Kisah Cinta Dua Mutiara

Kisah Cinta Dua Mutiara
90. Keanehan Yusuf


__ADS_3

Yasmin sejak tadi hanya diam memperhatikan gerak-gerik suaminya yang saat ini sedang fokus menyetir mobil.


"Aku nggak akan kemana-mana loh sayang, sampai segitunya kamu melihatku," ujar Yusuf langsung membuat Yasmin salah tingkah dan melemparkan pandangannya ke luar jendela.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Yusuf kembali.


"Nggak kok, aku cuma penasaran aja apa yang terjadi di antara kakak dan kak Wildan," tutur Yasmin.


"Nggak ada apa-apa kok sayang, kami baik-baik saja, tadi itu kami hanya kehabisan bahan pembicaraan jadi sama-sama diam," kilah Yusuf membuat Yasmin mengernyitkan alisnya.


"Kehabisan bahan? tumben," gumam Yasmin, dan Yusuf hanya tersenyum.


Yusuf berharap dugaan Wildan tadi benar adanya, namun ia merasa heran karena Yasmin tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kehamilannya seperti mual muntah sebagaimana yang ia rasakan saat kehamilan pertamanya


Mobil terus melaju, hingga tiba-tiba Yusuf menghentikan mobilnya sejenak. Entah apa yang terjadi padanya, tapi saat ini ia sangat bersemangat membeli rujak di pinggir jalan.


"Sayang, kamu mau rujak?" tawar Yusuf setelah kembali ke mobil dengan sebungkus rujak yang ia baru beli.


"Nggak kak, itu asem, Yasmin nggak suka," tolak Yasmin.


"Hmm? mungkin memang Yasmin belum hamil, biasanya wanita hamil itukan suka rujak," batin Yusuf lalu memasukkan rujak ke dalam mulutnya satu per satu.


"Ini enak bangat loh sayang, kamu yakin nggak mau cobain?" tawar Yusuf sekali lagi.


"Nggak kak, Yasmin nggak suka," tolak Yasmin lagi.


Yusuf kembali memakan rujak itu dengan lahap tanpa mengeluh asam.


Yasmin yang melihat Yusuf makan rujak dengan begitu nikmat akhirnya ikut merasa ingin mencobanya.


"Enak banget yah rujaknya kak?" tanya Yasmin penasaran.


"Iya enak bangat sayang,"


"Memangnya nggak asam yah?"


"Nggak kok, nih coba," Yusuf menyuapkan sepotong rujak ke dalam mulut Yasmin.


"Iiih kak, ini asam sekali," keluh Yasmin dengan wajah yang mengerut tidak karuan karena keasaman.

__ADS_1


"Nggak kok sayang, ink enak sekali," kilah Yusuf tak mau kalah.


"Astaga kak, Yasmin kira kakak juga nggak suka makanan asam kan? kok sekarang suka?"


"Ini kan nggak asam, jadi kakak suka." Yasmin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keanehan suaminya yang bermula sejak kemarin, saat Yusuf tiba-tiba mengeluh lapar tengah malam.


-


Malam hari Di Apartemen Yusuf


Yasmin sedang sibuk menyiapkan makanan di dapur, sementara Yusuf sejak tadi hanya bisa berbaring di sofa. Entah kenapa, malam ini tubuh Yusuf terasa sangat lelah.


"Kak, ayo makan malam dulu." Yasmin duduk disamping suaminya sambil mengelus rambutnya.


"Hemm sebentar yah, aku mau gini dulu beberapa menit," ujar Yusuf seraya memeluk pinggang Yasmin dengan manja.


Yasmin hanya terdiam mengikuti keinginan Yusuf, hingga beberapa menit telah berlalu.


"Kak, ayo sekarang kita makan malam dulu yah, nanti makanannya dingin loh,"


"Hmm iya sayang," sahut Yusuf lalu bangun dan berjalan beriringan dengan Yasmin tanpa melepas pelukannya.


"Sekali-kali manja sama istri kan nggak papa sayang," kilah Yusuf membuat Yasmin terkekeh.


Mereka kini duduk di meja makan untuk makan malam bersama. Namun, baru beberapa suapan Yusuf langsung berlari ke wastafel untuk memuntahkan makanannya.


"Astaghfirullah.. kakak kenapa?" tanya Yasmin khawatir sambil memijit tengkuk Yusuf.


"Nggak tahu juga sayang, rasanya perut kakak seperti tidak ingin menerima makanan lagi deh," jawab Yusuf.


"Atau jangan-jangan ini karena kakak tadi makan rujak yah?"


"Hmm nggak tahu juga sayang, mungkin memang seperti itu,"


"Ya udah. Sekarang kakak duduk dulu, biar Yasmin ambilkan air hangat." Yusuf hanya mengangguk lemah mengikuti arahan istrinya.


-


Keesokan paginya

__ADS_1


Tok tok tok


"Siapa yamg datang pagi-pagi begini?" monolog Yasmin seraya mengambil jilbannya dan pergi membuka pintu.


"Assalamu 'alaikum" ucap Ameer, Anna dan Wildan bersamaan.


"Wa'alaikum salam, eh kalian, mari masuk."


"Maaf yah Yas, kami mengganggumu pagi-pagi begini, habisnya Ameer dari tadi merengek mau kesini," terang Anna sambil memangku Ameer


"Iya nggak papa kok, kebetulan kak Yusuf juga lagi di rumah," ujar Yasmin.


"Memangnya Yusuf nggak ke rumah sakit yah?" tanya Wildan.


"Nggak kak, kak Yusuf lagi kurang sehat, sejak semalam kak Yusuf sering muntah, sekarang sedang istirahat di kamar," tutur Yasmin.


"Apa boleh aku melihatnya?" tanya Wildan.


"Boleh kok kak, silahkan,"


Wildan pun akhirnya pergi ke kamar Yusuf dan Yasmin setelah dipersilahkan.


"Assalamu 'alaikum, waduh bro malang sekali nasibmu," ucap Wildan menahan senyumnya saat melihat Yusuf terduduk diatas tempat tidur sambil menyenderkan punggungnya dibantal.


"Kalau kamu datang kesini hamya untuk menggangguku, lebih baik kamu pergi," ketus Yusuf.


"Ya ampun laki-laki ini sensi sekali. Gimana?" tanya Wildan ambigu.


"Yah seperti yang kamu lihat, aku lagi lemas," jawab Yusuf seadanya.


"Bukan kamu, tapi Yasmin, apa kamu sudah memeriksanya?" Wajah Yusuf seketika kusut mendengar perkataan Wildan.


"Astaghfirullah, teman kok nggak ada perhatian-perhatiannya sih, seharusnya aku yang kamu tanyakan dulu Udiiin," dumel Yusuf.


"Yah kamu kan masih kuat ngedumel, berarti tidak ada yang perlu di khawatirkan, kecuali kalau ka..." perkataan Wildan terpotong saat Yusuf memukulnya dengan bantal.


"Diam" tegas Yusuf, seketika Wildan langsung mengatupkan bibirnya dengan patuh.


-Bersambung-

__ADS_1


Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.


__ADS_2