kamu ke dokter," ujar Yusuf membangunkan Yasmin yang tertidur kembali setelah sholat subuh tadi.


Karena perut Yasmin yang semakin membesar, membuat Yasmin tidak nyaman tidur pada malam hari, apalagi malam tadi perut Yasmin sering sekali sakit, itu membuatnya terjaga semalaman. Untungnya Yusuf yang menyadari ketidaknyamanan istri mulai mengusap-usap panggul belakangnya sehingga setelah sholat subuh tadi Yasmin bisa tertidur.


"Hmm iya kak, 5 menit lagi yah," ucapnya sambil memberikan simbol 5 jari pada Yusuf.


Yusuf tersenyum gemas melihat istrinya, pasalnya Yasmin sendiri yang minta dibangunkan pukul 8 pagi ini karena akan kontrol kehamilan di rumah sakit. Namun kenyataannya, sudah 5 kali Yasmin dibangunkan dan sudah 5 kali pula Yasmin meminta tambahan waktu 5 menit untuk tidur.


Ia tidak terlalu memusingi perutnya yang kadang sakit, karena ia merasa itu hanya kontraksi palsu meski itu menyiksanya.


Beberapa menit kemudian, Yasmin bangkit dari tidurnya dengan dibantu Yusuf yang masih setia menunggunya bangun. Dahi Yusuf mengerut saat melihat raut wajah Yasmin yang seperti sedang menahan rasa sakit.


"Kamu kenapa? perutnya sakit lagi?"


"He em, sakit banget kak."


"Ayo ke rumah sakit sekarang sayang, jangan-jangan kamu udah mau melahirkan,"


"Nggak kak, mungkin ini cuma kontraksi palsu, lagian kan usia kandungan Yasmin masih 35 minggu,"


"Yaa tetap saja sayang kita harus segera memeriksanya jika udah terlalu sering sakit."


"Iya kak, Yasmin siap-siap dulu kalau gitu." Yasmin lalu melangkahkan kakinya ke kamar mandi tapi sebelum itu dia mencuri ciuman di pipi sang suami.


Yusuf tersenyum simpul mendapat ciuman istri pagi-pagi. "Bumilku.. bumilku, ada ada aja, tapi kenapa dia santai sekali yah? nggak ada panik-paniknya saat perutnya sakit begitu."


Yusuf lalu bangkit dan mempersiapkan barang-barang Yasmin, entah kenapa ia tiba-tiba ingin membawa semua barang-barang yang sudah Yasmin siapkan jauh-jauh hari untuk melahirkan.


Yusuf mengangkat semua barang-barang ke dalam bagasi mobilnya. Lebih baik siap siaga di awal daripada pusing sendiri saat sudah mepet, begitu pikirnya.


Beberapa menit kemudian, Yasmin telah siap dan Yusuf sudah menunggunya untuk sarapan. Yusuf mempekerjakan asisten rumah tangga saat ini untuk membantu memudahkan urusan Yasmin yang saat ini berjalanpun sulit baginya.


"Ayo kita sarapan dulu sayang, kemarilah," ajak Yusuf sambil menepuk tempat duduk disampingnya. Dan Yasmin mengikuti arahan Yusuf.

__ADS_1


"Apa masih sakit?" Yasmin mengangguk menjawab pertanyaan Yusuf, "Ya udah habiskan makannya yah baru kita berangkat, walau bagaimanapun kamu butuh energi, begitupun anak-anak kita,"


Sarapan berlangsung dengan tenang, hingga saat Yasmin hendak berdiri, ia merasakan sesuatu merembes di kakinya.


"Kak, ini kenapa kayak ada yang tumpah dikakiku?" Yusuf mengerutkan keningnya, ia lalu menunduk melihat kaki Yasmin, namun seketika matanya membulat.


"Astaghfirullah.. sayang kita harus segera ke rumah sakit, ketuban kamu sudah pecah," ujar Yusuf lalu menggendong Yasmin.


"Apa? ketuban pecah? usia kandunganku kan masih 35 minggu," batin Yasmin.


Secara umum, kehamilan kembar memang sering menyebabkan kelahiran prematur, namun banyak juga yang mampu bertahan hingga melahirkan di usia kandungan yang sudah cukup.


Khusus untuk yang dialami Yasmin, resiko kelahiran prematur sudah nampak karena ia sudah mengalami pecah ketuban, sehingga mau tidak mau bayi harus segera dikeluarkan, jika tidak maka resiko terjadinya infeksi semakin besar. Adapun penyebab pecah ketuban dini adalah karena kehamilan kembar 3 yang kemungkinan memberikan tekanan berlebih pada kantong ketuban sehingga menyebabkan ketuban pecah sebelum waktunya.


