
Di hotel
Waktu telah menunjukkan pukul 10.15 malam. Semua tamu sudah pulang, hanya tersisa keluarga dan kerabat dekat yang masih asik berbincang satu sama lain.
Yasmin melangkah kakinya ke kamar pengantin, malam ini ia benar-benar sudah sangat lelah. Sementara Yusuf mengekor dibelakangnya sembari menenteng gaun Yasmin yang sangat panjang dan berat.
"Luar biasa yah perjuangan wanita, sejak nikah sudah harus memikul berat gaun pengantinnya, setelah nikah harus memikul tanggung jawab sebagai istri dan juga ibu yang jauh lebih berat," celoteh Yusuf sambil berjalan dibelakang Yasmin menuju kamarnya.
Yasmin menarik bibirnya mendengar celoteh pria yang kini berstatus sebagai suaminya.
"Pria juga sama kak, saat nikah harus membantu memikul gaun pernikahan istrinya, setelah nikah harus memikul tanggung jawab sebagai pemimpin dan kepala keluarga, itu jauh lebih berat kak," timpal Yasmin membuat Yusuf mengulum senyum.
Mereka terus berjalan bersama, hingga mereka sampai di depan kamar pengantin mereka. Yusuf segera membuka pintu kamar tersebut untuk Yasmin.
"Silahkan kanjeng Ratu," canda Yusuf mempersilahkan Yasmin masuk kamar
"Terima kasih kak." Yasmin terkekeh, ia merasa lucu diperlakukan seperti itu oleh Yusuf.
"Waaah, masya Allah." Yasmin tercengang melihat kamarnya yang kini bagaikan di film-film romantis.
Bunga mawar bertaburan dimana-mana membuat kamarnya begitu wangi semerbak khas bunga mawar.
"Ini berapa banyak bunga yang mereka gunakan yah?" celetuk Yasmin membuat Yusuf tertawa lepas.
"Hahaha.. kamu itu lucu banget sih dek, biasanya kalau di film-film itu, wanitanya akan berkata 'indah sekali kamarnya' atau 'kamarnya terlihat begitu romantis' atau 'aku sangat menyukai suasana kamar ini'," gelak Yusuf membuat Yasmin hanya cengengesan.
"Ya kan aku bukan mereka kak, aku ini Yasmin loh," tukas Yasmin dengan mimik wajah serius.
"Iya iya dek.. kamu memang Yasmin, yang hanya ada satu di dunia ini, dan yang kini menjadi istriku," jelas Yusuf membuat Yasmin tersipu malu.
"Kalau lihat kakak seperti ini, kakak sama sekali tidak kaku yah," ujar Yasmin membuat Yusuf mengernyit bingung.
"Kaku?"
__ADS_1
"Iya kaku, kata Ummi dan tante Rina, kakak itu orangnya dingin dan kaku sama wanita, tapi kok aku nggak pernah merasakan sikap dingin dan kaku kakak yah?" terang Yasmin.
Yusuf tersenyum sembari berjalan mendekati Yasmin, "karena kamu wanita pertama yang berhasil mengetuk pintu hatiku dan juga mampu menghangatkan sikap dinginku," jawab Yusuf yang kini jaraknya hanya tinggal beberapa centimeter saja dari Yasmin.
Wajah Yasmin tampak merona merah dan salah tingkah mendengar jawaban Yusuf dan berada sedekat itu dengan Yusuf.
"Kak... bantu aku yah lepasin ini." Yasmin menunjuk mahkota adat Bugis yang masih menempel di kepalanya yang tertutup jilbab. Ia ingin mengalihkan pembicaraannya dengan Yusuf yang sejak tadi membuat jantungnya seakan ingin melompat keluar.
"Oke dek." Yusuf mulai mencabut satu per satu jarum pentul yang membantu mahkota tersebut melekat kuat di jilbab Yasmin.
Setelah melepas mahkota yang dikenakan Yasmin, Yusuf kini beralih membuka baju adat yang ia kenakan. Sementara Yasmin lanjut membuka aksesoris yang masih menghiasi bajunya.
"Dek, kamu mau masuk duluan ke kamar mandi?" tanya Yusuf.
"Kakak duluan aja, aku masih mau membersihkan make up dulu," jawab Yasmin.
Tak lama kemudian, Yusuf keluar dari kamar mandi setelah mandi dan berganti pakaian, ia mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk ditangannya.
Yusuf mendekat lalu menaikkan rahang Yasmin yang masih menganga saat melihat Yusuf hingga bibirnya menutup kembali, " Awas dek, nanti ilernya turun loh," lanjutnya menahan tawa.
Yasmin yang baru sadar kini wajahnya memerah bak kepiting rebus karena merasa sangat malu.
"Aku ke kamar mandi dulu," kata Yasmin lalu berlari cepat ke kamar mandi.
Yusuf tertawa lepas melihat tingkah istri kecilnya yang sangat mengemaskan di matanya.
-
Sementara di kamar lain, Wildan sedang guling-guling diatas kasur. Ia merasa sangat bahagia malam ini.
"Hah... ternyata begini yah rasanya kalau lamaran di terima, kalau tahu rasanya lamaran diterima itu sebahagia ini, pasti dari dulu udah ku lamar Anna."
Wildan kembali hendak berguling, lalu berhenti, "tapi kalau dulu aku lamar dia, apa dia akan menerimaku yah?...
__ADS_1
ah yang penting sekarang dia calon istriku, alhamdulillah," gumamnya lagi lalu melanjutkan kembali guling-gulingnya hingga selimut dan seprei tidak berbentuk lagi.
*Flashback*
"Hmm.. Maaf Wildan." Anna menunduk, "apakah pantas menurutmu menikahi wanita sepertiku yang dulu pernah menyakitimu?" lanjut Anna.
"Memangnya kenapa Ann? toh kamu juga sudah minta maaf dan aku jelas sudah sudah memaafkanmu, jadi apa masalahnya?" Pertanyaan Wildan lagi-lagi membuat Anna bingung harus menjawab apa.
Anna kembali terdiam.
"Jika kamu belum bisa menjawab sekarang, nggak papa aku bisa kasi kamu waktu berpikir... atau jika kamu memang tidak mau, aku juga tidak akan memaksamu," tutur Wildan harap-harap cemas menanti jawaban Anna.
"Aku...aku...mau kak," jawab Anna malu-malu.
Senyum diwajah Wildan langsung merekah mendengar jawaban Anna.
"Kamu serius Ann? apa kamu yakin?" tanya Wildan ingin memastikan.
Anna mengangguk, "aku yakin kak," lanjutnya sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, Ibu akhirnya." Wildan memeluk Ibu Sukma sangat bahagia.
"Iya nak, alhamdulillah.. selamat yah nak," ucap Ibu Sukma sambil mengusap punggung putranya yang masih memeluknya.
"Terima kasih banyak Anna." ucap Wildan setelah melepas pelukannya dari sang Ibu, ia benar-benar tak mampu lagi menyembunyikan raut wajah bahagianya.
"Iya." Anna tersenyum melihat respon Wildan setelah ia menerimanya. Sebenarnya, Wildan memang sudah ada di dalam hati Anna, namun ia baru menyadarinya setelah kepergian Wildan. Kini ia sangat bersyukur karena perasaannya terbalaskan.
*Flashback off*
-Bersambung-
Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.
__ADS_1