
"Hey Will, sabar saja, Ameer itu masih kecil, mana tahu dia arti brewok bagimu," ujar Yusuf sedikit menahan tawanya.
"Hufth.." Wildan menghembuskan nafasnya kasar.
"Ada hal apa kamu datang kesini Yus?" tanya Wildan akhirnya.
"Biasaa, Yasmin kangen sama Anna, maunya makan bareng terus curhat," terang Yusuf.
"Benarkah? akhir-akhir ini aku lihat Yasmin mulai begitu lagi," kata Wildan membuat Yusuf mengernyitkan alisnya.
"Mulai begitu lagi? maksudmu?" tanya Yusuf dan Wildan menjawab dengan kode mata.
Mereka terdiam beberapa saat sambil bertatapan, hingga akhirnya Yusuf mulai memahami maksud Wildan.
"Aku harus memeriksanya langsung," kata Yusuf hendak beranjak.
"Hey tunggu dulu! jangan sekarang, biarkan dia menikmati Qtimenya bersama Anna, jika kamu pergi memeriksanya sekarang dan kemudian hasilnya tidak seperti yang kau harapkan, tentu dia akan sedih dan merasa tidak enak padamu." terang Wildan.
"Benar juga katamu Wil, kasihan juga Yasmin yang sudah lama menginginkan hamil kembali" kata Yusuf lesu, ia mengingat bagaimana tatapan sendu Yasmin saat ada yang menanyakan anak padanya.
Merekapun akhirnya terdiam bersama Ameer yang sejak tadi memperhatikan pembicaraan mereka.
-
"Kamu kenapa Ann?" tanya Yasmin pada Anna yang sejak tadi seperti ingin mengatakan sesuatu.
Saat ini, mereka berdua sedang menikmati Qtime berdua. Jika para suami dan anak sedang bersama di belakang rumah, maka Yasmin dan Anna sedang berada di taman depan rumah yang sejuk karena banyak bunga-bunga.
"Aku ingin melanjutkan kuliahku Yas, tapi aku bingung bagaimana mau mengatakannya pada bang Wildan," ujar Anna dengan raut wajah lesu.
__ADS_1
"Kenapa tidak mengatakannya langsung saja Ann?" tanya Yasmin heran.
"Aku pernah mengatakan maksudku secara tidak langsung saat usia Ameer masih 2 tahun, tapi bang Wildan bilang fokus saja dulu mengurus dan mendidik Ameer," Yasmin mengerutkan dahinya.
"Apa yang kamu katakan saat itu?" tanya Yasmin penasaran
*Flashback*
Pagi itu, Anna, Wildan dan Ameer baru saja pulang dari rumah sakit memeriksa kesehatan Ameer, sebab tadi malam Ameer sempat demam tinggi. Namun dokter mengatakan bahwa Ameer hanya terkena dampak dari perubahan cuaca, jadi cukup beristirahat di rumah dan minum obat bisa sembuh.
Namun saat dijalan, Anna melihat sekumpulan mahasiswa sedang melakukan kegiatan di depan kampus mereka.
"Bang, lihat para mahasiswa itu, aku jadi kangen dengan masa-masa kuliah dulu," Wildan tersenyum tipis mendengar sindiran halus sang istri.
"Iya, jadi mahasiswa memang seru, tapi untuk saat ini sepertinya kamu harus fokus dengan Ameer, lihat tuh, dia masih sangat lemas," tukas Wildan sembari menunjuk menggunakan tatapan matanya, Ameer yang saat ini sedang tertidur dipangkuan Anna.
*Flashback off*
"Mungkin kak Wildan menanggapi seperti itu karena saat itu Ameer sedang sakit dan memang masih kecil, coba kamu bicarakan baik-baik kembali, dan nggak usah pake bahasa sindiran," papar Yasmin.
"Begitu yah? ya udah nanti aku cari waktu yang tepat aja kalau begitu," gumam Anna sembari menyeruput teh aroma melati kesukaannya.
"Ann.. kalau dipikir-pikir, masalah kita hampir sama, bukan tentang apa masalahnya sih tapi lebih ke siapa," tutur Yasmin tersenyum samar.
"Maksud kamu apa Yas?"
"Maksudku, kalau kamu lagi bingung meminta izin kepada suamimu untuk kuliah, maka aku juga lagi bingung menghadapi suamiku dan mertuaku karena sampai sekarang belum hamil juga," terang Yasmin sendu.
Anna tentu merasa sedih dengan kondisi sahabatnya itu.
__ADS_1
"Yang sabar yah Yas, aku yakin kok suatu saat nanti kamu akan mendapat kabar gembira itu," ujar Anna mengusap punggung Yasmin.
"Aamiiin.. semoga saja Ann, jujur aku sangat tidak enak hati tiap kali jalan bersama kak Yusuf tiba-tiba ada temannya yang menanyakan perihal anak, yaa meski kak Yusuf maupun mertuaku tak pernah mempermasalahkannya, tapi aku sebagai wanita, istri dan menantu tentu merasa seperti ada beban berat dihatiku."
Anna hanya diam mendengarkan keluh kesah sang sahabat, 'seandainya saja saat itu Allah menghendaki Yasmin tidak keguguran, mungkin saat ini Ameer punya teman bermain dan Yasmin tak perlu bersedih hati seperti ini', begitulah yang dipikirkan Anna saat.
"Astaghfirullah apa yang ku pikirkan, tidak boleh berandai-andai, itu sama saja tidak menerima takdir Allah," batin Anna lalu mengusap kasar wajahnya.
"Yasmin, daripada kita bermuram durja disini, mending kita ikut para suami kita ke belakang, siapa tahu mereka sedang berdebat, kan seru kalau lihat mereka berdebat," ajak Anna membuat Yasmin tersenyum sembari mengaggukkan kepalanya.
Namun, apa yang mereka sangkakan ternyata tidak benar, Yusuf dan Wildan justru nampak saling diam satu sama lain, begitupun dengan Ameer yang duduk ditengah mereka seperti ikut memikirkan apa yang pria dewasa itu pikirkan.
"Ekheeem.." Lamunan Yusuf dan Wildan serta Ameer seketika langsung buyar.
"Ada apa? apa kalian bertengkar?" tanya Yasmin penasaran karena tidak biasanya mereka saling diam.
"Sayang, pulang yuk," ajak Yusuf.
"Kenapa? kok tiba-tiba?"
Tanpa menjawab, Yusuf lalu menarik tangan Yasmin dengan lembut.
"Kalau gitu kami pulang dulu, Assalamu 'alaikum," pamit Yasmin sambil berjalan karena sudah ditarik Yusuf.
"Wa'alaikum salam," jawab Anna dan Wildan bersamaan.
"Kalian bertengkar?" tanya Anna heran.
Wildan dan Ameer saling berpandangan sebentar kemudian beralih menatap Anna sambil mengedihkan bahu bersamaan.
__ADS_1
-Bersambung-
Yuk dukung karya author dengan like, koment dan vote novel ini agar author lebih semangat lagi update cerita selanjutnya.