Tak perlu menunggu lama karena apartemen Yusuf sangat dekat dengan rumah sakit. Kini Yasmin langsung dibawa ke ruang persalinan untuk mendapatkan tindakan. Yusuf sebagai suami tentu ikut masuk ke dalam untuk menemani persalinan Yasmin.


"Bu Yasmin, apakah sebelumnya ibu tidak merasakan kontraksi?" tanya seorang bidan yang bernama Nisa.


"Rasa sih bu bidan, tapi aku pikir itu hanya kontraksi palsu karena sebelumnya aku juga sering merasakannya, apalagi kandunganku masih 35 minggu, jadi aku nggak hitung berapa kali kontraksinya datang," terang Yasmin.


"Oh pantas saja, ibu tahu, sekarang ibu sudah pembukaan 5 loh," ujar bidan Nisa.


"Iya, apa semalam ibu tidak merasakan sakit?"


"Rasa sih bu bidan, heheh," Yasmin terkekeh dengan kebodohannya sendiri.


"Astaga, dia masih bisa tertawa? aku udah sangat khawatir, dan dia malah tertawa?" batin Yusuf yang dari tadi diam saja karena sangat khawatir.


"Kak, sakit," keluh Yasmin dengan wajah yang mulai memucat menahan sakit.


"Kamu yang kuat yah sayang, ingat kamu harus melahirkan 3 bayi, jadi atur kekuatanmu, jangan dihabiskan semua saat melahirkan bayi pertama, kamu pasti bisa, kamu wanita kuat dan tangguh, bismillah." Yusuf menggenggam tangan Yasmin dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengusap panggul belakang Yasmin agar Yasmin merasa lebih nyaman.


Beberapa menit kemudian, bidan kembali mengecek pembukaan Yasmin.


"Ibu, ini sudah pembukaan lengkap, dengarkan instruksi saya yah, ingat saat mengedan nanti jangan mengangkat panggul, jangan menutup mata dan jangan berteriak. Ibu harus mengatur tenaga Ibu untuk melahirkan 3 bayi."


"Baik bu bidan"

__ADS_1


"Baik, Sekarang ibu..."


Yasmin mulai mengedan, wajah putihnya memerah, tangannya begitu kuat mencengkram tangan Yusuf. Bahkan kuku-kuku Yasmin sampai menancap di kulit Yusuf.


"Ya Allah mudahkan persalinan istriku," batin Yusuf, ia sudah tidak peduli lagi dengan rasa sakit akibat kuku Yasmin yang menancap di tangannya, yang ada dalam pikirannya sekarang adalah berdoa dan berdoa.


Setelah beberapa kali mencoba akhirnya terdengar suara tangisan bayi pertama.


Selamat bu, pak, bayi pertama laki-laki,


"Alhamdulillah," ucap Yusuf dan Yasmin bersamaan.


Tak lama setelah itu, Yasmin kembali merasa sakit, bidan kembali menginstruksikan untuk mengedan.


"Kak sakit sekali," ucap Yasmin yang sudah berurai air mata.


Yusuf yang juga ikut menangis hanya bisa mengusap air mata istrinya dengan lembut lalu mencium keningnya.


"Maafkan aku sayang yang tidak bisa menggantikan posisimu, andai bisa aku ingin sekali menggantimu merasakan sakitnya kontraksi dan melahirkan, namun Allah lebih tahu bagaimana kemampuanmu, itu sebabnya Allah menjanjikan pahala yang sangat besar untukmu sayang," bisik Yusuf ditelinga Yasmin.


Yasmin tersenyum mendengar bisikan dari sang suami di tengah perjuangannya melahirkan bayi kedua, hingga akhirnya terdengar suada tangisan bayi yang lebih nyaring.


"Selamat bu, pak, bayi kedua perempuan."


"Alhamdulillah," ucap Yusuf, sementara Yasmin hanya bisa mengucapkan syukurnya dalam hati, ia benar-benar lelah.


Beberapa menit kemudian, Yasmin kembali merasakan sakit pada perutnya. Wajah Yasmin benar-benar pucat, kening dan wajahnya sudah basah oleh peluhnya yang muncul kembali setelah dilap oleh Yusuf.


Yusuf mencium kening Yasmin sekali kagi untuk memberikan semangat pada sang istri. "Satu lagi sayang, kamu pasti bisa, bidadari surgaku, semangatlah, aku sangat mencintai kamu," ucap Yusuf membuat para asisten bidan dan perawat yang mendengarnya ikutan baper (bawa perasaan),


"Ternyata dokter Yusuf dingin di luar tapi manis banget sama istrinya"


"Ya Allah simpankan aku 1 saja orang seperti dokter Yusuf"


Batin mereka sambil tersenyum sendiri. "Ekhem, fokus," sindir bidan Nisa yang mengerti maksud dari senyuman mereka.


-Bersambung-

__ADS_1


Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.


__ADS_2